LEMBU ANDINI KEMBAR

Betara Penyarikan sengaja kirim lembu Andini palsu, karena takut dibuat kurban.

GAJAH Antisura adalah kendaraan dinas semua raja yang pernah bertahta di negeri Ngastina. Sejak Prabu Palasara, Sentanu, Kresna Dwipayana (Abiyasa), Pandu Dewanata, sampai kemudian Duryudana; semua menggunakan kendaraan yang sama. Dengan demikian usianya sudah demikian tua, ratusan tahun mungkin. Pernah Prabu Duryudana ingin mengadakan peremajaan, tapi anggarannya selalu dibintangi atau ditahan oleh DPR Ngastina. Alasannya, Gajah Antisura masih layak tumpak (naik).

Setiap hari jadi Ngastina tiba, Gajah Antisura menjadi titihan (kendaraan) resmi Prabu Duryudana saat memeriksa barisan. Namun sekarang mendadak gajah istana itu sakit, sehingga tak bisa dipakai untuk upacara hari jadi negeri Ngastina yang  baru saja lewat. Pakai mobil bak terbuka sih bisa-bisa saja, tapi kan menyalahi tradisi dan kehilangan sakralitasnya.

“Kita harus segera mencari titihan pengganti, tapi bagaimana dengan DPR?” ujar Prabu Duryudana pada patih Sengkuni.

“Kali ini tak ada alasan DPR untuk membintangi. Jika masih juga rewel, prinsip mereka “wani pira” kita jawab dengan “wani semene”. Gitu saja kok repot.” Jawab Patih Sengkuni sambil tunjukkan tinju, seakan siap berkelahi jika DPR masih macem-macem.

Ternyata di luar dugaan. Mendengar alasan Prabu Duryudana – Patih Sengkuni, kali ini DPR Ngastina demikian bolong silite (baca: legawa). Bintang siap dicabut. Cuma pengadaan barang itu ada sedikit perubahan. Demi sakralitas yang lebih tinggi, titihan raja Ngastina bukan lagi gajah, akan diganti sapi yang sekelas Lembu Andini kendaraan resmi Betara Guru di kahyangan Jonggring Salaka. Lagi lagi demi kepentingan nasional, DPR Ngastina hanya mengamini, malah ditambah amin amin ya rabil alamin.

            Kini keluarga besar Kurawa mengadakan rapat, bagaimana bisa memperoleh lembu sekelas titihan Betara Guru. Apa harus impor dari Australia, Selandia Baru, atau langsung Amerika. Tapi mendadak Pendita Durna selaku penasihat raja mengusulkan agar minta saja ke kahyangan, yakni lembu anak keturunan Lembu Andini. Ini jauh lebih sakral, karena DNA-nya langsung dari pusat kesapian.

“Tapi kita kan tidak memiliki akses ke Jonggring Salaka, bapa Durna.” Prabu Duryudana agak ragu.

“Sengkuni suruh jalan, nanti saya kasih memo untuk Betara Penyarikan. Dia kan kawan baik saya,” jawab Pendita Durna memberi jaminan, sekaligus mau menunjukkan pada publik bahwa dia punya kedekatan dengan petinggi Jonggring Salaka.

Memo untuk Betara Penyarikan sudah ada di tangan, tapi Patih Sengkuni masih juga nampak demikian masygul. Kenapa? Terus terang saja, dia kini sedang gundah gulana. Di kala dia tengah mengemban misi negara di kahyangan,  namanya tiba-tiba sering disebut-sebut dalam kemelut perpolitikan di negeri jiran. Apa dosa Sengkuni, sehingga namanya dikait-kaitkan dengan Amien Rais?

“Ini pencemaran nama baik, kapan-kapan saya gugat dia.” Protes Sengkuni.

“Sampeyan pelit, mana ada pengacara mau jadi pembelamu?” Ledek Dursosono.

Bedug subuh Patih Sengkuni sudah terbang dalam penerbangan pertama ke Jonggring Salaka, tapi menjadi penerbangan terakhir bagi Batavia Air. Pukul 10.00 WKB (Waktu Kahyangan Barat) patih Sengkuni tiba di gapura Sela Matangkep, pintu gerbang ke Jonggring Salaka. Lantaran ini misi rahasia, orang ke-2 Ngastina ini memilih lewat pintu samping, agar bisa ketemu Betara Penyarikan langsung, tanpa lewat pertemuan resmi dengan Betara Guru dan Patih Narada.

“Waduh. Gara-gara banjir semua sapi keturunan Lembu Andini diungsikan ke Tapos Bogor, numpang areal bekas peternakan Pak Harto.” kata Betara Penyarikan seusai membaca memo Pendita Durna.

“Ya ambilkan sapi mana kek, yang penting made in Jonggring Salaka.”

“Tapi saya, eh ulun,  nggak janji lho ya.”

Demikianlah, Patih Sengkuni terpaksa kembali nglenthung (tanpa hasil) ke ngercapada. Namun demikian dia sudah memberikan sekedar uang panjar Rp 1 miliar, dari harga yang disepakati Rp 40 miliar. Bila sapi impor dari kahyangan itu masuk, Ngastina siap kirim segerobak uang untuk Betara Penyarikan. Sengkuni memang sengaja pilih serahkan uang tunai, karena takut termonitor PPATK bila lewat transver bank.

Ternyata seminggu kemudian Patih Sengkuni sudah di SMS Betara Penyarikan  bahwa sapi Lembu Andini sudah disiapkan. Maka dengan gembira dan gegap gempita kembali Haryo Suman itu menuju kahyangan Jonggring Salaka. Ternyata benar, sapi benggala ala logo PDIP itu sudah tinggal membawa pulang.

“Sapi ini kira-kira makanannya apa, pukulun?” Sengkuni menggali informasi.

“Gampang gampang susah. Daun ubi impor, sayur-sayuran impor, rumput gajah impor. Tapi kalau ada, sayur lodeh juga mau.” Jawab Betara Penyarikan.

Melalui pesawat cargo Lembu Andini kembaran kendaraan Betara Guru itu telah tiba di istana Gajahoya (Ngastina). Sudah barang tentu Prabu Duryudana bergembira sekali, karena telah memiliki titihan baru, yang tak ada duanya di ngercapada. Pada HUT ke 123 negeri Ngastina bulan depan, Lembu Andini duplikat itu akan unjuk kebolehan, menjadi titihan pemeriksa barisan.

Srati (pawang) gajah Antisura segera menempatkan Lembu Andini di kandang khusus. Namun celaka tiga belas, esok paginya Lembu Andini ditemukan mati mecedel (keluar usus) karena diinjak-injak Gajah Antisura yang tak mau digeser posisinya. Prabu Duryudana marah pada Sengkuni, kenapa sapi sekelas Lembu Andini kok bisa tewas diinjak gajah. Di mana kesakralan dan kesaktian sapi made in kahyangan itu?

“Paman Sengkuni, harga dan barang kok tak sesuai. Paman mau mbathi ya?” tuduh Prabu Duryudana.

“Maaf anak prabu. Suwerrrr, dari kahyangan anggarannya juga segitu.”

Patih Sengkuni segera telpon minta pertanggungjawaban Betara Penyarikan. Jawabanya sungguh mengejutkan. Sekretaris kahyangan itu sengaja memalsu sapi tersebut. Bukan duplikat Lembu Andini, tapi sekedar sapi glonggongan yang diambil dari Boyolali. Walhasil, meski nampaknya gede dan gagah, tapi tubuhya berisi air doang.

“Sampeyan mau gugat silakan. Tapi yang jelas wayang ngercapada tak boleh meniru pakai titihan ala Lembu Andini, takutnya dibuat kurban. Bisa kuwalat…” kata Betara Penyarikan.

Lemeslah Patih Sengkuni. Tapi karena dana Rp 40 M itu tak juga dikembalikan kepada Ngastina, pers mengecam habis-habisan Betara Penyarikan. Maka gegerlah kahyangan Jonggring Salaka, ketika koran “Darma Kandha” menulis headline dengan huruf segede gajah: Penyarikan Korupsi Sapi. (Ki Guna Watoncarita)

 

 

           

Advertisement