JAKARTA, KBKNEWS.id – Iduladha 1446 H pada 2025 lalu menjadi momen yang berbeda bagi masyarakat Sumatera Barat, di tengah duka pascabencana yang masih menyelimuti wargad di sana.
Tahun lalu, di Kabupaten Tanah Datar dan Agam, Dompet Dhuafa hadir membawa harapan melalui penyaluran hewan kurban ke wilayah terdampak.
Program Tebar Hewan Kurban (THK) tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga menjadi simbol kepedulian. Kehadiran daging kurban di tengah kondisi sulit memberikan pesan sederhana namun kuat, jika para penyintas tidak sendiri.
Sejak banjir lahar dingin (galodo) menerjang kawasan Gunung Marapi pada Mei 2024, trauma masih terasa di tengah masyarakat. Karena itu, distribusi kurban menjadi upaya untuk menghadirkan kebahagiaan sekaligus menguatkan mental para penyintas di Hari Raya.
Kisah serupa juga datang dari Desa Boru, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Pada Hari Tasyrik pertama Iduladha 2025, suasana pagi dipenuhi gema takbir dan aktivitas persiapan kurban. Di tengah keterbatasan akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki, para penyintas seperti Sri dan Mama Isya merasakan kebahagiaan sederhana dari bantuan tersebut.
Sri, yang rumahnya rusak akibat erupsi, mengaku daging kurban menjadi berkah besar bagi keluarganya. Kondisi rumah yang tak lagi layak huni membuat kebutuhan pangan menjadi semakin sulit dipenuhi.
Hal senada dirasakan Mama Isya, seorang lansia yang tinggal seorang diri. Baginya, perhatian yang diberikan—hingga daging kurban diantar langsung ke rumah—menjadi bentuk kepedulian yang sangat berarti.
Distribusi kurban ini juga didukung oleh pegiat sosial Rahmi Syofia atau Mimi Campervan Girl. Melalui kampanye di media sosial, ia berhasil mengajak 28 orang untuk berkurban. Dari inisiatif tersebut, terkumpul 5 sapi dan 9 kambing yang disalurkan ke tiga desa di Flores Timur.
Secara keseluruhan, program THK di NTT berhasil mendistribusikan 128 sapi dan 50 kambing, menjangkau 15 kabupaten dari Kupang hingga Manggarai Barat.
Meski hingga kini masyarakat di Kecamatan Wulanggitang masih hidup dalam kewaspadaan akibat status Gunung Lewotobi yang siaga, kehadiran kurban memberikan kekuatan tambahan untuk bertahan.
Di tengah ketidakpastian, kurban menjadi lebih dari sekadar ibadah, tapi hadir sebagai sumber harapan dan penguat solidaritas kemanusiaan.





