SUDAN SELATAN (KBK) – Karena konflik berkepanjangan, lebih dari separuh anak-anak di Sudan tidak dapat mengenyam pendidikan.
Hal itu dikatakan Phuong Nguyen T., Kepala UNICEF urusan Pendidikan untuk Sudan Selatan, di Sudan, Selasa (12/1/2016).
Bahkan Nguyen melihat, porsi anak-anak tidak sekolah di Sudan peringkat tertinggi di dunia.
“Sekitar 1,8 juta jiwa anak-anak berusia 6 sampai 15 tahun di Sudan tidak sekolah. Jumlah itu merupakan 51 persen dari total anak-anak di Sudan,” kata Nguyen.
Sudan Selatan terlibat kekerasan selama dua tahun, terjadi konflik bersenjata antara pemberontak dan pasukan pemerintah.
Bahkan sebelum konflik dimulai, lanjut Nguyen, 1,4 juta anak sudah tidak sekolah. Ditambah pecahnya perang, yang menyebabkan lebih dari 800 sekolah hancur, dan lebih dari 400.000 anak-anak terpaksa tidak sekolah.
Pemerintah Sudan Selatan dan pemberontak menandatangani perjanjian perdamaian pada bulan Agustus 2015, namun kekerasan tetap saja berlangsung di beberapa daerah.
“Hanya 1 dari 10 siswa anak-anak di Sudan Selatan yang masuk sekolah menyelesaikan pendidikan dasar, di tengah kekurangan fasilitas dan guru terlatih,” ujar Ngyuen
“Anggaran pendidikan dari pemerintah sangat rendah untuk sektor pendidikan ini,” katanya.
“Anggaran untuk pertahanan mengambil persentase besar dari anggaran nasional, sedangkan untuk pendidikan hanya disisakan 4 persen,” kata Avelino Adrongo Said, Direktur Jenderal Perencanaan dan Anggaran di Kementerian Pendidikan.
Seperti diberitakan Al Jazeera, Rabu (13/1/2015), di seluruh dunia, hampir seperempat dari anak-anak di daerah konflik yang hilang kesempatan untuk mengenyam pendidikan, hampir 24 juta dari 109 juta yang tinggal di negara-negara berperang, adalah anak-anak.





