Kumbayana Maneges

Pendita Durna protes keras, karena SBG sengaja lakukan kriminalisasi bidadari terhadap Dewi Wilutama.

SEBETULNYA kasusnya jauh lebih lama dari kasus wartawan Udin di Yogyakarta. Bila pembunuhan wartawan ”Bernas” itu terjadi 21 tahun lalu, kasus yang membelit Dewi Wilutama sudah lebih dari 30 tahun, seusia Aswatama lebih sedikit. Tapi entah kenapa, kahyangan Jonggring Salaka baru kali ini mengangkat lagi kasus tersebut. Mungkin ada desakan dari Sanghyang Wenang di Ngondar-andir Bawana, atau SBG (Sanghyang Bethara Guru) memang sedang bolong silite (baca: berkenan).

Dewi Wilutama sesungguhnya bidadari berkelas di kahyangan. Merasa tercantik dari para bidadari cantik, dia paling gila bersolek. Baju-baju yang dikenakan cenderung mewah, termasuk segala asesorisnya. Semua made in luar kahyangan, seperti Singapura, Jepang, Prancis dan Swiss. Mentang-mentang bisa dibayar kartu kredit, sekali shoping ke manca negara Wilutama bisa habiskan Rp 2 miliar. Bayangkan, tas di Tanggulangin Sidoarjo Rp 500 ribu sudah bagus, dia beli yang merk Hermes seharga Rp 500 juta.

”Tas begitu mahal dibeli, buat apa Mbak?” tanya bidadari Dewi Irim-irim.

”Lho saya kan bidadari tercantik, harus tampil beda dong. Pakai tas dari Pasar Inpres, kulitku bisa alergi.” jawab Dewi Wilutama jumawa sekali.

Itulah pangkal masalah yang membelit Dewi Wilutama. Gara-gara bidadari kahyangan pada hobi dandan, anggaran Darma Pertiwi Jonggring Salaka nyaris jebol. Dewi Wilutama sebagai pelopornya langsung kena hukuman SBG, dideportasi dari kahyangan dan harus turun ke bumi. Tambah berat sanksi untuk bidadari pesolek ini, dia juga dikutuk SBG menjadi kuda betina. Karena berbentuk kuda, meski Wilutama telanjang bulat, sama sekali tak ada yang tertarik.

Beruntung kuda Wilutama bisa terbang sehingga ada tawaran model iklan dari pabrik cat. Dalam wujudnya sekarang dia sungguh malu dan sedih. Mau turun ke bumi bagian mana? Jika jatuhnya di Pasar Minggu, bakal dimanfaatkan orang  buat narik sado atau delman. Jika mendarat di Mabes TNI, paling-paling dimasukkan ke divisi kavaleri. Tapi pasukan berkuda TNI apa ada kuda betinanya?

”Duh dewa yang agung, siapa bisa seberangkan aku? Jika laki-laki akan kuanggap saudara, jika perempuan akan kuperistri,” ratap seorang ksatria muda di pesisir pantai daerah Ngatasangin.

Kebetulan kuda Wilutama mendengar ratapan tersebut. Kenapa tidak naik kapal atau pesawat saja untuk menyeberang? Rupanya, anak muda ini biar ganteng tapi bokek. Iba dengan problem yang dihadapi lelaki itu, kuda terbang Wilutama langsung mendarat dan mendekati sang ksatria muda.

Ternyata anak muda ini Bambang Kumbayana yang hendak pergi ke Pancala, cari kerja pada sahabatnya, Prabu Drupada. Dewi Wilutama mengingatkan, agar membatalkan saja niatnya itu. Sebab di Pancala dewasa ini tengah digalakkan Operasi Biduk (bina penduduk), yakni menertibkan wajah-wajah baru setelah Lebaran usai. Penduduk baru tanpa ketrampilan akan segera dikembalikan ke daerah asal.

”Kamu mending pulang saja Dik. Kalau ketangkep Satpol PP, sampeyan dikembalikan ke Ngatasangin, naik truk sampah,” kata kuda Wilutama menakut-nakuti.

”Tapi saya kan punya keahlian memanah. Nanti di sana saya akan buka kursus memanah sistem 50 jam. Saya takkan terlantar di negeri orang.” jamin Kumbayana.

Karena Bambang Kumbayana tetap ngotot alkhotot untuk bisa masuk Pancala, Kuda Wilutama tak bisa lagi menolak. Urusan elo dah itu semua! Akhirnya Wilutama siap menerbangkan Kumbayana ke negara tujuan asalkan janjinya tidak mencla-mencle macam politisi.

”Terbangnya jangan kenceng-kenceng, saya baru kali ini naik kuda terbang,” pesan Kumbayana serius.

”Tapi bener lho ya? Kalau sampai ingkar janji, awas!” ancam kuda Wilutama.

Kuda Wilutama melesat terbang menuju negri Pancala, dengan kecepatan 100 Km/perjam, tapi menjadi hanya 20 Km/jam di atas Mabes TNI Cilangkap. Lebih baik taati aturan ketimbang nantinya dihukum push up.

Selama dalam penerbangan 2000 meter DPL (Di atas Permukaan Laut), Kumbayana merasa kedinginan. Posisi duduknya pun mundur-mundur, dan nyangkut. Ketika sedang ”enak-enak”-nya tahu-tahu sudah sampai di Pancala. Paling mengejutkan, kuda Wilutama tiba-tiba melahirkan bayi lelaki, dan terus ditinggal terbang lagi.

”Rawat anak ini baik-baik, dan sampeyan sebaiknya ganti nama jadi Durna, alias mundur-mundur akhirnya kena.” kata kuda Wilutama sebelum take of.

”Nyakitin kata-katamu itu, tapi saya memang harus realistis.” jawab Durna.

Berita skandal Wilutama-Kumbayana ternyata menjadi viral di medsos dan terdengar juga oleh penguasa Jonggring Salaka. Kelakuan Wilutama yang demikian telah membuat kahyangan murka. Sedang menjalani hukuman dalam bentuk kuda bukannya memperbaiki perilaku, malah selingkuh dengan manusia biasa. Dasar kuda gatel!

”Kakang Narada, Wilutama harus dimasukkan ke kawah Candradimuka,” kata SBG kepada patih Kahyangan.

”Tapi jangan sekarang Adi Guru. Ini kan baru usai Lebaran, ini kebijakan tidak populer dan tak pro rakyat,” kata Patih Narada mengingatkan.

Skandal Wilutama – Kumbayana pun dipending. Karena demikian banyaknya urusan SBG di Bale Marcakunda, skandal Dewi Wilutama jadi terlupakan. Untungnya setelah berpuluh-puluh tahun mengendap, tiba-tiba SBG diingatkan oleh Sanghyang Wenang, tentang utang perkara tersebut. File perkara ”kuda gatel” itu segera dicari kembali. Maka SBG segera mengumumkan bahwa Dewi Wilutama menjadi tersangka dan bila perkaranya sudah inkracht siap dicemplungkan ke Kawah Candradimuka.

Karena kasus ini juga diposting di dunia internet, Bambang Kumbayana yang kini sudah menjadi Begawan Durna, terkejut bukan kepalang. Masak bekas istrinya mau dihukum masuk neraka versi perwayangan. Dia minta dukungan keluarga Ngastina – Pandawa, agar hukuman untuk Dewi Wilutama dibatalkan.

”Kalau perlu anak-anak Kurawa dan Pendawa harus dikerahkan untuk menggelar demo berjilid-jilid. Turunkan 7 juta wayang untuk bela Wilutama.” usul Pendita Durna pada Prabu Duryudana.

”Tujuh juta dari Hongkong? Wayang sekotak itu paling banyak 500 biji.” potong Patih Sengkuni yang baru pulang umrah.

Pendawa dan Ngastina sudah mendesak Jonggring Salaka, agar Dewi Wilutama dibebaskan dari segala tuduhan, dan kriminalisasi bidadari harus dihentikan. Sedangkan  Pendita Durna menyibukkan diri tirakatan atau maneges di padepokan Sokalima, minta keadilan para dewa. Tapi ternyata cara ini dikritik oleh Aswatama anak Durna dari Dewi Wilutama tersebut. Katanya, sebagai begawan yang tidak bersih, jika sekedar berdoa dan tirakatan, tak bakalan diterima oleh dewa.

”Mending bapak gugat ke kahyangan saja, pakai pengacara Yusril.” saran Aswatama.

”Gugat, gugat, pengacaranya siapa yang bayar?”

Dipikir-pikir, benar juga kata Aswatama. Karenanya Begawan Durna segera menghentikan laku semedinya, dan langsung berangkat ke Jonggring Salaka. Itupun setelah memperoleh ”surat sakti” dari Prabu Kresna yang titisan Betara Wisnu.  Tiba di Bale Marcakunda ternyata Dewi Wilutama sedang diperiksa SBG dan Narada dalam posisi tangan diborgol.

”Saya protes pukulun. Ini kan kasus sudah lama sekali, kenapa baru diangkat sekarang. Jangan ada politisasi hukum.” protes Durna sambil berkacak pinggang.

”Sori Begawan Durna, kami kan sekedar menjalankan undang-undang.” jawab SBG mencoba berkelit.

Membaca ”surat sakti” yang dibawa Begawan Durna, SBG-Narada saling pandang, pertimbangkan amnesti dan abolisi sampai dobol juga takkan ketemu. Ah, bodo amat dengan tuduhan intervensi hukum. Berkat tekanan publik, Wilutama batal diceburkan ke kawah Candradimuka, dan hukuman diubah menjadi seumur hidup. Karena di Jonggring Salaka tak ada penjara wanita, dia dititipkan ke LP Pondok Bambu, bareng satu sel dengan Angelina Sondakh dan Ratu Atut Khosiah. (Ki Guna Watoncarita)

 

 

 

 

 

 

Advertisement