Sentanu Kraman

Prabu Palasara menolong Raden Sentanu. Katanya,"Bayimu silakan menyusu istriku, tapi sampeyan jangan!"

ADAKAH hubungan antara seniman dan rambut gondrong? Jelas tidak ada. Tapi kenapa ya, jika sudah merasa dirinya seniman langsung menggondrongkan rambutnya. Ternyata di dunia perwayangan juga begitu. Baru beberapa kali puisi dan esay budayanya dimuat di majalah Horizon dan Sastra, Bambang Palasara dari Gajahhoya sudah menggondrongkan rambut. Untuk sedikit merapikan, bukan dengan jungkat (sisir) tapi cukup pakai jari jemarinya saja.

Bila ada seminar kebudayaan, Bambang Palasara sering hadir sebagai pemakalah. Tapi di dunia perwayangan seminar belum merupakan ajang bisnis, sehingga Bambang Palasara tak pernah dapat imbalan kecuali piagam dan makan siang. Nah, karena hidup nyeniman tak menjanjikan apa-apa baginya, Bambang Palasara kemudian mengisi kesibukannya dengan bertapa.

“Sudah tidak nyeniman, masih juga berambut gondrong dia.” Ujar Sanghyang Betara Guru (SBG) di kahyangan Jongring Salaka.

“Memangnya berambut gondrong melanggar UU? Mati pun malaikat takkan tanya kenapa ente berambut gondrong,” kata patih Betara Narada yang rupanya sealiran dengan Felix Siauw mubaligh HTI.

Memang iya sih. Tapi SBG tidak suka wayang-wayang ngercapada berambut gondrong. Kasihan, tukang cukur bisa kehilangan pekerjaan. Lalu bagaimana harus menyadarkannya. Apa Bambang Palasara diangket macam DPR terhadap KPK? Atau cukup dipanggil dan diberi peringatan keras? Nanti SBG bakal dituduh kriminalisasi wayang. Jika masuk medsos pasti jadi viral dan sangat boleh jadi penguasa Kahyangan itu akan habis dibully netizen.

Paling aman, segera saja SBG menyuruh Betara Narada menjelma sebagai burung pipit dan bersarang di rambut Palasara. Jahil banget SBG sebagai penguasa Jonggring Salaka, tapi Betara Narada tak bisa menolak, takut dikondite tidak loyal pada boss. Nanti gaji bulan depan bisa ditahan, seperti nasib anggota DPD yang anti OSO (Oesman Sapta Odang).

“Payah, soal rambut gondrong saja bisa mremen (melebar) ke mana-mana.” Keluh Patih Narada.

“Lho, ulun (saya) kan sekedar niru ulah Pansus KPK di DPR.” Jawab SBG sekenanya.

Betara Narada telah menjelma jadi burung pipit dan bersarang di rambut Bambang Palasara. Ternyata, meski dalam rambut gimbalnya dijadikan sarang sepasang burung pipit, Bambang Palasara tak juga terganggu. Bahkan sampai burung tersebut bertelur dan punya anak, dia masih juga diam. Baru setelah sepasang pipit itu pergi dan menelantarkan anaknya, petapa Palasara merasa galau. Maklum suara cericit anak burung itu sangat mengganggu konsentrasinya.

“Hai burung sialan. Kalau mau pergi bawa sekalian dong anak-anakmu. Jangan ditinggalkan begitu saja, ini kan membebaniku. Memangnya gua kantor sosial?” protes Palasara.

“Cit cit cit…!” hanya itu jawaban sepasang pipit dan kemudian meninggalkannya.

Rupanya Bambang Palasara memang penggemar burung, meski “burung” sendiri gak kopen (tak terurus). Tak tahan dengan bunyi cericit anak burung tersebut, dia segera pergi mencari ke mana induk burung itu pergi. Tanpa terasa perjalanan sampai ke negeri Wirata yang sedang dilanda banjir, akibat pengelolaan kota yang salah. Di sini raja membiarkan penduduk tinggal di tanggul kali, karena yang penting rakyat bahagia.

Di negerinya Prabu Dasabala, bantaran kali bisa dibangun bebas. Meki  rakyatnya pada hobi buang sampah ke kali, dibiarkan saja. Lagi-lagi yang penting rakyat bahagia. Keruan saja kali Gangga dan Yamuna penuh dengan sampah. Tambah kacau lagi, Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Kebersihan saling lempar tanggungjawab. Sampah di kali dikeruk PU dan diangkat ke darat jadi tanggungjawab Dinas Kebersihan. Tapi oleh Dinas Kebersihan dibuang lagi ke kali biar jadi tanggungjawab PU. Bayangkan, sampah saja dipingpong ke sana kemari, bagaimana dengan wayang.

“Mau mudik kehabisan tiket ya Oom?” ujar seorang wanita kepada Palasara yang sedang termangu-mangu di pinggir kali. Dia sedang mengemudikan perahu tempel.

“He, kamu kan perempuan kok mengemudikan perahu, suamimu ke mana?”

Perempuan itu tersenyum. Dia mengaku masih gadis, namanya Durgandini. Dia ngojek perahu bukan mencari uang, melainkan untuk membantu yang membutuhkan, jadi gratis. Bambang Palasara pun semakin heran. Di kala orang lain cari untung sebanyak-banyaknya dalam arus mudik Lebaran,  Durgandini malah menawarkan penyeberangan gratis, seperti pemerintah saja.

Penasaran dengan keberadaan perempuan itu, Palasara segera naik ke perahu tempel, minta diantar ke negeri Wiratha. Di antara semilir angin pagi, di antara kesibukan para pemudik Lebaran, tiba-tiba Palasara mencium bahu busuk. Bau kentut kah? Ternyata bukan, tapi bau itu semakin menyengat saja. Hidung Palasara pun kembang kempis. Apakah dirinya ketularan Amien Rais, menganggap KPK berbau busuk?

“Oom terganggu ya? Hidung Oom masih normal, karena bukan hidung politisi. “ kata Durgandini polos.

“Oo nggak papa. Cuma lain kali sebaiknya pakai Odorono ya,” saran Bambang Palasara.

Durgandini yang lebih senang dipanggil Jeng Dini akhirnya terus terang bahwa bau amis itu pembawaan sedari lahir. Sudah diobati dengan berbagai cara, tapi tak juga membawa hasil. Bahkan Prabu Dasabala ayah angkatnya, siap memberi hadiah apa saja bagi yang bisa menyembuhkan bau amis di tubuh Durgandini, eh Jeng Dini tersebut. Boleh bentuk duit, boleh juga menjadi pejabat penting di Wirata. Jika lembaganya belum ada, bisa nanti dibikinkan termasuk nomenklaturnya.

Sebagai petapa ulung, ternyata Palasara juga ahli pengobatan alternatif. Melihat perempuan cantik tapi bau, dia kasihan juga. Diam-diam ilmu Tolak BB (Bau Badan) itu diterapkan, wush……dan detik itu juga bau amis di tubuh Jeng Dini hilang, berganti dengan bau harum menyengat hidung. Semua berbau wangi, sampai ke telapak tangannya juga, mengalahkan Presiden Jokowi.

“Bagaimana sekarang, Jeng Dini?” ujar Bambang Palasara sambil senyum.

“Terima kasih. Berkat Oom Palasara, penyakitku sembuh. Karenanya saya siap menghamba kepada Oom sampai kapan juga,” kata Dewi Durgandini dengan penuh rasa syukur.

Perahu tempel terus berjalan dengan dikemudikan Durgandini. Berkat bau harum dan wajah cantik sang nakoda, lama-lama bangkitlah nafsu Bambang Palasara. Dengan aling-aling (penghalang) terpal, Jeng Dini lalu ditempel, dirungrum (dirayu) agar siap diajak berhubungan intim.

“Mau mudik kok sempat-sempatnya mikir begituan Oom.”

“Ini bukan begituan Jeng, tapi kebutuhan…”

Demikianlah aksi mesum di dalam perahu itu akhirnya menghasilkan seorang anak diberi nama Abiyasa. Prabu Dasabala yang sedang Open House sambut Lebaran, senang sekali putrinya telah sembuh dari penyakitnya, bahkan tambah bonus cucu baru. Setelah pamitan pada mertua, Palasara memboyong istri dan anaknya kembaali ke Gajahoya negeri asal. Kebetulan arus balik berjalan lancar.

Dasar milik dan rejeki sedang baik, SBG di Jonggringsalaka kemudian merestui Palasara menjadi raja di negeri Gajahoya, meski rambut gondrongnya tak juga dipotong. Istri cantik, anak tumbuh lucu, kurang apa lagi? Prabu Palasara pun berangan-angan, jika kelak Abiyasa usia SD, akan dimasukkan sekolah negeri. Ganjalannya, anak SD pun nantinya bakal sekolah dari pukul 07.00 hingga pukul 16.00. Kasihan bocah Abiyasa kurang bermain gara-gara kebijakan Sekolah Lima Hari.

Sayang kebahagian itu tak berlangsung lama, ketika kemudian hadir Raden Sentanu dari negeri Talkanda, sambil menggendong bayi kecil. Bayi itu nangis meraung-raung minta mimik. Padahal susu botolnya kadung habis, dan di jalan tak menemukan tajin.

“Kalau cocok, boleh bayi itu numpang nyusu pada istriku. Tapi anakmu saja, lho…..” pesan Prabu Palasara wanti-wanti.

“Terima kasih paduka, terima kasih.” Jawab Raden Sentanu.

Bayi bernama Dewabrata langsung diam setelah menyusu pada Jeng Dini. Tapi dasar Sentanu tak pandai membalas budi. Setelah kos gratis beberapa minggu di Ngastina, dia kemudian malah menuntut agar Prabu Palasara menyerahkan kekuasaan berikut istrinya sekalian, karena Sentanu juga ingin “nyusu” pada Jeng Dini. Anehnya, raja yang sok nyeniman itu nerimo saja, karena tak mau terjadi kudeta berdarah. Dengan ikhlas dia menyerahkan Jeng Dini dan negaranya kepada Prabu Sentanu, termasuk utang-utang luar negrinya, tentu.

“Gak jadi ratu ya nggak patheken. Saya bisa fokus ngurus padepokan…!” kata Palasara yang mau mbegawan. (Ki Guna Watoncarita)

 

 

 

 

Advertisement