Macron, Menyamaratakan Islam, Menabur Permusuhan

Tiga orang tewas dalam aksi penusukan dan pemenggalan oleh seorang remaja asal Tunisia yang masih dirahasiakan namanya di Basilika Notre-Dame, Nice, Perancis (29/10). Stigmatisasi negatif terhadap agama Islam yang dilakukan Presiden Emmanuel Macron justeru menyulut kemarahan umat Islam sedunia.

PRESIDEN Perancis Emmanuel Macron menuai kecaman dari sejumlah pemimpin negara Islam dan tokoh-tokoh Islam dunia karena ia dianggap memojokkan Islam dan menghina Nabi Muhammad SAW.

Entah bagaimana suasana batin Macron merespons aksi brutal remaja asal etnis wilayah kantong (enclave) muslim Chechnya di Kaukasus Utara , Rusia, Abdoullakh Anzorov yang memenggal tewas seorang guru sekolah menengah di Paris, Samuel Paty (16/10).

Singkat cerita, Paty dihadang, lalu dipengggal oleh Anzorov di pinggiran kota Paris, diduga karena guru olahraga  dan sejarah itu sebelumnya membahas karikatur Nabi Muhammad SAW di depan kelas mengggunakan referensi kartun di majalah majalah satire Charlie Hebdo yang menampilkan penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW.

Anzorov mendapatan info tentang yang dilakukan Paty dari salah satu orang tua murid, diduga anggota kelompok ekstrim yang kemudian menjadi salah satu dari 16 tersangka terkait pembunuhan itu.

Sebelumnya, kartun penggambaran sosok Nabi Muhammad SAW yang dimuat majalah satire Perancis, Charlie Hebdo telah memicu aksi kekerasan yang merenggut 12 nyawa dalam aksi penyerangan ke kantor redaksi majalah tersebut pada 7 Januari 2015.

Bagi umat Islam sendiri, penggambaran sosok Nabi Muhammad SAW tabu dan pihak lain yang melakukannya dianggap sebagai aksi penghinaan bagi agama yang dipeluk sekitar 1,9 milyar penduduk dunia.

Pada kejadian terakhir, seorang remaja asal Tunisia (21) yang masih dirahasiakan indentitasnya, namun menurut saksi mata, pelaku  meneriakkan “Allahu Akbar”, menewaskan tiga orang dengan senjata tajam, seorang diantaranya wanita, dipenggal di Basilika Notre-Dame, Nice (932 Km dari Paris), Kamis pagi 29 Okt.

Pernyataan yang dilontarkan Presiden Macron antara lain menganggap Islam sebagai ideologi teroris yang berkonspirasi untuk mengambil alih atau merebut “masa depan” negerinya.

Macron menegaskan, Perancis tidak akan tunduk oleh intimidasi dari  mana pun dan mengatakan pihaknya tidak akan berhenti menerbitkan atau membicarakan kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad SAW.

Paham sekularisme yang berlaku agaknya merupakan nilai-nilai yang menjadi identitas nasional Perancis sehingga menganggap membatasi kebebasan berekspresi untuk melindungi komunitas tertentu dianggap merusak persatuan.

“Kami tidak akan pernah menyerah, ,” seru Macron. Namun setelah kejadian itu, Perancis memberlakukan status siaga level tertinggi dengan mengerahkan sampai 7.000 tentara untuk berjaga-jaga di lokasi-lokasi rawan terhadap aksi-aksi kekerasn susulan.

Turki Boikot Produk Perancis

Sebaliknya, Presiden Turki Tayyip Recep Erdogan meminta warganya agar memboikot produk Perancis dan menuding Perancis lah yang menyulut terorisme.

Hubungan Perancis dan Turki yang sesama anggota NATO memang kurang rukun, misalnya dalam sengketa di wilayah Nagorno Karabakh, Kaukasus Selatan, bekas sempalan Uni Soviet, Perancis mendukung Armenia, sementara Turki di belakang Azerbaijan.

Perancis juga berada di belakang Yunani dalam sengketa terkait wilayah eksplorasi ladang minyak di lepas pantai Laut Mediteranea antara Turki dan Yunani yang juga sama-sama anggota NATO.

Sedangkan Kerajaan Arab Saudi dalam pernyataannya tanpa menyebut nama negara, menolak setiap upaya mengait-ngaitkan Islam dengan terorisme dan mengecam segala bentuk terorisme.

Iran sebaliknya menuding langsung Macron yang justru menyulut ekstrimisme dan mengingatkan, kebebasan berpikir dan kebebasan kultural harus dijunjung tinggi dengan sikap saling menghargai, toleransi dan damai.

Kecaman juga bergulir dari sejumlah negara Islam atau yang mayoritas penduduknya muslim seperti Qatar, Maroko dan Turki, Libya, Pakistan, Irak, Suriah, Bangladesh dan Palestina.

Pemerintah RI dalam pernyataannya melalui akun Twitter resmi @Kemlu_RI, Rabu (28/10) juga mengecam pernyataan Presiden Perancis Emmanuel Macron yang dinilai menghina agama Islam tanpa merinci lebih lanjut.

Hal sama disampaikan Menkopolhukam Mahfud MD melalui akunnya @mohmahfudmd pada hari yang sama mencuit kecaman dari pemerintah RI dan menyebutkan, Presiden Macron gagal paham tentang Islam.

“Kami akan panggil Dubes Perancis terkait pernyataan Macron soal karikatur Nabi Muhammad dan ia harus paham, Islam adalah agama rahmahtan lillalamin. Pemeluk agama apa pun bakal marah jika  agamanya dihina, “  kata Mahfud MD.

Sebelumnya Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah menilai sikap Presiden Perancis Emmanuel Macron yang membela penerbitan kartun Nabi Muhammad SAW dengan dalih kebebas berekspresi tidak pada tempatnya.

Menurut Ahmad Basarah, kebebasan berekspresi yang terkandung dalam ajaran Demokrasi bukan berarti setiap orang bebas melakukan apa saja hingga melanggar hak pihak lain.

Ketua PP Muhammadiyah, M. Dadang Kahmad meminta Macron menarik ucapannya dan meminta maaf pada umat muslim sedunia, karena tindakan dan sikapnya bisa menyulut permusuhan.

Sekjen Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU), Helmy Faishal Zaini, menyayangkan pernyataan tendensius Presiden Macron yang menyebutkan, Islam adalah  agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia.

Waketum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Muhyiddin Junaidi mengecam keras pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron tentang kartun Nabi Muhammad SAW yang menyebut Macron secara tak langsung sudah mendukung gerakan Islamophobia.

Segenap elemen bangsa di NKRI yang kaya akan ragam suku, ras dan agama, perlu mencamkan, kerukunan, kesatuan dan persatuan hanya bisa terjaga, jika semangat toleransi, keterbukaan dan saling menghargai selalu dikedepankan, bukannya sikap permusuhan atau kebencian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement