Libya “PDKT” dengan Israel

Ilustrasi milisi di Libya Timur. Penguasa rezim petahana Libya, putera Muammar Khadafi dan elite lainnya dilaporkan PDKT dengan petinggi Israel.

TIDAK ada sahabat permanen, yang ada kepentingan abadi” ungkap pepatah lawas, begitu pula terkait hubungan antara negara-ngara Arab dengan seteru bebuyutan mereka, Israel.

Laman harian Suriah Al-Hadath dikutip Kompas (14/1) menyebutkan, PM Libya Abdulhamid al-Dabaiba bertemu pimpinan dinas rahasia Israel Mossad, David Barnea di Amman, Jordania guna membahas isu keamanan dan kemungkinan membuka hubungan diplomatik kedua negara.

Pemerintah Israel sendiri sejauh ini belum  berkomentar, dan dalam tradisi negara itu, tidak pernah memberitakan pertemuan rahasia antara pejabatnya dengan pejabat asing, kecuali dengan membocorkannya pada pers.

Sedangkan pihak Libya, seperti dikutip media Turki Daily Sabah (13/1) membantah adanya pertemuan itu, hanya menyebutkan, pihaknya dicoba dihubungi oleh  pimpinan Mossad, namun menolaknya.

Sementara koran Israel Haaretz melaporkan, putera Halifah Haftar yakni Saddam Haftar yang berkuasa di Libya Timur dilaporkan telah bertemu dengan pimpinan Mossad di Israel baru-baru ini, diduga minta dukungan pencalonan ayahnya menjadi presiden Libya.

Bahkan dilaporkan, Saddam telah menandatangani kontrak dengan perusahaan iklan di Israel untuk membantu kampanye ayahnya dalam pemilu Libya nanti.

Khalifa Haftar sebelumnya pernah meminta bantuan Israel untuk mengirimkan drone guna melawan pasukan pemerintah rezim  Kesepakatan Nasional Libya (GNA) yang dibantu Turki.

Pasukan Haftar kewalahan menghadapi pasukan GNA yang menggunakan drone-drone Bayraktar (TB-2) buatan Turki, namun kabarnya permintaan drone pada Israel ditolak karena alasan teknis.

Putera mendiang diktator Muammar Khadhafi, Saiful Islam Khadafi juga dilaporkan harian Haaretz sudah melakukan kontak-kontak dengan Israel sejak 2011 dalam upaya menyelamatkan rezim ayahnya.

Drone-drone tempur Bayraktar buatan Turki dan Kamikaze buatan Israel sudah terbukti sukses digunakan oleh tentara Azerbaizan dalam perang memperebutkan wilayah Nagorno Karabakh melawan Armenia tahun lalu.

Empat Negara Arab

Pada 2020 lalu saja tercatat empat negara Arab yakni Bahrain,  Maroko, Sudan dan Uni Emirat Arab  yang seara resmi membuka hubungan diplomatik dengan negara Yahudi itu, diduga berkat peran dinas rahasia Israel Mossad dalam program “Kesepakatan Ibrahim” (Abraham Accords).

Mesir sebelumnya di bawah Presiden Anwar Sadat menjalin hubungan dengan Israel di bawah PM Menachem Begin berdasarkan perjanjian Camp David, Amerika Serikat pada 1978.

Mesir sebelumnya terlibat perang besar melawan Israel, menjelang kemerdekaan negara Yahudi itu pada 1948, Perang Enam Hari 1967 dan Perang Yom Kippur 1973 yang berakhir kekalahan. Begitu juga Jordania yang babak-belur dalam Perang Enam Hari, berdamai dengan Israel pada 1994.

Sementara Arab Saudi yang tidak pernah terlibat perang langsung melawan Israel dan berada di kubu dunia Arab, musuh negara Yahudi tersebut, namun juga melakukan kontak-kontak secara rahasia.

Petemuan rahasia antara PM Israel saat itu, Benjamin Netanjahu dengan Putera Mahkota Saudi Pangeran Mohammad bin Salman (MBS) terungkap pada November tahun lalu.

Saudi secara diam-diam juga memberikan izin bagi maskapai penerbangan Israel El-Al melintasi koridor udaranya untuk rute penerbangan Dubai – Tel Aviv p.p.

Di dunia perpolitikan, baik dalam negeri mau pun di kancah global, orang sering tidak mengetahui persis, mana kawan mana lawan, semua bisa berubah sesuai kepentingan.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement