SUMEDANG – Elis Desyani (43), warga Dusun Mareleng, Desa Cipelang, Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang menderita lumpuh setengah badan karena penyakit meningitis, namun semangatnya tak padam untuk memajukan usaha bandreknya hingga mampu diekspor ke luar negeri.
Keterbatasan fisik bukan halangan bagi istri Bambang Eko Saputra dan ibu dari Zalfa Nurobhi Alkan itu. Usaha yang ia geluti, yang kini diberi nama “Elida Hot Bandrek”, dimulai ketika ia suka membuatkan rebusan jahe untuk suaminya yang sedang batuk.
“Awalnya dari kebiasaan saya membuat rebusan jahe untuk suaminya saya untuk obat batuk dan masuk angin. Dipikir-pikir, lumayan juga kalau dari rebusan jahe ini dibuat bandrek lalu dijual atau dibisniskan. Saya langsung mencobanya dan menawarkan ke teman-teman saya. Alhamdulillah, menurut teman-teman saya, bandreknya enak. Lebih enak, bandrek di pasaran. Dari sana lah, saya termotivasi untuk berbisnis bandrek. Dari hasil eksperimen, akhirnya saya berhasil memproduksi bandrek siap seduh dengan berbagai rasa dan varian,” cerita Elis, Sabtu (11/2/2017).
Kini perempuan yang sehari-hari menjalani hidupnya dengan memakai kursi roda ini mampu melambungkan nama baik Sumedang sebab bandrek buatannya sudah tembus ke Kota Paris Perancis, Kota Melbourne dan Perth, Australia dan Dubai, Uni Emirat Arab, dengan cap “Made in Sumedang” Indonesia.
Sukses bisnis bandreknya itu, dilakukan melalui bisnis online di sejumlah media sosial. Komunikasi lewat online, Elis bisa saling kenal dengan para konsumen. Sistem penjualannya pun, pesanan via online.
“Saya berbisnis online, setelahnya belajar di salah satu lembaga secara gratis. Dengan belajar online itu lah, saya bisa membuat kemasan sendiri. Saya pun punya website sendiri untuk produk bandrek ini, yakni www.elidahotbandrek.com. Hanya saja, untuk pemasaran di luar negeri, belum bisa ekspor. Pemasarannya, masih lewat pesanan teman saya yang bekerja di luar negeri,” katanya, seperti dilansir PR.
Dengan bisnisnya tersebut Elis meraih omset yang tidak sedikit, yakni senilai puluhan juta rupiah per bulannya. Semangat dan perjuangannya di tengah keterbatasan membuktikan bahwa siapapun masih mampu berbuat apa aja asalkan memiliki niat, kemauan, usaha dan kerja keras.





