JAKARTA (KBK) – Ketika suara gemuruh mulai terdengar dari kejauhan, bibir Yana Sulistyana kembali bergetar mengucap takbir. Matanya terpejam ketika kilatan cahaya putih yang berasal dari gulungan awan hitam menjilat kaca apartementnya. Meski Yana telah tinggal di HongKong selama 12 tahun sebagai pekerja migran, namun hatinya tetap berdebar ketika mengetahui topan akan menerjang kota di pinggir Samudra Pasifik itu.
Setengah jam kemudian awan mendung yang sudah menggelayut sedari subuh mulai menurunkan hujan
dibarengi tiupan angin berkecepatan 200 km per jam, menandakan bahwa topan mangkhut telah mendarat. Pagi itu (16/9) HongKong layaknya kota mati dimana banyak sampah berterbangan dan tak sedikit mobil yang terparkir berantakan akibat diamuk manghkut.
Yana yang mendiami lantai 22 Shunlee apartment di district Kowloon Bay hanya bisa melihat kabut putih di balik jendela yang bergetar hebat. Samar-samar terkadang tampak pohon yang melayang karena akarnya tak lagi kuat menahan tiupan topan terkuat sejak tahun 1946 itu. Tak lama kemudian otoritas setempat mengeluarkan peringatan T10+ (signal tertinggi pada topan) dan apartement Yana pun mulai berayun.
“Apartement saya tiba-tiba goyang-goyang seperti gempa selama hampir 2 jam. Kepala jadi pusing,” ucap Yana yang juga aktif menjadi relawan Dompet Dhuafa HongKong.
Di tengah kepanikan yang melanda, hanya Al-quran yang menjadi pegangan Yana dalam melalui tiupan mangkhut. Sepanjang topan berlangsung Yana tak henti-hentinya bertilawah. Suasana kian mencekam saat Al-quran yang dipegangnya turut bergetar ketika guntur menghujam tanah.
“Waktu kejadian sangat sunyi, tak ada suara tangisan, minta tolong atau jeritan tetangga. Hanya suara tiupan angin saja yang menemani saya melewati topan,” ungkap Yana.
Setelah topan berlalu HongKong kembali bergeliat meski sekolah masih diliburkan selama 2 hari (senin dan selasa) karena masih banyak puing-puing yang bertebaran di jalan raya. Di pasar lain lagi ceritanya, harga sayur mayur melonjak 150 persen, begitu juga dengan harga ikan, daging sapi, telur dan daging ayam akibat pasokan dari China daratan yang masih belum normal.




