Membantu Ketahanan Pangan, Perhutani Perluas Lahan Tumpangsari

ilustrasi/ant

JAWA BARATTahun ini Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Sumedang siap membuka lahan tumpangsari di kawasan hutan untuk dimanfaatkan oleh para petani Masyarakat Desa Hutan (MDH) binaan Perhutani.

Pembukaan lahan tumpangsari tersebut seluas 1.200 hektare dari total luas kawasan hutan Perhutani KPH Sumedang 37.500 hektare.

“Pembukaan lahan tumpangsari ini, sebagai wujud Perum Perhutani KPH Sumedang ikut andil dalam membantu program ketahanan pangan nasional,” kata Kaur Humas Perum Perhutani KPH Sumedang, Nana Priatna seperti diberitakan PR Online, Rabu (13/1).

Pembukaan lahan tumpangsari itu bakal tersebar di setiap wilayah kawasan hutan. Bahkan lokasi lahannya berbeda dengan lahan tumpangsari tahun 2015 seluas 1.500 hektare.

Total pembukaan lahan tumpangsari dari tahun 2015 lalu sampai tahun 2016 ini sudah mencapai seluas 2.700 hektare.

“Jenis tanaman tumpangsarinya disesuaikan dengan komoditas unggulan daerah setempat, bisa padi, jagung, kacang tanah dan kedelai. Lahan tumpangsarinya di sela-sela jalur tegakan kayu Perhutani yang sudah dipanen (ditebang). Pemanfaatan lahan tumpangsari rata-rata bisa mencapai tiga tahun atau sebelum tanaman kayu Perhutani menutupi lahan tumpangsari,” tutur Nana.

Hasil panen tumpangsari, lanjut dia, mutlak milik para petani MDH, tanpa harus menyewa lahan atau pun bagi hasil. Hasil panen tersebut untuk menambah pendapatan mereka. Tak hanya pemanfaatan lahan hutan dan keuntungan hasil panen saja, para petani pun diberikan upah dari pekerjaan sampingan, seperti memikul bibit kayu dan membantu menanamnya. Bahkan kompos yang dibuat petani akan dibeli oleh Perhutani.

Advertisement