Lolu Bersholawat Kuatkan Penyintas untuk Bangkit Kembali

Jamaah Lolu bersholawat Ahad (28/10/2018). Foto:Maifil/KBK

SIGI – Air mata tumpah dari wajah penyintas dari Desa Jono Oge dan Lolu ketika mereka asyik masyuk mengikuti “Lolu Bersholawat” di Masjid Darurat Dompet Dhuafa di Posko 6, Lolu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Dompet Dhuafa mengadakan Lolu Bersholawat, Ahad malam (28/10/2018) untuk menguatkan kembali mental dan spiritual 1.267 jiwa dari 337 KK penyintas dari Desa Jono Oge dan Lolu yang rumah hancur karena likuifaksi ketika gempa 28 September 2018, lalu.

Hadir mengisi acara zikir dan tabligh akbar itu, Ustad Herman Budianto (Jakarta), Ustad Kopri Murzen (Riau), Ustad Badrusalim (Kebumen), Abdul Hakim (Tegal) dan Ustad Suhadi (Pekanbaru). Sholawat akbar itu, berkolaborasi dengan anak-anak penyintas di pengungsi Posko 6 tersebut.

Dalam tausiahnya Ustad Herman Budianto mengisahkan tentang cerita orang sholeh Lukmanul Hakim yang berjalan dengan anaknya. Ketika di tengah jalan sang anak mendapat musibah tersandung dengan tulang sehingga ia terluka. Namun sang anak mengumpat karena celaka itu. Lalu Lukman berkata, wahai anakku tidak baik mengumpat dan mengutuk ketika kita ditimpa musibah, ketahuilah sebenarnya Allah SWT sedang menghindarkan kita dari musibah yang lebih besar lagi dari musibah yang kita hadapi. “Bersabarlah dan Allah SWT sangat sayang dengan orang yang bersabar,” jelas Lukman.

Benar, apa yang dikatakan Lukman, ketika anaknya terluka ada jeda waktu membuat ia beristirahat dalam perjalanan untuk merawat lukanya, sehingga ia tidak terburu-buru untuk sampai ke kampungnya. Kalau tidak, tentu mereka akan termasuk korban dari bencana yang melanda kampungnya dan baru saja terjadi. Di mana kampungnya baru saja dibakar perampok bersenjata dan membunuh semua penghuni kampung tersebut.

Kisah yang diabadikan dalam beberapa kitab tafsir Al Quran ini, kata Ustad Herman, dapat kita ambil pelajaran bahwa bisa jadi musibah yang kita alami saat ini, Allah SWT sedang menghindarkan kita dari musibah yang lebih besar baik dunia maupun akhirat.

“Untuk itu bersabarlah dan bersemangatlah untuk kembali bangkit, bisa jadi Allah SWT menginginkan kita untuk menjadi hamba yang sholeh dan memilih kita untuk masuk surganya setelah mengambil hikmah dari musibah ini,” jelas Ustad Herman.

Mendengar tausiah dari ustad Herman, penyintas yang ikut dalam sholawat akbar itu kembali bersemangat dan matanya berbinar-binar. Mereka berdiri bersama dan dengan syahdu mengiringi sholawat yang dibimbing para guru dari Corp Dai Dompet Dhuafa (Cordofa) ini.

Akhir acara, sekitar pukul 11 malam Waktu Indonesia Tengah (WIT), para penyintas mendapat suguhan kopi hangat, teh hangat, jagung rebus, ubi rebus dan berbagai camilan lain yang telah disediakan Tim Darling (Dapur Keliling) Dompet Dhuafa yang parkir di depan masjid darurat itu.

Ketua Posko 6, Aping, berterimakasih kepada Dompet Dhuafa atas bimbingan spritual, perhatian, kepedulian dan bantuan yang disuguhkan kepada warganya.

“Kami butuh penguatan untuk bangkit kembali,” pungkas Aping.

Advertisement