JAKARTA – Stres menjadi salah satu masalah kesehatan yang sangat serius. Faktanya, kondisi mental ini dapat memicu berbagai penyakit kronis lainnya, seperti penyakit jantung, stroke, bahkan depresi yang berpotensi berujung pada kematian dini.
Tidak sedikit individu yang, dalam keadaan stres akut, merasa terbebani oleh masalah dan akhirnya memilih untuk mengakhiri hidup karena merasa tak sanggup menghadapinya sendirian.
Namun, sebenarnya ada banyak cara untuk mengatasi stres. Salah satunya adalah dengan berbagi cerita kepada keluarga dan orang-orang terdekat, berkonsultasi dengan psikiater, atau melakukan olahraga lari.
Mengatasi stres melalui lari ternyata dapat memberikan hasil yang efektif. Farah Djalal, PhD, seorang psikolog dari platform konsultasi online HatiPlong, menjelaskan bahwa lari memiliki manfaat dalam mengurangi tingkat kecemasan karena dapat merangsang produksi hormon endorfin yang meningkatkan perasaan kebahagiaan.
“Lari sebenarnya dapat membantu mengatasi kecemasan karena meningkatkan hormon endorfin yang membuat kita merasa bahagia.” tuturnya, dilansir dari Antara, Senin (26/6/2023).
Aktivitas fisik dan kesehatan mental memiliki keterkaitan karena kesejahteraan fisik dan mental seseorang saling berhubungan dan mempengaruhi satu sama lain.
Farah menambahkan bahwa kesehatan fisik dan mental saling terkait. Ketika kesehatan mental terganggu, sseorang bisa mengalami gangguan fisik seperti sakit perut, sakit leher, atau sakit pinggang.
“Sebaliknya, jika kita mengalami masalah fisik, hal itu juga dapat memengaruhi kesehatan mental kita,” ujarnya.
Meskipun olahraga lari dianggap efektif dalam mengurangi kecemasan, Farah mengingatkan pentingnya memerhatikan kondisi pribadi masing-masing terkait kesesuaian aktivitas dengan kondisi mental dan metode penanganan yang digunakan.
“Olahraga lari cukup efektif, tetapi tetap bergantung pada diri masing-masing, apakah kegiatan lari cocok untuk kita. Jika merasa stres saat berlari, itu berarti lari bukanlah aktivitas yang tepat untuk kita. Oleh karena itu, kita perlu mengenal diri sendiri dan mengetahui kegiatan apa yang cocok dengan kita,” ujar Farah, yang juga menjabat sebagai CEO dan pendiri HatiPlong.
Selain itu, dalam menjalankan rutinitas olahraga lari, disarankan untuk tidak memaksakan diri untuk berlari jarak yang jauh atau dalam waktu yang lama. Sebaliknya, hal tersebut harus disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi tubuh masing-masing individu.
Farah menjelaskan, lari sebenarnya sesuatu yang personal dan merupakan terapi untuk diri sendiri. Seseorang harus mendengarkan tubuhnya sendiri, kapan harus berlari dengan cepat dan kapan harus berhenti.
“Yang penting adalah untuk melepaskan masalah mental kita, jadi itu terserah kita bagaimana melakukannya,” katanya.
Selain berlari, terdapat beberapa kegiatan lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi kecemasan dan masalah mental lainnya, seperti menjalankan hobi, mendengarkan musik, berinteraksi dengan teman, atau mengambil waktu istirahat sejenak dari rutinitas sehari-hari.
Farah juga mengingatkan agar kita waspada terhadap tanda-tanda kemunculan masalah mental, seperti kesulitan tidur, hilangnya nafsu makan, rasa enggan untuk bertemu orang banyak dan melakukan tugas, serta kepekaan emosional yang lebih tinggi dari biasanya.
Ia mendorong masyarakat untuk tidak menunggu kecemasan datang sebelum memulai rutinitas olahraga. Serta, tidak menunda-nunda mencari bantuan dari psikolog profesional ketika masalah kesehatan mental semakin memburuk





