DAKARĀ (KBK) – Mesin radioterapi soliter di Rumah Sakit Dakar, Senegal, sejak 28 Desember tahun lalu, sudah berhenti beroperasi. Mesin menggunakan radioaktif cobalt-60 yang berfungsi untuk menghasilkan sinar gamma guna menghentikan tumor di organ dekat kulit di pasang pada tahun 1989.
Perangkat ini di negara maju sudah tidak dipakai lagi. Namun di Senegal mesin ini sangat berharga, dan satu-satunya yang ada untuk mengobati kanker warganya. Sayang, mesin itu telah rusak berkali-kali. Dan kini sudah tidak bisa beroperasi menyisakan operatornya yang menganggur dan menawarkan pengobatan alternatif kepada pasiennya.
Dokter yang akrab dengan teknologi ini mengatakan, mesin ini harusnya tidak lebih dari 20 tahun penggunaan.
Pemerintah Senegal menjanjikan akan ada bantuan dari tiga negara yang membantu, sehingga dapat untuk pengadaan alat baru yang direncanakan akan dipasang pada bulan Agustus 2017 ini.
Ketiadaan mesin radio terapi ini agak mengejutkan, mengingat rumah sakit Senegal adalah rumah sakit rujukan di sub-wilayah Afrika Barat.
Saat ini pasien harus melintasi perbatasan untuk mendapatkan diagnosa, perawatan dan operasi. Padahal rumah sakit yang berada di Ibukota Dakar ini adalah salahsatu rumah sakit yang memiliki unit penelitian dan beberapa mesin sekuensing DNA yang modern di benua itu.
Kekuatan sistem kesehatan negara di itu selama ini sudah terkenal dengan ilmu kedokteran yang membanggakan sejak lebih dari 100 tahun.
Mahasiswa kedokteran dari Aljazair dan Maroko bahkan datang ke Dakar untuk melakukan penelitian dan studi.
Hampir 15 juta orang tinggal di Senegal, namun hanya segelintir dokter yang fokus pada studi kanker.
Dikutip dari Al Jazeera, Dokter di negara maju merekomendasikan satu mesin radiasi atau akselerator linier untuk setiap 200.000 orang. Sementara Senegal hanya memiliki satu saja, dan tahun ini rusak dan menyebabkan lumpuhnya perawatan kanker di Senegal.





