
MASA liburan, baik menjelang pergantian tahun mau pun hari raya keagamaan biasanya menjadi ajang reuni perantau dengan sanak atau kerabat di kampung halaman atau liburan keluarga ke obyek-obyek wisata.
Sayangnya, sebagian pemudik harus berjejalan didera kemacetan dan kesemrawutan di sepanjang ruas jalan menuju destinasi, bersesakan di kapal-kapal dengan mengabaikan keselamatan atau menumpuk di stasiun KA atau bandara karena keterlambatan jadwal angkutan.
Pemandangan rutin ribuan kendaraan terjebak kemacetan parah setiap menjelang tutup tahun juga mewarnai kawasan wisata Puncak, Jawa Barat, Sabtu (23/12) dimana jarak sekitar 50 Km dari Jakarta itu harus ditempuh sampai tujuh jam.
Sampai kini, juga belum ada solusi jitu untuk mengatasi sistem transportasi dari dan menuju Puncak di musim libur, selain penanganan sementara melalui rekayasa lalin seperti buka-tutup jalur dan contra-flow.
Jika segera tidak dicarikan jalan keluarnya , jangan diharapkan wisatawan asing yang sangat sadar akan keamanan dan kenyamanan, tertarik untuk menyambangi obyek-obyek wisata si sekitar kawasan Puncak.
Memang sangat besar investasi yang harus ditanamkan untuk memperluas ruas jalan di lokasi yang di sisi kanannya sudah padat pemukiman atau membangun jalan toll di area perbukitan yang juga diselang-selingi lembah curam itu.
Sementara itu, kemacetan parah hingga tiga kilometer menjelang Gerbang Toll Brebes Timur, jawa Tengah tidak terhindarkan di di puncak liburan Natal dan Tahun Baru, Sabtu, bahkan ribuan kendaraan terjebak kemacetan sampai enam jam di ruas Pemalang – Pekalongan.
Selain akibat penumpukan kendaraan, kemacetan diperparah karena sejumlah pengendara tidak memiliki saldo cukup di kartu elektronik mereka walau pengelola sudah membuka empat gerbang toll tambahan dan melakukan layanan isi ulang kartu elektronik .
Kemacetan rutin di Pantura
Kemacetan lalin di kawasan Pantura tidak hanya terjadi di ruas-ruas jalan toll, tetapi juga di jalan-jalan arteri yang dijadikan ruas alternatif karena dilalui truk-truk pengangkut yang dilarang melintas di jalan toll menjelang puncak liburan.
Selain kerugian material terhadap kendaraan dan konsumsi bahan bakar, tidak jarang, transportasi jalan raya di saat puncak liburan membuahkan duka berakibat cacat permanen, bahkan tidak jarang berujung kematian akibat kecelakaan.
Sekitar 28.000 pengguna transportasi jalan raya tewas setiap tahun akibat kecelakaan di berbagai ruas jalan di Indonesia, jumlah terbesar kedua di ASEAN setelah Thailand dan korban terbanyak biasanya terjadi di hari H -7 atau H+ 7 Idul Fitri.
Transportasi udara, Sabtu, juga ditandai dengan keterlambatan jadwal penerbangan di 35 bandara di seluruh Indonesia, Sabtu dan 2.660 penerbangan sejak H-7 perayaan Natal, sejak Senin lalu (18/12).
Penumpukan calon penumpang juga terjadi di stasiun-stasiun KA di kota-kota besar di Jawa terutama Stasiun Ps. Senen dan Gambir di Jakarta (sejak Jumat, 22/12) walau kapasitas angkut dan frekuensi perjalanan KA sudah ditambah.
Pemesanan tiket KA tiga bulan sebelum perjalanan memang menguntungkan bagi calon penumpang dengan jadwal pasti, tetapi tidak bagi mereka yang mendadak bepergian karena satu dan lain urusan.
Bepergian dengan kapal antarpulau menjelang tutup tahun di tengah cuaca ekstrim gelombang tinggi saat ini juga berisiko, karena tidak jarang berujung musibah akibat longgarnya pengawasan tentang kelaikan layar dan batas muatan.
Keamanan dan kenyamanan transportasi yang dihasilkan dari tata kelola dan ketertiban penggunanya mencerminkan peradaban dan kemajuan suatu bangsa sehingga harus direncanakan lebih serius dari seluruh sudut persoalannya.




