Langkah Catur Pemerintah Amankan Energi: Cari Sumber Minyak Baru di Luar Timur Tengah

Menteri Bahlil menyebut pemerintah berhasil mengidentifikasi sumber impor minyak mentah (crude) alternatif selain dari Timur Tengah. (Foto: ilust Pixabay)

JAKARTA, KBKNews.id – Di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, Pemerintah Indonesia bergerak cepat untuk membentengi ketahanan energi nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi Indonesia telah berhasil mengidentifikasi sumber impor minyak mentah (crude) alternatif guna mengurangi ketergantungan pada wilayah yang sedang bergejolak tersebut.

Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk mitigasi risiko agar rantai pasok energi dalam negeri tetap terjaga meski kondisi geopolitik global sedang tidak menentu.

Diversifikasi Pemasok demi Stabilitas Nasional

Selama ini, sekitar 20 persen kebutuhan minyak mentah Indonesia dipasok dari negara-negara di Timur Tengah. Menyadari risiko gangguan distribusi akibat perang yang tak kunjung mereda, pemerintah mulai melirik wilayah produsen lain untuk memastikan kilang-kilang di tanah air tetap beroperasi maksimal.

Meski demikian, Bahlil masih menyimpan rapat identitas negara mana yang akan menjadi mitra baru dalam pengadaan emas hitam tersebut. Ia hanya memastikan proses pencarian sumber alternatif telah membuahkan hasil.

“Saya sampaikan ulangi lagi, impor crude kita dari Middle East itu 20 persen dan sekarang kami sudah menemukan sumber crude baru selain dari Middle East. Tolong jangan tanyakan lagi dari mana, yang jelas insya Allah semuanya ada,” tegas Bahlil saat ditemui usai pertemuan di Kemenko Perekonomian, Jumat (27/3).

Jaminan Stok BBM di Atas Standar

Pemerintah mengimbau masyarakat agar tidak terhasut isu kelangkaan akibat situasi global. Menurut evaluasi terbaru, ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri saat ini berada pada posisi yang sangat solid dan berada di atas ambang batas cadangan minimal nasional.

Ketahanan stok ini dinilai cukup untuk melayani kebutuhan masyarakat dalam jangka waktu yang aman.

“Jadi stok BBM kita, insya Allah, dalam kondisi yang aman, standar minimal memenuhi syarat,” tambah Bahlil meyakinkan.

Tantangan Besar di Sektor Gas (LPG)

Meskipun sektor minyak mentah relatif terkendali, pemerintah memberikan catatan khusus pada komoditas Liquefied Petroleum Gas (LPG). Berbeda dengan minyak, ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG masih sangat tinggi, yakni menyentuh angka 70 persen.

Tingginya angka impor ini membuat pasokan gas lebih rentan terhadap fluktuasi harga global dan hambatan distribusi internasional. Oleh karena itu, Bahlil menekankan perlunya efisiensi penggunaan energi di tingkat konsumen.

“LPG yang kita harus butuh effort bersama-sama dan ini harus kita, saya menyarankan kepada masyarakat untuk kita bijaksana dalam memakai LPG,” pungkasnya.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here