MA Ketanggor 2 Kali

Karikatur tentang Hakim Agung Artidjo Alkostar. Dia palinditakuti para terpidana korupsi. (Repro: Pos Kota)

SETELAH Nurhadi sekretarisnya, kembali MA berurusan dengan KPK. Hakim  Agung Sudrajat Dimyati (64), beberapa hari lalu di-OTT KPK berkaitan dengan pengurusan perkara di MA. Berarti untuk kedua kalinya MA ketanggor (kena batunya). Pertama Nurhadi sang makelar kasus, dan kedua Sudrajat Dimyati yang rupanya tak kuat drajat. Mereka nantinya bakal ketemu di LP Sukamiskin Bandung. Publik pun menyayangkan, setelah ditinggal Hakim Agung Artidjo Alkostar MA kok jadi begini.

MA dikenal sebagai pintu terakhir keadilan, tapi dalam prakteknya bisa juga diterobos pihak-pihak yang terlibat kasus hukum. Celakanya oknum-oknum orang dalam justru memberi ruang untuk diterobosnya. Gembok peradilan itu bukan diterobos pakai kunci T, tapi kunci D alias duit. Oleh ulah mereka wet (hukum) dijadikan duwit! Soalnya duit itu memang gurih. Maka oknum MA yang baru saja terima sabetan perkara, bisa saja menyanyi, “Lihat kantongku penuh dengan uang, ada yang merah dan ada yang biru, setiap pagi kuhitung semua, duit menumpuk semuanya indah…….”

Mungkin Nurhadi saat jadi Sekretaris MA, sering menyanyikan lagu ini. Dia memang sosok yang sok suci, karena dengan pedenya pasang stiker di kantornya, “daerah bebas korupsi” padahal dia sendiri malah jadi praktisi. Ketika ulahnya sebagai makelar kasus berhasil dibongkar KPK, terungkap bahwa bukan saja dia, anak menantunya yang bernama Rizky Herbiono juga ikut jadi pendukung kejahatan mertua.

Keduanya kini sudah “kepenak nggone” di LP Sukamiskin Bandung. Giliran kini Sudrajat Dimyati yang jadi Hakim Agung sejak 2014, tak kuat juga imannya untuk membuat wet jadi duwit. Maklumlah, biasanya pegawai baik negeri maupun swasta menjelang pensiun harus punya tabungan banyak. Dengan demikian setelah penghasilan menurun drastis dari uang gaji menjadi uang pensiun, tak perlu stress.

Padahal jika diintip harta kekayaannya lewat LHKPN 2021, Sudrajat Dimyati tidaklah miskin-miskin amat, karena masih memiliki asset senilai Rp 10,7 miliar. Baik itu rumah, kendaraan, kapling maupun harta bergerak lainnya. Karenanya setelah pensiun Oktober 2023 nanti, niscaya masih bisa hidup nyaman dalam arti: turu, mangan, ngising, serba kepenak.

Mungkin Sudrajat masih punya banyak kemauan dengan harta sebanyak Rp 10,7 miliar itu. Mau menambah kekayaan lewat usaha dagang, bikin konten Youtube macam Deddy Corbuzier atau Atta Halilintar, merasa bukan bidangnya. Sesuai dengan bidang yang digeluti dan banyak dilakukan oknum-oknum hakim di bawahnya, dia merasa apa salahnya tiru-tiru? Pengalaman pahit “toilet DPR” saat mau uji kelayakan Hakim Agung di Senayan, agaknya tak menjadi peringatan lagi.

Maka ketika ada peluang dapat duit enak Rp 800 juta lewat perkara peradilan kasus Koperasi Simpan Pinjam Intidana, dia mau saja diajak bermain. Ee…..ternyata sepak terjangnya bersama rekan-rekan sudah diintip anak buah Firli Bahuri di KPK. Maka hari sial dan benar-benar sialan itu  terjadi malam Jumat keramat. Saat dia menerima duit enak tersebut langsung disergap penyidik KPK. Sungguh Sudrajat Dimyati tak pernah membayangkan, duit perkara Intidana ini bakal menjadikan dirinya jadi narapidana!

Gara-gara ulah dia, kita semua jadi ingat pemeo lama bahwa KUHP itu tak lebih akronim Kasih Uang Habis Perkara. Sudah ombyokan oknum hakim yang terjerat kasus korupsi lewat jalur wet jadi duwit tersebut. Lha kok Sudrajat Dimyati yang kelas Hakim Agung kok ya ikut-ikutan. Dia yang sedang menjaga pintu terakhir keadilan, bisa diterobos lewat kunci D (Duwit) itu tadi. Maka jangan heran bila orang Yogya tempat asalnya akan misuh (memaki), “Dasar Sudrajat ora kuwat drajat”.

Ketika belakangan MA banyak mendiskon vonis para terpidana korupsi lewat kasasi dan PK, mau tak mau publik jadi mengaitkan dengan kasusnya Sudrajat Dimyati ini, meski itu belum tentu kebenarannya. Yang jelas, rakyat melihat sepeninggal Artidjo Alkostar Hakim Agung yang terkenal “killer” itu, kok MA jadi  banyak obral diskon seperti Matahari dan Ramayana menjelang Lebaran.

Padahal di kala Artidjo Alkostar masih ada di Jl. Merdeka Utara Jakarta itu, para terpidana korupsi tak berani kasasi maupun PK, sebab hasilnya pasti hukuman malah diperberat. Artidjo Alkostar memang benci setengah mati pada para koruptor itu. Mereka memang tikus negara berdasi yang tak perlu dikasihani, karena cari duit tidak halal lewat kekuasaan yang dimilikinya. Negara bisa bangkrut gara-gara ulah mereka. (Cantrik Metaram)