Perempuan Berdaya, Lansia Terlindungi: Jalan Menuju Indonesia Emas 2045

Direktur Pelayanan Kesehatan Rentan Kemenkes, dr Imran Pambudi

Hari Ibu yang diperingati setiap 22 Desember bukan sekadar penghormatan simbolik kepada sosok ibu, tetapi juga kesempatan untuk menyoroti kondisi nyata perempuan di Indonesia—baik sebagai individu maupun sebagai pilar keluarga dan masyarakat. Tahun 2025, peringatan ini mengusung tema “Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045” yang semakin relevan ketika dikaitkan dengan isu kelansiaan dan kesehatan perempuan, sebagaimana tergambar dalam paparan “Dari Lansia Mandiri ke Lansia yang Terlindungi” oleh Diahhadi Setyonaluri dalam Webinar Nasional GPSP.

Data dari Indonesia Longitudinal Aging Survey (ILAS, 2023) menunjukkan Perempuan sebagai Caregiver Utama, ini tercermin dari :

  • Lebih dari 65% lansia dirawat oleh anggota keluarga perempuan (anak atau pasangan).
  • Hampir 45% caregiver berusia produktif (<45 tahun), sehingga beban perawatan lansia berpotensi mengurangi kesempatan kerja dan produktivitas perempuan.
  • Rata-rata caregiver menghabiskan 3,4 jam per hari untuk perawatan lansia, dengan sebagian harus berhenti bekerja atau berganti pekerjaan.

Tema Hari Ibu 2025 menegaskan pentingnya pemberdayaan perempuan agar tidak hanya menjadi caregiver, tetapi juga memiliki akses pada dukungan sosial, kesehatan, dan ekonomi yang memadai.

Lansia Bekerja: Cerminan Ekonomi yang Belum Aman dan tantangannya

Diahhadi menyampaikan bahwa 1 dari 2 lansia di desil terbawah tetap bekerja karena keterpaksaan ekonomi. Lebih dari 87% pekerja lansia 65+ berada di sektor informal tanpa jaminan sosial. Kondisi ini berdampak langsung pada perempuan lansia, yang lebih bergantung pada transfer anak (75,8%) dibandingkan penghasilan sendiri. Tema Hari Ibu 2025 mengingatkan bahwa perlindungan lansia adalah bagian dari pemberdayaan perempuan, karena perempuan lansia sering kali menghadapi kerentanan ganda.

Lansia perempuan juga menghadapi silver digital divide. Literasi digital mereka jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki, sehingga akses terhadap layanan kesehatan digital, pekerjaan layak, maupun jaminan sosial berbasis teknologi menjadi terbatas. Padahal, kohort lansia masa depan akan semakin melek digital—sebuah peluang yang harus dipastikan inklusif bagi perempuan. Tema Hari Ibu 2025 menekankan pentingnya literasi digital sebagai bagian dari pemberdayaan perempuan dan perlindungan lansia.

Kondisi kesehatan perempuan di Indonesia masih menghadapi tantangan besar:

  • Angka kematian ibu memang menurun, tetapi masih lebih tinggi dibandingkan target SDGs.
  • Kesehatan mental perempuan semakin menjadi isu, terutama akibat beban ganda (kerja produktif + perawatan keluarga).
  • Akses layanan kesehatan reproduksi dan pencegahan penyakit tidak menular masih belum merata, terutama di daerah terpencil.
  • Perempuan usia produktif yang menjadi caregiver sering mengabaikan kesehatan diri karena fokus pada perawatan lansia.

Tema Hari Ibu 2025 menegaskan bahwa kesehatan perempuan adalah fondasi perlindungan lansia dan generasi emas Indonesia, ini harus menjadi momentum untuk mendorong kebijakan yang lebih berpihak pada perempuan dan lansia:

  1. Memperluas cakupan jaminan pensiun dan memasukkan komponen long-term care agar lansia tidak bergantung sepenuhnya pada keluarga perempuan.
  2. Membangun moda layanan perawatan lansia berbasis komunitas dan negara, sehingga beban tidak jatuh hanya pada perempuan.
  3. Investasi pada kesehatan perempuan usia produktif, agar mereka tetap sehat, aktif, dan mampu menjalankan peran tanpa kehilangan kesempatan kerja.
  4. Menutup kesenjangan digital dengan program literasi teknologi bagi perempuan lansia dan caregiver.

“Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045”, bukan hanya slogan, tetapi panggilan untuk melindungi perempuan sebagai caregiver dan lansia sebagai penerima perawatan. Dari lansia mandiri menuju lansia terlindungi, perjalanan ini hanya mungkin terwujud jika kesehatan perempuan Indonesia dijadikan prioritas dalam kebijakan publik. Dengan begitu, ibu bukan hanya simbol pengorbanan, tetapi juga subjek yang berdaya, sehat, dan terlindungi dalam sistem kesehatan yang inklusif.

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here