
HAITI – Badan migrasi PBB mengatakan lebih dari 10.000 orang di Haiti kehilangan tempat tinggalnya dalam satu minggu terakhir akibat operasi geng bersenjata, di dalam dan di sekitar wilayah ibu kota Port-au-Prince.
Badan itu mengatakan pada awal September bahwa lebih dari 700.000 orang kehilangan tempat tinggal dan menjadi terlantar di seluruh negara Karibia tersebut, hampir dua kali lipat dari angka enam bulan sebelumnya.
Berbagai kelompok bersenjata dalam seminggu terakhir ini telah meningkatkan serangannya di sejumlah kota, di mana sebagian besar berada di bawah kendali beberapa kelompok yang tergabung dalam aliansi Viv Ansanm.
Konflik tersebut memicu wabah kelaparan di sejumlah wilayah karena geng-geng itu mengambil alih lahan pertanian dan memblokade jalur transportasi.
Meski PBB telah mengizinkan pasukan internasional untuk membantu polisi Haiti mengambil alih kendali, misi tersebut tidak memiliki sumber daya yang memadai dan hanya membuahkan hasil yang sedikit.
Kepemimpinan Haiti telah meminta pasukan tersebut diubah menjadi misi penjaga perdamaian resmi untuk menopang sumber daya; sebuah inisiatif yang ditolak China dan Rusia bulan lalu.
Geng-geng yang sebelumnya menarget polisi nasional, kelompok-kelompok pertahanan diri sipil dan infrastruktur negara, kini juga mulai menarget kendaraan-kendaraan asing.
Kedutaan Besar AS di Haiti mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa pada Senin (21/10), dua kendaraan lapis baja mereka menjadi sasaran tembakan geng. Salah satunya terkena beberapa tembakan meskipun tidak ada yang terluka atau cedera.




