“LHO, itu kan ustadz Khalid Basalamah yang mirip adegan wayang dikepruki saat ditanggap di Ponpes “Ora Aji” milik Gus Miftah di Sleman, ya…..” bisik salah seorang peserta buka puasa bersama di Istana Pancala.
“Ya nggak miriplah, tapi sindirannya memang ke situ, wong dalangnya sendiri juga nggak mengakui kok. Sudahlah, dengarkan saja nanti isi ceramahnya itu.” Jawab peserta di sampingnya, juga bisik-bisik.
Bambang Kumbayana saat itu telah tiba di arena istana, tapi ditolak masuk. Di samping tidak bawa undangan, penampilannya juga kucel macam pemudik kehabisan sangu. Padahal undangan lainnya semua berbaju koko, pakai sarung, berpeci hitam dan putih. Bau parfum kasturi menyeruak, sedangkan Bambang Kumbayana penguk lantaran aroma keringat.
Dari balik pagar Istana Bambang Kumbayana melihat Prabu Drupada dielu-elukan para tamunya. Banyak yang cium tangannya. Dia berharap Prabu Drupada menoleh ke halaman Istana, sehingga melihat dirinya, kemudian memanggil dirinya dipersilakan masuk. Pasti nanti akan gablok-gablokan (saling pukul tanda sayang) karena ketemu teman lama yang puluhan tahun tak bersua.
Ternyata harapan Bambang Kumbayana sia-sia belaka. Sampai ceramah ustadz Khalid Basalamah selesai disusul adzan maghrib tanda berbuka, tak ada juga tegur sapa atau panggilan dari Prabu Drupada untuk Bambang Kumbayana. Para tamu di dalam menikmati kolak pisang dan kurma, sedangkan perantau dari Ngatasangin ini hanya menelan ludah. Mau membatalkan puasa, Akua gelasan saja dia tak membawa.
“Sial dangkalan nasibku ini….,” maki Bambang Kumbayana, dan batalah sudah puasanya. Sebab ada yang bilang, memaki atau mengumpat sudah membatalkan puasa.
“Hai, nggak boleh puasa mengumpat.” Kata hati nurani Bambang Kumbayana.
Usai makan takjil sebagai pembuka, Prabu Drupada dan para pejabat serta undangan bergegas menuju mesjid Istana yang terletak di luar pagar Istana. Inilah kesempatan emas bagi Kumbayana. Dalam jarak dekat nanti dia bisa panggil nama raja Pancala itu dengan keras, dan pastilah kemudian disambut dengan hangat. Di situlah segala penderitaannya akan selesai. Bambang Kumbayana akan dijamu, kembul bujana andrawina bersama orang nomer satu di Pancala.
Ternyata prediksi Bambang Kumbayana meleset total. Ketika iring-iringan Prabu Drupada tiba di luar pagar Istana, Bambang Kumbayana sengaja mendekat. Berharap Prabu Drupada segera mengenalnya. Ternyata tidak, beliaunya terus saja berjalan dengan pandangan lurus ke depan, tanpa mempedulikan sobat lama yang sangat menunggu perhatiannya. Tak diketahui jelas, sikap itu disengaja, atau memang sama sekali tak ngeh ada Bambang Kumbayana.
“Sucitra, Sucitraaa! Aku teman lamamu Bambang Kumbayana. Masak lupa sih….!” teriak Bambang Kumbayana lantang.
Tak semua kenal nama kecil Prabu Drupada, sehingga teriakan Bambang Kumbayana dianggapnya orang gila yang kesasar ke kompleks Istana. Salah satunya yang kenal dengan nama itu adalah Patih Gandamana. Dia jadi tersinggung dan marah, raja sesembahannya dijangkar begitu saja oleh orang tak dikenal. Dia segera menghampiri tamu tak diundang tersebut. Ketika kembali Bambang Kumbayana meneriakkan kata “Sucitra” dengan keras, langsung saja mulutnya disampluk pakai tangan kanan. Plakkkkkk!
“Ngomong tidak punya sopan santun! Dari mana kamu?” ujar Patih Gandamana dan untuk kedua kalinya mulut Bambang Kumbayana ditampol.
“Aduh, apa salahku kok main pukul?” protes Bambang Kumbayana dengan mulut berdarah.
Meski Patih Gandamana tadi baru makan 3 biji kurma dan minum seteguk Akua gelasan, tenaganya masih kuat jika untuk menghajar orang yang tak dikenalnya tersebut. Maka sekali lagi tinjunya melayang. Bambang Kumbayana jatuh dan langsung diinjak-injak. Orang baru melerai ketika napas Bambang Kumbayana tinggal satu dua……
Jemaah salat maghrib jadi terbagi dua. Sebagian tetap salat, sebagian menolong Bambang Kumbayana dulu, dilarikan ke RS Mitra Keluarga Kaya. Dia mengalami gegar otak seperti Ade Armando yang dikeroyok Kadrun di depan Gedung DPR Senayan tempo hari. Tapi Bambang Kumbayana lebih fatal. Sebab swing Patih Gandamana bermuatan ajian Wungkal Bener, sedang pukulan para kadrun itu berkekuatan nasi bungkus.
“Ada apa, kok tadi ribut-ribut?” kata Prabu Drupada pada Patih Gandamana seusai salat.
“Ada tamu tak diundang, tapi lagaknya nggak sopan banget, Sinuwun. Langsung saya kepret dan sekarang dirawat di RS. Ngakunya dari Ngatasangin, namanya Bambang Kumbayana.” Jawab Patih Gandamana.
Prabu Drupada terkaget-kaget. Jika itu memang Bambang Kumbayana dari Ngatasangin, berarti anak bosnnya dulu di Ngatasangin. Giliran kini Patih Gandamana kena tegur, cuma panggil nama kecil rajanya saja dibuat marah. Sekarang era reformasi, Presiden Jokowi dari Indonesia hanya dipanggil Jokowi oleh rakyatnya juga nggak marah. Malah kalau bisa jawab tebakan langsung dikasih sepeda.
Buka puasa bersama dengan para pejabat malam itu jadi terasa hambar, karena Prabu Drupada kepikiran pada Bambang Kumbayana yang dirawat gara-gara dipermak oleh Patih Gandamana. Maka usai buka puasa bersama Sang Prabu langsung ke RS Mitra Keluarga Kaya. Kata dokter, masa kritis sudah lewat. Bambang Kumbayana sudah bisa diajak berkomunikasi.
“Maafkan kakang Kumbayana, atas perbuatan patihku Gandamana. Semua ini terjadi karena kesalahpahaman belaka.” Ujar Prabu Drupada setelah bisa ketemu dan berdialog dengan Bambang Kumbayana.
“Hallah……, kesalahpahaman! Minta maaf atau tidak tubuhku kadung bonyok. Patihnya emosian, rajanya juga seperti kacang lupa kulitnya.” Sindir Bambang Kumbayana to the point.
Bambang Kumbayana menyalahkan sahabatnya tersebut. Jika waktu dipanggil namanya langsung nengok dan mendekati, pasti takkan terjadi insiden ini. Tapi Prabu Drupada ngunclug saja, sehingga Patih Gandamana menganggapnya tidak saling kenal, bahkan Bambang Kumbayana dianggap orang kenthir.
Karena disindir “waton nyata”, Prabu jadi malu ati. Apa lagi didengar oleh sejumlah perawat. Suasana dan cuacanya menjadi tidak nyaman. Ketimbang Bambang Kumbayana makin emosi, pertemuan dua sahabat itu dipersingkat, lain kali akan disambung lagi di saat yang tepat.
“Sudahlah kakang Kumbayana, semoga cepat sembuh ya. Aku pamit dulu….” ujar Prabu Drupada dan meninggalkan zal perawatan. Tapi kepada pihak RS Prabu Drupada berpesan, berapapun biaya perawatan Bambang Kumbayana akan ditanggung oleh pemerintahan negeri Pancala. (Ki Guna Watoncarita)



