JAKARTA, KBKNEWS.id — Lebih dari dua bulan setelah banjir bandang dan longsor melanda Aceh, sebagian relawan telah kembali ke aktivitas masing-masing, namun dr Rifa Karimah memilih tetap tinggal.
Hingga lebih dari dua bulan pascabencana, dokter muda asal Takengon itu masih turun ke lokasi-lokasi terdampak untuk memastikan layanan kesehatan tetap menjangkau warga.
Sejak pertama bergabung pada 23 Desember 2025, dr Rifa nyaris tak pernah benar-benar pulang. Baginya, surutnya air tidak otomatis berarti bencana telah berakhir. Luka fisik, trauma, dan keterbatasan akses kesehatan masih nyata dirasakan warga.
Pada Kamis (22/1/2026), dr Rifa bersama tim medis Dompet Dhuafa menembus jalur terputus menuju Dusun Wihlah Setie, Kecamatan Bintang. Di wilayah tersebut, puluhan wargaterutama lansia dan anak-anak mengeluhkan ISPA, penyakit kulit, hingga trauma pascabencana. Jarak fasilitas kesehatan yang jauh dan kondisi jalan rusak membuat layanan medis keliling menjadi satu-satunya harapan.
Data BNPB per 21 Januari 2026 mencatat 1.200 korban meninggal dan 143 orang masih dinyatakan hilang. Di balik angka itu, banyak penyintas masih berjuang dengan kondisi kesehatan yang terabaikan.
“Puskesmas rusak atau sulit dijangkau. Kami harus mendatangi warga,” ujar dr Rifa.
Di tengah perhatian publik yang mulai bergeser, dr Rifa membuktikan bahwa pemulihan bukan sekadar fase darurat. Kehadiran yang konsisten, saat sorotan mulai redup, justru menjadi kunci bagi penyintas untuk bangkit perlahan.





