Lebaran dan Arus Balik

Open House bersama Presiden Jokowi. Pakai celana pendekpun boleh bersalaman.

HARI ini ummat Islam merayakan Hari Kemenangan, 1 Syawal 1438 H. Setelah salat Ied semuanya bersalaman, mohon maaf lahir batin. Yang mudik sepertinya tahun ini lancar-lancar saja, tak ada yang Lebaran di jalan. Tapi arus balik yang mulai terjadi Senin besok, belum tentu. Mudah-mudahan jalan tak begitu padat. Yang pasti kantong-kantong para pemudik itu tak lagi padat, karena habis dikuras di kampung.

Tahun ini pemerintah, NU dan Muhammadiyah bisa bisa berlebaran di tanggal yang sama, 25 Juni 2017 sebagaimana waktu mulai puasa sebulan lalu. Jika ada yang ngotot alkhotot Lebaran 26 Juni hanyalah segelintir umat, berdasarkan keyakinan dan aliran masing-masing. Yang penting kita harus sama-sama menghormati keyakinan tersebut, sehingga tak perlu terjadi gesekan sesama umat.

Lebaran di kota besar sungguh berkebalikan dengan Lebaran di kampung-kampung milik para pemudik. Di kota yang ramai justru tempat hiburan. Di pedesaan, tamu silih berganti mendatangi rumah para sesepuh desa. Mobil-mobil yang hadir pun banyak yang berplat B, L, dan H. Mereka biasanya orang-orang sukses di kota besar. Makin banyak tamu yang bermobil, makin tambah gengsi si tuan rumah.

Kalaupun Lebaran di kota tetap ramai, biasanya di rumah pejabat yang menggelar Open House. Pejabat itu bisa dari kalangan eksekutif (PNS) bisa pula dari kalangan legislatif. Baik yang kecipratan dana e-KTP atau tidak, sama-sama menggelar Open House, siapa tahu dosa-dosanya ikut lebur di hari yang fitri ini. Padahal bisa saja penggelar Open House itu bagian dari musang berbulu ayam.

Fakta menunjukkan, pejabat negara yang tiap tahun menggelar Open House di hari Lebaran, ada juga yang terkena OTT oleh KPK. Itu berarti dana yang digunakan untuk acara tersebut sangat boleh jadi dari dana  haram itu. Soalnya ada juga pejabat yang sudah merasa bahwa dirinya korupsi, “mensucikan” dirinya lewat santunan sana sini. Dia berharap dengan royal menyantuni fakir miskin itu kejahatannya pada negara tidak cepat ketahuan, atau tak ketahuan sama sekali.

Lebaran tahun ini sangat melegakan bagi pemerintahan Jokowi-JK. Situasinya sangat kondusif, jika pinjam istilah pejabat Orde Baru dulu: aman terkendali.  Bahkan gereja-gereja pun dengan kesadaran sendiri menggeser hari kebaktiannya, karena Idul Fitri tahun ini jatuh hari Minggu. Juga tak ada bom misterius di pojok-pojok kota. Kalaupun ada, ada sedikit aksi teroris di Polda Sumut yang langsung bisa dilumpuhkan, meski seorang polisi harus gugur karenanya.

Menhub Budikarya Sumadi juga boleh berbangga, karena sampai hari ini tak ada berita di TV dan internet, tentang pemudik yang Lebaran di jalan. Itu berarti pengaturan tata lalulintas di berbagai kota berjalan tertib termasuk kordinasinya. Jika ada kemacetan, tidak separah tahun lalu, karena cepat terurai.

Bagaimana dengan arus balik mulai Senin besok? Wallahu alam. Mudah-mudahan bisa seperti keberangkatan, lancar terkendali. Bila kembali terjebak macet dan harus nginap di jalan, ini sangat riskan. Saat berangkat sih, kantongnya masih full tank. Tapi ketika balik ke Ibukota, kebanyakan dana sudah nipis lantaran habis dikuras di kampung. Sanak famili bergantian ingin merasakan “duit kota”. Bukan saja uang, baju bekas pun banyak diminta ibarat kata untuk telesan macul.

Berbahagialah umat Islam Indonesia. Hanya di sini ada budaya Lebaran. Uang bertriliun-triliun mengalir ke kampung, untuk biaya ketemu sanak famili. Negara pun juga ikut repot mengaturnya, agar Lebaran berjalan lancar dan aman. Sebab Lebaran itu di samping menguras anggaran, juga tidak sedikit yang harus berkorban nyawa karena kecelakaan lalulintas di jalan. Semoga saja tahun ini, korban kecelakaan lalulintas baik mudik maupun arus balik makin mengecil. (Cantrik Metaram)

Advertisement