
GUNUNGKIDUL – Ratusan jamaah Masjid Aolia di Dusun Panggang III, Giriharjo, Kecamatan Panggang, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menggelar salat Idulfitri 1445 Hijriah lebih awal dari mayoritas umat Islam di Indonesia pada umumnya.
Mereka berkumpul di Masjid Aolia dan rumah Imam Jemaah Masjid Aolia, KH Raden Ibnu Hajar Sholeh Pranolo, atau dikenal sebagai Mbah Benu, sejak pukul 06.00 WIB, dengan diiringi takbir.
Salat Id dilaksanakan sekitar pukul 06.58 WIB di kedua lokasi tersebut, diikuti oleh khotbah dan saling bersalam-salaman. Kawasan tersebut juga diamankan oleh sejumlah personel Polri, TNI, dan Banser.
Mbah Benu, setelah memimpin salat Id, mengimbau agar masyarakat terus menjaga persatuan dan kerukunan. Dia menekankan pentingnya saling rukun dan tidak menyalahkan orang lain, termasuk dalam perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri.
“Saling rukun, jaga persatuan dan kesatuan dengan siapa saja,” ujar pria berusia 82 tahun itu.
“Jangan menyalahkan orang. Ya, kalau salah, tapi kalau benar malah dia yang untung, kita yang jadi tertuduh,” lanjutnya.
Selain merayakan Idulfitri lebih awal, jemaah Masjid Aolia juga memulai puasa Ramadan sejak 7 Maret 2024, berdasarkan keyakinan spiritual Mbah Benu sebagai pimpinan jemaah.
Dukuh Panggang III Agung menyatakan bahwa jrmaah Masjid Aolia telah lama ada dan hidup berdampingan dengan masyarakat lain di dusun tersebut.
Perbedaan awal Ramadhan dan 1 Syawal antara jamaah Masjid Aolia dengan masyarakat lain dianggap biasa dan tidak pernah menimbulkan konflik.
“Tidak pernah ada gesekan. Sebelum saya lahir sudah ada (Jemaah Masjid Aolia),” kata dia.
Kepala Bidang Urusan Agama Islam (Urais) Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Jauhar Mustofa, menjelaskan bahwa jemaah Masjid Aolia memiliki tata cara beribadah seperti umat Islam lainnya.
Namun, mereka memiliki keyakinan atau prinsip tersendiri dalam penetapan awal Ramadhan dan 1 Syawal, tanpa menggunakan metode hisab maupun rukyat.
“Mereka punya dalil sendiri yang itu diyakini oleh pemimpinnya, Pak Ibnu dan pengikutnya,” kata dia.
Meskipun demikian, Kemenag DIY tidak bisa memaksa mereka mengikuti aturan yang telah ditetapkan pemerintah.
“Meskipun tahun ini agak mencolok karena bedanya sampai lima hari. Ini sangat-sangat mencolok. Kalau biasanya, kan, hanya (selisih) satu dua hari, tapi tahun ini memang agak mencolok sehingga memang menjadi perhatian,” kata dia.
Menurut dia, Kemenag DIY bakal terus melakukan pendekatan dan silaturahmi dengan pemimpin jemaah itu melalui KUA maupun Kemenag kabupaten.
“Agar saling silaturahmi antara pemerintah dan ulama tetap terjaga,” ujar Jauhar.




