NGANJUK – Retakan tanah di wilayah longsor di Nganjuk sudah terdeteksi sejak tahun 2015, dimana adanya retakan selebar 5-10 sentimeter dengan panjang 50 meter di perbukitan Dusun Dlopo.
Pada awal 2016, retakan tersebut meluas hingga mencapai lebar 20 sentimeter dan panjang 200 meter.
BPBD Kabupaten Nganjuk sudah memberitahukan informasi tersebut kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di lereng yang rawan longsor.
Pada Januari 2017, retakan bertambah lebar menjadi 30 sentimeter dan panjang 300 meter. Selanjutnya, pada Maret 2017 terjadi longsor kecil, yang kemudian dilaporkan masyarakat kepada aparat desa, dan disampaikan kepada BPBD Nganjuk.
Untuk mengantisipasi kemungkinan longsor, BPBD Nganjuk telah memasang rambu peringatan bahaya longsor. Namun, bencana tetap terjadi pada Minggu siang (9/4/2017).
Lima orang tertimbun oleh material lelongsoran dan hingga kini penyelamatan dan evakuasi korban terus dilakukan oleh BPBD Nganjuk bersama TNI, Polri, relawan dan masyarakat.
Kondisi medan sulit diakses dan alat berat tidak memungkinkan untuk menjangkau lokasi karena lebar jalan hanya 40 sentimeter. Komunikasi juga terkendala karena tidak ada sinyal selular.





