Longsor Tewaskan 24 Orang, Duterte Serukan Kembali Penutupan Area Penambangan

Badai mangkhut akibatkan longsor di Filipina/ Reuters

FILIPINA – Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengulangi seruannya untuk menutup semua area penambangan menyusul tanah longsor yang menewaskan puluhan orang, akibat topan mangkhut.

“Jika saya mencoba untuk melakukan hal, saya akan menutup semua penambangan di Filipina,” katanya, memimpin pertemuan tim respons bencana pemerintah, dilansir Reuters, Selasa (18/9/2018).

Duterte sering mengkritik industri pertambangan, mengatakan hanya menimbulkan kerusakan lingkungan yang lebih besar daripada manfaat ekonominya.

Sebelumnya Sekretaris Lingkungan dan Sumber Daya Alam Roy Cimatu juga telah menyerukan untuk menghentikan semua penambangan skala kecil di wilayah Cordillera, di mana tanah longsor menewaskan 24 orang.

“Kami memiliki masalah dengan industri pertambangan kami. Ini tidak memberikan kontribusi apa pun yang substansial pada ekonomi nasional, ”kata Duterte.

Tak lama setelah ia menjabat kantor pada tahun 2016, ia memperingatkan semua penambang untuk mengikuti aturan lingkungan yang lebih ketat atau untuk menutup, mengatakan bangsa bisa bertahan tanpa industri pertambangan.

Penambangan telah menjadi isu kontroversial di Filipina, pemasok bijih nikel nomor 2 dunia setelah Indonesia, karena kasus salah urus lingkungan.

Pemerintah memperkirakan bahwa 60-70 persen penambang skala kecil di negara ini beroperasi secara ilegal, banyak dari mereka menggali emas, perak dan kromit.

Topan Mangkhut, yang menghantam ujung utara Filipina pada Sabtu pagi, menewaskan sedikitnya 54 orang, banyak di antaranya akibat tanah longsor di area penambangan.

 

Advertisement