JAKARTA – Letnan Kolonel Ratih Pusparini, seorang anggota TNI Angkatan Udara wanita yang menjalankan misi sebagai Pasukan Perdamaian PBB menceritakan kisah perjalanannya selama dia bertugas, dalam kesempatan Youth For Peace Camp 2019, yang diselenggarakan Dompet Dhuafa.
Letkol Ratih menceritakan pengalamannya ketika menjalankan misi ke daerah konflik di Kongo, Syria dan Lebanon, di hadapan para peserta Youth For Peace Camp 2019 yangmengusung tajuk ‘What Can Women Do in Peacebuilding?’.
“Pernah ketika orang lain mengatakan bahwa misi atau dinas luar negeri itu enak, bisa terima gaji besar. Oh come on, kami bertaruh nyawa di sana (daerah konflik). Kehidupan di sana tidak seperti kala di Indonesia, yang bisa bebas nonton film dan makan di restoran kapan saja. Sementara di luar sana sangat berbeda,” tuturnya, di Ruang Nagoya, Hotel Kuretakeso, Kemang, Jakarta Selatan, pada Sabtu (7/12/2019).
Dia melanjutkan, jika tantangan terberat selama bertugas sebagai seorang militer, ketika ia menjalankan misi di Syria, karena di harus hidup di tengah desingan peluru, ledakan bom dan roket di sekelilingnya.
“It’s a kind like a symphony of our life there. Tembakan dari mana-mana, dalam perjalanan kami hanya melihat itu dari dalam mobil anti peluru. Namun kawan saya sempat tertembak. Peluru masuk sol sepatu dan ia tidak menyadari itu. Ia hanya tahu bahwa kakinya terasa semakin panas dan ketika membuka sepatu keluarlah peluru tadi. Can you imagine our life there?,” seru Letkol Ratih.
Apalagi ketika dia melakukan perjalanan ke daerah konflik pertamanya di Kongo 2008, ia merasakan bahwa ‘ini lah hidupnya’. Yakni berada di antara saudara-saudara dalam suasana konflik, mengerjakan sesuatu di lapangan dan hasilnya langsung ia rasakan. Semuanya membuat dirinya sadar jika pekerjaannya tidak sia-sia dapat menolong orang lain.
“Saya pribadi masih mau menjalankan misi lagi. Ini semua bukan tentang uang atau pendapatan. Tapi bagaimana saya menemukan dunia saya di daerah misi,” tandasnya, dilaporkan Dhika Prabowo.





