Tiga Megathrust Dipantau Ketat, Pakar: Potensi Besar Tak Berarti Gempa Segera Terjadi

JAKARTA, KBKNEWS.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau tiga segmen megathrust di Indonesia, yakni Mentawai-Siberut, Selat Sunda, dan Sumba.

Ketiga wilayah tersebut menjadi perhatian karena telah lama tidak mengalami gempa bermagnitudo besar. Meski demikian, kondisi tersebut bukan berarti gempa besar akan segera terjadi.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan, salah satu indikator yang diperhatikan adalah seismic gap, yakni wilayah yang memiliki potensi gempa tinggi tetapi belum mengalami pelepasan energi melalui gempa besar berdasarkan catatan sejarah.

Mentawai-Siberut dan Selat Sunda diketahui memiliki indikasi seismic gap. Namun, Daryono menegaskan indikator tersebut tidak dapat digunakan untuk menentukan kapan gempa akan terjadi.

“Secara ilmiah harus dibedakan antara memiliki kapasitas menghasilkan gempa besar dan akan segera mengalami gempa besar,” tegas Daryono.

Menurutnya, potensi gempa harus dinilai menggunakan berbagai parameter, mulai dari luas bidang kontak lempeng, kecepatan pergerakan lempeng, hingga tingkat penguncian atau coupling.

Data sejarah gempa dan tsunami, paleosismologi, GNSS/GPS, serta pengukuran geodesi juga digunakan untuk mengetahui akumulasi regangan pada kerak bumi.

Para ahli kemudian menggunakan model skenario rupture dan magnitudo maksimum (Mmax) untuk memperkirakan ukuran gempa terbesar yang secara fisik mungkin terjadi.

Daryono menekankan bahwa pemutakhiran Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 dilakukan agar pemetaan sumber gempa semakin detail berdasarkan perkembangan data dan penelitian.

Karena itu, masyarakat tidak perlu mengartikan pemantauan megathrust sebagai prediksi waktu terjadinya gempa. Pemantauan dilakukan untuk memahami potensi bahaya sekaligus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here