LPA Indonesia : Hati-Hati, Anak Korban Bencana Alam Jangan Sampai Jadi Korban Bencana Kemanusiaan Juga

Untuk menghibur anak-anak korban banjir Sumedang, Tim DMC DD bersama relawan Etos dirikan Pojok Bermain. Foto: DMC

JAKARTA (KBK) – Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPA Indonesia) sebelumnya dikenal bernama Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA), mengingatkan, anak adalah kelompok rentan yang terdampak dari bencana alam.

Hal itu disampaikan Ketua Umum LPA Indonesia Seto Mulyadi, yang akrab dipanggil Kak Seto kepada KBK, Senin (26/9/2016) melalui siaran persnya.

Diingatkan Kak Seto, dalam kondisi bencana, anak-anak membutuhkan dukungan khusus agar tidak menderita viktimisasi berulang, yakni sebagai korban bencana alam, lalu berlanjut menjadi korban bencana kemanusiaan berupa perdagangan anak.

“Untuk ini, otoritas keamanan harus bersiaga penuh untuk menangkal bencana kemanusiaan yang berpeluang terjadi menyusul bencana alam. Yaitu dengan memproteksi anak-anak yang terpisah dari orangtua (keluarga) mereka agar tidak dipindahkan, diperdagangkan, dan dieksploitasi,” jelas Kak Seto.

Dikatakannya, orang-orang yang datang dengan jubah pekerja sosial, rohaniwan, dan tim penyelamat lainnya tetap harus termonitor secara ketat. Berbagai catatan menunjukkan, salah satu modus sindikat perdagangan orang adalah memasuki daerah bencana dengan menyaru sebagai pembawa bala bantuan lalu mengincar anak-anak.

“Iming-iming membawa anak ke wilayah yang lebih aman, plus janji memenuhi kebutuhan anak, bisa dengan mudah membius orangtua yang tengah menghadapi kepayahan untuk serta-merta percaya pada para “penyelamat” tersebut,” tambahnya.

Dijelaskannya, walau minimal, kegiatan pendidikan bahkan sekolah perlu diaktivasi selekas mungkin. Rutinitas sekolah, apalagi dalam situasi bencana, merupakan unit yang sangat penting untuk memastikan anak-anak tetap terpantau dalam lingkungan yang relatif terkendali. Perpindahan anak ke luar lokasi bencana dapat ditangkal dengan itu.

Selain itu, rencana Pemerintah menerbitkan kartu identitas anak, yang terdata secara terpusat di tingkat nasional, juga bermanfaat sebagai acuan pelacakan jumlah anak-anak pra dan pascabencana.

Advertisement