LEMBUSURO LENA

Dengan iming-iming hadiah Dewi Tara, Subali sangat bersemangat bertempur melawan Lembusuro.

JUMLAH wanita di kahyangan Jonggring Salaka tak sebanyak di ngercapada.  Lebih-lebih menghadapi Lebaran 1439 H ini, stoknya sungguh tidak aman. Maka setelah Dewi Tari diboyong Dasamuka  sebagai permaisuri di Ngalengka, stok bidadari tercantik di kahyangan tinggal satu, Dewi Tara. Sesuai dengan namanya, tara memang ada kaitannya dengan istilah brutto dan netto. Jika brutto berat kotor, netto berat barang, dan tara adalah berat tempat. Nah, Dewi Tara saking cantiknya memang tempat yang sangat layak dan ideal untuk menuntaskan birahi lelaki.

Tapi gara-gara Dewi Tara pula, kini Betara Guru penguasa kahyangan Jonggring Salaka pusing, karena diteror oleh raja Lembusura – Maesasura dari Guwa Kiskendo. Tak ada angin tak ada hujan, tahu-tahu mereka melempar bom karbid tepat di alun-alun Repat Kepanasan. Teroris dari Guwa Kiskendo itu memang sekedar mau bikin kaget saja, sebab namanya dewa kena ledakan takkan juga mati.

“Tenang saja adhi Guru, Lembusuro-Maesasuro memang sekedar bikin kaget wayang kahyangan. Mereka tak seganas dan sekejam teroris di Indonesia,” kata Patih Narada menghibur.

“Memang tak bikin mati, tapi gerakan amaliah mereka bikin saya tidak bisa tidur. Jedar-jedor tiap jam, lalu kapan saya istirahat?” keluh SBG (Sanghyang Betara Guru).

Salah satu bom karbid itu ada yang gagal meletus. Ketika diambil dewa Betara Penyarikan ternyata terdapat tulisan, yang intinya mereka menginginkan Dewi Tara menjadi permaisurinya. Padahal, sesuai namanya mereka raja dan patih yang berkepala lembu dan kerbau,  mana mungkin kahyangan merelakan bidadari tercantiknya kawin dengan lembu atau kerbau. Nanti jika punya anak, lalu seperti apa bentuknya?

“Sangat tidak masuk akal. Sudah bentuknya raksasa, kepala lembu pula, kok pengin mengawini bidadari, itu kan bakal ngrusak turun (merusak generasi),” gumam Betara Guru.

“Itu koalisi aneh sekali, masak lembu kok ketemu sapi. Di ngercapada, lembu (PDIP) saja tak mau koalisi sama garuda (Gerindra).”

Lalu Betara Narada mencoba menakuti sekalian. Menolak itu memang hak kita, Cuma siap resikonya nggak jika kahyangan digempur pasukan dari Guwa Kiskenda. Memang itu yang tengah dipikirkan oleh Betara Guru.  Meski kahyangan juga punya pasukan penangkal musuh, tapi belakangan loyalitas mereka sangat berkurang. Dengan alasan gaji tidak cukup, banyak dewa serdadu yang ngobyek jadi satpam atau komisaris di perusahaan ngarcapada. Yang tidak jadi serdadu pun banyak dewa yang doyan gratifikasi dengan alasan sama: gaji selalu tekor.

Sabda pandita ratu, keputusan dewa tak bisa diganggu gugat, sehingga Betara Guru kirim fax ke Guwa Kiskendo, berisi penolakan atas lamaran Prabu Lembusuro. Alasannya: Dewi Tara sudah dialokasikan untuk wayang lain. “Silakan Saudara mencari istri yang lain, misalnya Dewi Persik.” tutup surat Betara Guru, tidak panjang tapi nyakitin.

Seperti telah diduga, penolakan kahyangan membuat murka Prabu Lembusuro dan patih Maesasuro. Keduanya segera mengamuk ke Jonggring Salaka. Tapi keduanya tertahan di gapura Sela Matangkep, tak bisa tembus ke Bale Marcakunda. Untuk pelampiasan, mereka ngamuk di alun-alun Repat Kepanasan. Pedagang K-5 di luar alun-alun yang cari rejeki menjelang Lebaran kalangkabut menyelamatkan diri. Mau dagang ke mana lagi? Dagang di Pasar Tanah Abang, juga dioprak-oprak Satpol PP.

“Kakang Narada, kita harus minta bala bantuan. Pertahanan kita hanya sementara, lama-lama mereka pasti bisa menjebol gapura Sela Matangkap. Bahaya kita….” Kata Betara Guru agak panik.

“Ke mana cari bantuan? Puasa puasa begini pada males disuruh perang.” Jawab Narada asal saja, karena dia sendiri juga males siang-siang cari tenaga ke ngercapada. Masak, dewa medhot puasa, gengsi dong!

Tapi daripada dicap patih anggota koalisi kok main dua kaki macam PAN, akhirnya Narada tinggalkan kahyangan Suduk Pangudal-udal, cari bala bantuan ke ngercapada. Tujuanya ke pertapan Sunyapringga tempat Subali – Sugriwa bertapa ngalong (niru kelelawar) sebagai penebus dosa saat berebut Cupu Manik Astagina tempo hari. Sebab sang ayah Resi Gotama kala itu memberi petunjuk, hanya dengan cara seperti itu akan kembali menjadi manusia seutuhnya.

“Buka dulu, udah bedug. Nih aku bawa kolak pisang,” tegur Patih Narada ramah kepada Sugriwa – Subali yang tengah bergelayut di cabang pohon besar, mirip kampret atau kelelawar.

“Apa iya? Di sini nggak ada TV, jadi nggak dengar adzan.” Jawab Sugriwa – Subali serempak.

Sambil berbuka kolak pisang Betara Narada mengutarakan tujuannya ke pertapan. Katanya, jika keduanya ingin meningkatkan karier, ini ada peluang emas jadi tokoh terkenal dan dekat kahyangan. Caranya, cukup membinasakan musuh kahyangan Lembusuro – Maesasuro di Guwa Kiskendo. Bonusnya, bidadari cantik Dewi Tara. Ini cara cepat mengubah nasib. Daripada bertapa melulu, kegiatan fiksi yang takkan dengan cepat mengubah nasib jadi manusia normal. Salah-salah malah dijadikan topeng monyet keliling kota.

“Janji pukulun bisa dipegang? Soalnya, pejabat biasanya ingkar janji.” Sugriwa – Subali menyelidik.

“Lihat siapa dulu pejabatnya. Narada tokoh paling amanah di kahyangan.” Jawab Narada kampanye, padahal Pemilu 2019 masih 11 bulan lagi.

Sugriwa – Subali menimbang rasa dengan cepat. Menang perang langsung dapat bidadari cantik, asyik banget. Maka sepeninggal Narada keduanya segera meluncur ke Guwa Kiskenda, dan bagi tugas. Subali menyerbu ke dalam, dan Sugriwa berjaga di mulut gua. Subali berpesan pada sang adik, jika aliran kali di gua berwarna merah, berarti Subali menang. Sebaliknya bila yang mengalir darah putih, berarti Subali tewas. Karenanya, Sugriwa harus menutup pintu gua dengan bebatuan, sehingga Lembusuro – Maesasuro mati kehabisan napas.

Subali segera masuk ke dalam gua dan Sugriwa menunggu dengan cemas. Satu jam kemudian ternyata air di kaki gua mengalir darah putih. Sugriwa menyaksikan dengan histeris, karena menyimpulkan Subali tewas. Buru-buru pintu gua ditutup dengan bebatuan, dan Sugriwa tancap gas ke kahyangan untuk mengklaim hadiahnya, Dewi Tara.

“Kakang Subali telah tewas melawan Lembusuro – Maesasuro, tapi kedua teroris itu juga mati tersekap dalam gua. Lalu Dewi Tara jadi hak siapa?” Sugriwa minta penjelasan.

“Dewa tak pernah ingkar janji. Subali tewas, kamu berhak memboyong Dewi Tara, nih kunci kamarnya.” Jawab Patih Narada.

Sementara Sugriwa “mbelah duren” bersama Dewi Tara, di Guwa Kiskenda Subali mencak-mencak. Masalahnya meski musuh kahyangan berhasil dibinasakan, mulut gua kadung ditableg (ditutup) batu oleh Sugriwa. Dengan ajian Pancasona miliknya, timbunan batu itu bisa dirontokkan. Subali keluar sambil menyeret mayat Lembusuro – Maerasuro berikut bangke Jotosura kendaraan musuh kahyangan itu. Lalu dilempar ke ngercapada, dan Subali bergegas ke kahyangan untuk mengklaim kemenangannya.

“Sorry, Tara sudah diambil Sugriwa, urus sendiri ke sana.” Kata Betara Narada.

“Ini miss informasi. Darah putih di kali itu bukan darahku tapi otak Lembusuro dan Maesasuro. Pekok juga nih anak….,” keluh Subali gusar.

Sepeninggal Subali Betara Narada segera ke Bale Marcakunda, untuk buka bersama Betara Guru. Di meja terlihat menu kahyangan yang serba lezat. Dilihatnya Hyang Manikmaya tengah memeriksa daftar ustadz yang boleh khotbah Idul Fitri di ngercapada nanti. Ada 200 nama yang disiapkan tahap pertama, yang dinilai isi ceramahnya adem tak memanas-manasi situasi.

“Nama susulan harus segera diumumkan, Adhi Guru. Sebab banyak yang protes.” Saran Betara Narada.

“Tenang, Dewan Dakwah Kahyangan sedang bekerja,” jawab Betara Guru, dan tak lama kemudian terdengar bedug maghrib. Para elit dewa itu segera berbuka, allahuma lakasumtu….. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement