Lambangkara

Patih Lambangkara menculik Prabu Puntadewa dengan alasan akan menerima gelar Humoris Causa.

PRABU Dewalengkara dari negri Tabelaretna sedang pusing tujuh keliling. Soalnya, nggak ada angin nggak ada hujan mendadak namanya dikait-kaitkan dengan Proyek e-KTP. Katanya, korupsi Rp 2,3 triliun dari dana e-KTP senilai Rp 5,9 trilyun itu bisa terjadi akibat dia yang menjadi dalang permainannya. Katanya, Prabu Dewalengkara masuk dalam dakwaan sidang Tipikor, karena telah menerima Rp 500 miliar lebih.

Proyek e-KTP itu sesungguhnya terjadi di kahyangan Jonggringsalaka. Prabu Dewalengkara bisa terbawa-bawa karena dia punya hubungan dekat dengan Betara Endro. Dalam dakwaan itu disebutkan, raja Tabelaretna tersebut telah menghubungkan Betara Endro dengan Edi Cileungsi, pemilik percetakan.

“Ini bagaimana, Gog? Saya hanya terima Rp 50 juta, itupun sebagai honor penyuluhan e-KTP ke berbagai daerah. Katanya itu uang korupsi. Ini aturan dari mana?” keluh Prabu Dewalengkara saat curhat pada punakawan Togog.

“Ya aturan negeri korup. Salah sampeyan sendiri mau kerjasama dengan Betara Endro. Mending akrab engan Endro Warkop, malah dapat job melawak.” jawab Togog seenaknya. Sama sekali tak ada empati pada sang boss.

Malam hari, di tengah tidurnya yang tidak bisa nyenyak, Prabu Dewalengkara bermimpi bahwa kasus yang membelit dirinya bisa diselesaikan dengan tumbal kepala Prabu Puntadewa dari negeri Ngamarta. Bila bumi negeri Tabelaretna telah tersiram oleh darah putih Prabu Puntadewa, otomatis nama Prabu Dewalengkara akan terhapus dari dakwaan dalam sidang Tipikor.

Yakin akan firasat mimpi tersebut, Prabu Dewalengkara segera panggil Patih Lambangkara untuk menjadi duta negara ke Ngamarta untuk menculik Prabu Puntadewa. Kayaknya ini bakal sukses, sebab menurut data-data yang diunduh di Mbah Google, Prabu Puntadewa itu orangnya gampang, mudah dilobi. Jika ada penolakan pasti bukan dari raja Ngamarta itu sendiri, tapi para juru pembisik di sekitarnya.

“Hari ini juga, kamu saya perintahkan ke Ngamarta. Culik Prabu Puntadewa, lalu di sini kepalanya kita jadikan tumbal negara.” Instruksi Prabu Dewalengkara.

“Mbok jangan sekarang, Boss. Di Amarta kini baru rame soal isyu penculikan anak. Sampai-sampai orang gila pun ditangkap dan diintimidasi karena dituduh jadi penculik….,” Patih Lambangkara memberi masukan.

“Lho, itu kan penculikan anak-anak. Yang harus kamu culik kan orang dewasa, jadi nggak masuk kriteria dong!”

Begitulah model Prabu Dewalengkara, jika ngomong tak mau kalah dan pantang didebat. Di negeri Tabelaretna rakyat memang tak boleh banyak bicara. Tidak bebas mengeluarkan pendapat. Barang siapa berani mengeluarkan pendapat, bisa kehilangan pendapatan. Pernah ada lho, seorang saksi ahli dipecat gara-gara dia berpendapat menguntungkan terdakwa. Repot kan, kehilangan pendapatan akibat mengeluarkan pendapat.

Ada juga sisi buruk lain Prabu Dewalengkara ini. Dia banyak ide-idenya tapi tak mau keluar duit. Kalau orang bilang Prabu Dewalengkara pelit, itu karena terkait sumpah jabatan dulu. Saat dilantik kan dia mengucapkan kata-kata di bawah Kitab Suci:  saya bersumpah, takkan memberi atau menerima apapun dari siapapun, dalam bentuk apapun, dengan alasan apapun.

Singkat cerita, Patih Lambangkara tengah malam telah tiba di negeri Ngamarta. Ternyata penjagaan di sini tidak terlalu ketat. Sampai dia masuk ke ruang peraduan Prabu Darmakesuma, tak satupun ketemu Satpam, apa lagi Satpol PP. Walhasil, dengan mudahnya dia masuk ke kamar peraduan sang raja. Dan ternyata, Prabu Puntadewa selalu tidur sendirian, nggelar karpet. Hanya Drupadi saja yang tidur di ranjang.

“Gusti, Gusti, bangun. Sudah salat Isya belum?” ujar Lambangkara sekedar mengetes medan.

Tak ada jawaban, kecuali suara dengkur yang makin keras. Yakin bahwa Sang Prabu tidur pules, Patih Lambangkara bermaksud memboyongnya ke Tabelaretna dalam kondisi hidup-hidup. Maka katanya kemudian, “Maafkan Gusti, paduka mau saya….. hoeeek, hoeeek, hoeeeek…….”

Mendadak Patih Lambangkara muntah darah dan pingsan, apalagi dari rumah memang belum sarapan. Tepat pukul 02.00 Prabu Puntadewa terjaga. Biasa, dia mau salat malam. Tapi demi melihat darah berceceran, sementara ada orang asing ada dalam kamarnya, dia tahu yang baru saja terjadi. Dengan ilmu kesaktianya, Patih Lambangkara dibangunkan dan kembali sehat.

“Bangun, bangun. Jangan tidur di lantai, nanti mangsuk angin.” Kata Prabu Puntadewa sambil menggoyang-goyang tubuh Patih Lambangkara.

“Aduh, ampun Gusti, ampun. Saya mohon maaf lahir batin…..” ujar Patih Lambangkara setelah siuman, dan terus mencium kaki Prabu Puntadewa.

“Wah, Lebaran masih 3 bulan lagi tuh……”

Orang tak dikenal masuk ke dalam kamar raja, bisa dikategorikan tindak subversi, dengan ancaman hukuman mati. Tapi karena Prabu Darmokesuma memang berbudi bawa leksana, malam itu juga Patih Lambangkara diberikan grasi, dibebaskan dari tuntutan hukuman. Bukan karena barter politik, tapi atas dasar kemanusiaan belaka.

Atas pandangon (pertanyaan) Prabu Puntadewa, Patih Lambangkara segera bercerita maksud kedatangannya secara slonong boi. Dengan memutar-balikkan fakta tentunya, dia bilang bahwa Prabu Darmokesuma diundang ke Tabelaretno untuk memperoleh gelar doktor Humoris Causa. Soalnya, sisi-sisi kehidupan raja Ngamarta ini memang banyak yang lucu. Di antaranya, istri diminta pun diberikan, meski nantinya cari lagi yang lebih pulen, tentunya.

“Saya perlu pidato ilmiah nggak?”

“Nggak usah, Sinuwun. Cukup beri kata sambutan ala kadarnya saja.”

Menjelang subuh  Prabu Puntadewa diboyong ke Tabelaretna. Dikiranya naik Garuda atau Citilink, ternyata cuma ngethapel di punggung Patih Lambangkara. Untung saja Puntadewa itu seperti Presiden Jokowi, naik kendaraan apapun tak masalah. Mercy 600 oke, Esemka juga bisa. Dan ternyata, penerbangan “Punggung Airlines” ini cepat juga. Tepat pukul 06.00 waktu Tabelaretna, Prabu Puntadewa – Patih Lambangkara telah mendarat dengan mulus.

Istirahat sejenak sambil minum kopi, pukul 08.00 Prabu Puntadewa dibawa menghadap Prabu Dewalengkara. Bayangan raja Ngamarta ini meleset. Dikiranya pertemuan itu disaksikan civitas academica sebuah perguruan tinggi, ternyata hanya bersama tokoh-tokoh kacangan dan politisi tak jelas dari negeri itu.

“Mana penganugerahan gelar doktor Humoris Causa itu?” Prabu Puntadewa bertanya.

“Maaf, paduka. Di negeri ini perguruan tinggi baru dalam status terdengar, jadi belum layak memberikan gelar apapun pada para ahli…,” jawab Prabu Dewalengkara.

Lalu? Kehadirannya ke sini ternyata sekedar mau dijadikan bekakak (tumbal), alias dibunuh. Sebab sebagaimana pangsit –wangsit itu campuran bakso– dewa, darah putih Prabu Darmokesuma berkhasiat untuk penolak bala negeri Tabelaretna, sehingga mampu membuang sial nasib Prabu Dewalengkara dalam kasus e-KTP.

“Jadi saya ini diculik, to?” Prabu Puntadewa bertanya.

“Lha iya, memangnya studi banding? Sampeyan kan bukan anggota DPR.”

Tanpa menunggu waktu, Prabu Puntadewa langsung dibawa ke sebuah ruangan khusus untuk eksekusi. Sebagai permintaan terakhir, raja Ngamarta itu minta nanti jenazahnya boleh disalatkan siapa saja, tak peduli pendukung Anies maupun Ahok.

Ternyata, semua senjata tak satupun yang mempan melukai tubuhnya. Dan saat setetes darah keluar dari luka di tubuh Sang Prabu, mendadak raja Ngamarta ini berubah jadi Dewa Amral, raksasa hibrida. Prabu Dewalengkara hanya diinjak dengan kakinya langsung wasalam, mecedel. Patih Lambangkara idem dito, sekali banting menyusul ke alam baka.

Saat sadar dari kemarahan, Gatutkaca telah datang menjemput. Dewa Amral kembali ke wujud aslinya, Prabu Puntadewa. Keduanya kembali ke Ngamarta. Untuk kedua kalinya Prabu Puntadewa ngethapel di punggung . Cuma tadi berbau apek, kini punggung Gatutkaca berbau wangi lantaran selalu pakai Aja Rono. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement