Lansia Sehat Bukan Sekadar Olahraga

Direktur Pelayanan Kesehatan Rentan Kemenkes, dr Imran Pambudi

Thailand dan Indonesia sedang menghadapi tantangan penuaan penduduk yang serupa: populasi lanjut usia bertambah cepat di tengah perubahan sosial dan ekonomi, sementara pola hidup modern meningkatkan risiko penyakit tidak menular.

Temuan dari studi longitudinal nasional Health, Aging, and Retirement in Thailand (HART) yang dipimpin oleh Dr. Shahmir H. Ali menunjukkan bahwa beban penyakit kardiovaskular meningkat antara 2015 dan 2022, namun pola kenaikannya tidak merata di seluruh wilayah.

Analisis terhadap lebih dari delapan ribu orang dewasa berusia 45 tahun ke atas memperlihatkan satu pesan penting: “risiko penyakit jantung tidak ditentukan oleh satu kebiasaan buruk saja, melainkan oleh akumulasi beberapa perilaku tidak sehat yang saling berinteraksi”.

Di sisi lain, Indonesia telah membangun infrastruktur skrining yang luas melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang menggabungkan akses digital dan layanan primer untuk menjangkau seluruh siklus hidup, termasuk lansia, sehingga menyediakan peluang nyata untuk menerapkan intervensi pencegahan yang lebih terintegrasi.

Hasil CKG pada kelompok lansia menunjukkan capaian besar sekaligus tantangan klinis yang nyata. CKG dilakukan pada 6 juta lansia, atau sekitar 35,5% dari target 16,9 juta lansia, sehingga program ini sudah menjangkau sebagian besar populasi lanjut usia namun masih perlu diperluas untuk mencapai cakupan penuh.

Temuan geriatri dari skrining ini mengungkapkan beban masalah fungsional dan kognitif yang signifikan: dari pemeriksaan SKILAS mobilitas sebanyak 1.579.475 orang, ditemukan 1.020.936 kasus gangguan mobilitas; dari 992.277 pemeriksaan SKILAS kognitif, 339.559 orang menunjukkan gangguan kognitif; dan pemeriksaan malnutrisi, depresi, serta penilaian ADL juga mengidentifikasi ribuan lansia yang memerlukan tindak lanjut klinis dan sosial. Menggabungkan pelajaran HART dan data CKG memberi gambaran yang jelas tentang arah intervensi yang diperlukan.

Pertama, karena risiko kardiovaskular dan masalah fungsional pada lansia sering muncul dari kombinasi faktor—aktivitas fisik rendah, pola makan buruk, gangguan tidur, stres, dan kondisi kronis—program pencegahan harus dirancang sebagai paket terpadu. Platform CKG sudah ideal untuk deteksi awal dan rujukan, tetapi pengalaman HART menunjukkan bahwa diagnosis atau skrining saja jarang memicu perubahan perilaku yang berkelanjutan.

Oleh karena itu, setelah skrining, diperlukan jalur tindak lanjut yang sistematis: konseling gaya hidup berkelanjutan, program rehabilitasi fisik yang ramah lansia, intervensi nutrisi untuk mereka yang berisiko malnutrisi, layanan kesehatan mental untuk depresi dan gangguan kognitif ringan, serta program berhenti merokok dan manajemen stres yang terintegrasi dengan layanan primer.

Kedua, kapasitas puskesmas dan mitra layanan harus diperkuat agar dapat memberikan intervensi perilaku yang efektif dan memantau hasilnya. Pelatihan tenaga kesehatan dalam pendekatan geriatri, penggunaan modul SKILAS, serta keterampilan konseling perilaku akan meningkatkan kualitas tindak lanjut. Pengalaman CKG menunjukkan pula pentingnya inklusi digital dan jalur pendaftaran multi-channel—melalui aplikasi SATUSEHAT, chatbot WhatsApp, dan pendaftaran bantuan di puskesmas—agar skrining dan tindak lanjut dapat diakses oleh lansia yang tidak melek teknologi.

Ketiga, data yang dikumpulkan oleh CKG harus dimanfaatkan secara strategis untuk menargetkan intervensi. Provinsi atau komunitas dengan prevalensi gangguan mobilitas atau kognitif tinggi dapat diprioritaskan untuk program rehabilitasi, pelatihan pengasuh, dan modifikasi lingkungan agar lebih aman bagi lansia.

Menambahkan modul biomarker atau perangkat pengukur pada sebagian sampel, serta menghubungkan data skrining dengan rekam medis dan registri nasional, akan memungkinkan evaluasi dampak intervensi jangka panjang—sebuah langkah yang juga direkomendasikan oleh tim HART untuk memperdalam bukti dan mendukung kebijakan berbasis data.

Keempat, pendekatan multisektoral diperlukan untuk mengatasi determinan sosial kesehatan lansia. Intervensi yang efektif tidak hanya berasal dari layanan kesehatan; perencanaan kota yang menyediakan ruang publik aman untuk aktivitas fisik, program pangan lokal yang mendukung pola makan sehat, serta dukungan sosial dan ekonomi untuk keluarga pengasuh akan memperbesar peluang lansia tetap sehat dan mandiri.

Akhirnya, pesan untuk masyarakat dan pembuat kebijakan adalah bahwa pencegahan pada lansia paling efektif bila dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Perubahan kecil yang dilakukan bersama—meningkatkan aktivitas fisik, tidur lebih teratur, mengelola stres, berhenti merokok, dan memperbaiki pola makan—akan lebih ampuh bila didukung oleh sistem skrining yang menjangkau luas dan layanan tindak lanjut yang nyata.

Indonesia telah memiliki fondasi digital dan jaringan puskesmas melalui CKG; mengintegrasikan pelajaran dari studi HART tentang pentingnya pendekatan multidomain, memperkuat jalur pasca-skrining, dan memanfaatkan data untuk menargetkan intervensi akan memperbesar peluang agar lansia hidup lebih sehat, mandiri, dan produktif di tahun-tahun mendatang.

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here