
BELUM pupus trauma publik dan rasa kehilangan keluarga petugas yang gugur akibat aksi penyanderaan oleh sejumlah napi dan tahanan di Rutan Mako Brimob di Kelapa Dua, Depok, Selasa lalu (8/5), aksi teror kembali menguncang Surabaya.
Aksi bom bunuh diri hampir berbarengan oleh pelaku sekeluarga di tiga gereja terpisah di Surabaya yakni gereja Santa Maria di Jl. Ngagel Madya, Gereja Kristen Indonesia di Jl. Diponegoro dan gereja Pantekosta di Jl. Arjuno, Minggu pagi (13/5), ledakan bom rakitan di rumah susun sederhana sewa (rusunawa) malam harinya, kemudian disusul aksi bom bunuh diri di mapolrstabes Surabaya, Senin (14/5) seluruhnya merenggut 28 nyawa termasuk 13 terduga pelaku teror serta 57 korban luka-luka yang masih dirawat di RS Bhayangkara dan dr Soetomo, Surabaya.
Selain aksi teror maut oleh diduga pelaku, sekeluarga dari enam orang yakni ayah bernama Dita Oepriyanto (48), isteri Puji Kuswati (43),kedua puterinya yakni FS (12) dan PR (9) serta dua puteranya yakni YF (17) dan FH (15), ledakan bom juga terjadi di lantai lima rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di Jl. Sepanjang, Sidoarjo pada malam harinya menewaskan Anton Ferdiyanto bersama dua anggota keluarganya yang diduga penghuni dan pemilik bom yang
keburu meledak sebelum digunakan.
Aksi susulan dilakukan Tri Murtiono sekeluarga (semuanya lima orang) yang berkendara dua sepeda motor, meledakkan bom bunuh diri saat tiba di titik pemeriksaan polrestabes Surabaya, Senin pagi (14/5). Empat pelaku tewas, sementara seorang diantaranya, anak perempuan berusia sekitar 10 tahun yang juga diduga pelaku, selamat walau mengalami luka-luka.
Ironisnya, seluruh aksi kekerasan di Surabaya sepanjang dua hari tersebut dilakukan oleh sekeluarga. Aksi bom bunuh diri di tiga gereja di lokasi berbeda dilakukan Dita bersama isteri dan empat anaknya, perakitan bom di rusunawa Jl. Sepanjang dilakukan oleh Anton bersama kedua anggota keluarganya dan penyerangan di polrestabes Surabaya oleh Tri bersama isteri dan tiga anaknya.
“Aksi teroris kali ini sungguh biadab dan di luar batas kemanusiaan,” kata Presiden Jokowi yang bergegas datang ke TKP dan melakukan jumpa pers di RS Bhayangkara, Surabaya pada hari yang sama.
Jokowi dengan nada emosional juga mengingatkan lagi, terorisme merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan yang tidak ada kaitannya dengan agama apa pun. “Semua agama menolak terorisme apa pun alasannya, “ tandasnya.
Presiden juga langsung memerintahkan kapolri untuk mengusut dan membongkar tuntas seluruh jaringan pelaku jaringan terorisme sampai ke akar-akarnya.
Sejumlah tokoh lintas agama dalam jumpa pers di gedung PB-NU Jakarta pada hari yang sama mengutuk aksi teror dengan alasan dan motif apa pun serta mendesak pemerintah untuk bertindak tegas dan “hadir” mengatasi kejadian-kejadian seperti itu.
Dalam butir pernyataan lainnya, para tokoh lintas agama juga meminta publik tidak terprovokasi atau malah ikut memperkeruh situasi, sebaliknya menggalang solidaritas kemanusiaan dan melaporkan pada aparat keamanan jika menemukan hal-hal mencurigakan di lingkungannya serta membantu tugas aparat dalam menanggulangi aksi-aksi terorisme.
Sementara itu Wakil Ketua DPR dari F-PAN Taufik Kurniawan meminta agar pelaku terorisme dihukum berat serta meminta semua pihak untuk tidak membiarkan ruang gerak sekecil apa pun bagi paham radikalisme di Indonesia.
Sedangkan anggota Komisi I DPR dari F-Partai Demokrat Roy Suryo menilai, aksi teroris seperti terjadi di Mako Brimob dan Surabaya pekan lalu seharusnya bisa dicegah jika aparat intelijen lebih proaktif, apalagi mereka sudah dilengkapi dengan teknologi yang memungkinkan untuk melakukan deteksi secara dini.
Mantan Ketum PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif yang juga geram menanggapi aksi teror di Mako Brimob dan Surabaya, mendesak pemerintah untuk melakukan tindakan tegas, karena peristiwa tersebut sudah terjadi berulang kali, seperti kasus bom Bali, hotel Mariott, penyerangan pos polisi di Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat dan banyak lagi.
“Seharusnya peristiwa semacam itu semakin reda, tetapi nyatanya tidak, ditangkap satu (pelaku teroris-red), tumbuh seribu, ” ujarnya seraya menambahkan, jika aksi-aksi semacam itu tidak dihentikan, akan berimbas tergerusnya kepercayaan publik pada pemerintah.
Kronologis
Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang medampingi Presiden Jokowi di dua TKP dan membesuk korban di RS Bhayangkara menuturkan secara kronologis aksi teror yang dilakukan oleh terduga pelaku, Dita yang merupakan amir (pemimpin) Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya bersama isteri dan keempat anaknya.
Dita dengan berkendara minibus Avanza Minggu pagi itu menurunkan istri dan kedua anak perempuannya di gereja di GKI jalan Diponegoro, dan kemudian membawa mobil bermuatan bom rakitan buatannya sendiri menuju Gereja Pantekosta. Setelah semua keluarga didrop, Dita kemudian meledakkan mobil tersebut di Gereja Pantekosta pada pukul 07.53 pagi.
Sementara itu, dua anak laki-laki kedua pasangan tersebut (YF dan FH, masing-masing mengendarai sepeda motor menuju gereja Santa Maria untuk melakukan serangan bom bunuh diri saat misa pertama usai sekitar pukul 07.00.
Bom yang diikatkan di tubuh keduanya dipantik saat mereka dihalangi oleh satuan keamanan gereja, Bayu Wardhana setibanya di gerbang gereja. Kedua pelaku (YF dan adiknya, FH) tewas di lokasi, dan juga Bayu.
Sementara Puji bersama kedua puterinya (FS dan PR) tewas di tempat di GKI Jl. Diponegoro pukul 07.15 bersama bom yang dililitkan di pinggang mereka .
Berdasarkan penelusuran polisi di rumah kontrak pelaku di kompleks perumahan Wisma Indah, Blok K22 Rt02/Rw03, Kel. Wonorejo, Rungkut, Surabaya, ditemukan beberapa bahan peledak yang kemudian dijinakkan oleh satuan penjinak bahan peledak polisi.
Dalam perkembangan lainnya, Tim Detasemen 88 Antiteror Polri, Senin dalam aksi pengerebekan di sejumlah tempat persembunyian dan aktivitas teroris di Malang, Pasuruan dan Sidoarjo berhasil membekuk 13 terduga teroris.
“PR” Penanggulangan Terorisme
Aksi teroris yang merupakan ancaman bagi kemanusiaan telah terjadi dan yang tersisa adalah perasaan trauma dan kehilangan bagi keluarga yang ditinggalkan, rasa sakit yang dialami korban yang masih dirawat dan juga setumpuk “PR” bagi pemangku kepentingan khususnya aparat keamanan untuk menangkal aksi-aksi teroris berikutnya.
Dalam kasus penyanderaan di Mako Brimob, Kelapa Dua, dari sisi profesionalisme terkait penegakan HAM, polisi patut diacungi jempol, tercermin dari jumlah korban yang jatuh yakni lima anggota polisi gugur, sementara hanya satu tahanan perusuh yang meregang nyawa.
Kejadian itu mencerminkan, anggota polisi mampu menahan diri untuk bertindak secara terukur, padahal jika mau, tentu dengan mudah akan menghabisi para tahanan teroris yang sudah membantai rekan mereka secara sadis.
Namun di sisi lain, aksi kerusuhan dan penyanderaan oleh sebagian dari 156 tahanan dan napi teroris itu juga terbilang nekat, karena dilakukan di “kandang macan” Mako Brimob, satuan elit polisi.
Pertanyaannya, kenapa begitu mudahnya mereka keluar dari sel, merebut senjata, menyerang dan menyandera polisi? Bagaimana standar prosedur penjagaan yang dilakukan selama ini, dan siapa komandan yang bertanggungjawab?
Sedangkan dari kasus teror Surabaya, jika memang sudah diketahui Dita sekeluarga adalah salah satu diantara sekitar mantan 500 alumni “combatant” ex-Suriah, bagaimana pengawasan dan pembinaan terhadap mereka, apakah sudah dilakukan? dan sudah secara rutin kah?
Di dalam diksi program deradikalisasi juga dikenal tiga program utama yakni pembinaan, pendampingan dan pemberdayaan pada mantan napi atau tahanan teroris, apakah ketuganya sudah dilakukan dengan benar, terencana, terpola dan berkelanjutan?
Buruknya fasilitas dan layanan yang diberikan pada tahanan dan napi termasuk yang terlibat kasus terorisme seperti kelebihan kapasitas rutan atau lapas dengan alasan klasik yakni rendahnya anggaran sering membuat tahanan atau napi malah menjadi beringas pasca dibebaskan akibat kehidupan keras yang menempa mereka saat dibui.
Khusus terkait pemberdayaan, bisa saja teroris yang sudah insyaf ingin kembali ke jalan benar, tetapi jika mereka tidak diterima di tengah masyarakat dan tidak memiliki nafkah untuk menghidupi keluarganya, bisa saja mereka berbuat nekat karena putus asa, apalagi jika kematian dengan bom bunuh diri, diyakini sebagai jalan tercepat menuju surga.
Penanggulangan terorisme tidak cukup hanya dengan sekedar tekad, apalagi pencitraan atau retorika yang dilakukan cuma saat terjadi suatu peristiwa, kemudian dilupakan lagi, sampai kejadian berikutnya.
Tentu tangungjawab penanggulangan terorisme tidak hanya diserahkan pada aparat kepolisian, karena mulai dari keluarga, lingkungan (RT, RW dan kelurahan) harus abai, dan lebih penting lagi para politisi, agar tidak memanfaatkan teroris untuk tujuan politik mereka.
Harus diingat pula, teroris walau nekat, juga menggunakan strategi dan taktik saat melancarkan aksi-aksinya.
Mereka tentu akan “tiarap” saat seluruh aparat keamanan bersiaga dan semua orang mengutuk dan menghujat mereka, dan kembali beroperasi orang tertidur lelap atau lengah semua.




