DI sela-sela Rakernas Apeksi (Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia) di Makasar beberapa hari lalu, tiba-tiba Menhan Prabowo minta izin kepada Walikota Makasar khususnya dan masyarakat setempat pada umumnya, untuk memindahkan makam Pahlawan Nasional Pangeran Dipanegoro ke kampung halamannya, Yogyakarta.
Usulan ini bikin kaget publik untuk kesekian kalinya. Sebab bukan sekali ini saja Prabowo melemparkan usulan yang sama. Terutama beliaunya menggaungkan usulan tersebut setiap menjelang Pilpres, di mana Prabowo termasuk jadi pesertanya. Kenapa Prabowo kok sampai cawe-cawe soal makam Pangeran Diponegoro segala? Publik akan lebih berterima kasih jika Prabowo justru mau bicara di mana makam 13 aktivis yang jadi korban penculikan di masa Orde Baru.
Karena di kolom ini tak boleh ngompol (ngomong politik), penulis hanya bisa membatin: usulan Menhan ini kok yang mboten-mboten saja. Lebih baik dia ngomong soal Food Station (Lumbung Pangan) yang menjadi tanggungjawabnya, atau membatalkan saja pembelian pesawat tempur bekas dari Qatar yang menelan anggaran Rp 12 triliun. Atau ngomong saja soal olahraga kuda yang menjadi hobinya. Atau juga mungkin Prabowo bisa menjelaskan, adakah nggak sih sebenarnya Lebaran Kuda yang pernah dilansir Presiden SBY itu. Mungkin saat sama-sama studi di Akabri Magelang, SBY pernah berbagi ilmu masalah Lebaran Kuda.
Ketimbang ngungkit-ungkit soal makam Pangeran Diponegoro, apa lagi memindahkan makamnya, itu kan mengganggu ketenangan almarhum di alam sana. Ingat, sebuah hadits mengatakan, “Siapa orang yang mematahkan tulang mayit itu, sama seperti mematahkan tulangnya ketika dia masih hidup. Itu artinya ketika seseorang memindahkan mayit yang bisa menyebabkan patah tulangnya atau retak karena diangkat ataupun dipindahkan, maka kita telah melukai dan mencederai kehormatan mayit tersebut.”
Merujuk hadits tersebut, mazhab Maliki membolehkan pemindahan makam dengan syarat tidak terjadi perusakan pada tubuh mayat; tidak menurunkan martabat mayat; dan pemindahakan dilakukan atas dasar kemaslahatan. Alasan kemaslahatan itu di antaranya untuk memudahkan peziarah atau dimakamkan di tengah makam keluarga. Dengan kata lain, tanpa alasan mendasar haram hukumnya memindahkan makam.
Sebelum melempar usulannya tersebut, mestinya Prabowo bisa konsultasi dulu dengan ustadz Abdul Somad yang cukup dekat dengannya. Beliaunya pasti akan menjelaskan panjang lebar manfaat dan mudlaratnya. Contoh paling mudah, makam Nabi Muhammad pun dari dulu tetap di mesjid Nabawi di Madinah tempat wafatnya, tak pernah ada usulan memindahkan ke Mekah tempat kelahirannya, oleh raja Arab sekalipun.
Oleh karenanya usulan Prabowo yang mboten-mboten itu menimbulkan reaksi tegas dari Kraton Yogyakarta. Ngersa Dalem Sultan HB X menolak usulan itu dengan alasan, di Makasar sana makam Pangeran Diponegoro juga dirawat dan dimuliakan. Bahkan Hamzah Diponegoro juru kunci makam sekaligus keturunan generasi ke-5 juga mengatakan, ada wasiyat almarhum bahwa sepeninggalnya tak perlu dipulangkan ke Tanah Jawa.
Pangeran Diponegoro lahir di Tegalrejo Yogyarta pada 11 Nopember 1785 dan wafat di tempat pembuangan Makasar pada 8 Januari 1855. Makam Pangeran Diponegoro terletak di Jalan Diponegoro, Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo, Makassar, Sulawesi Selatan. Beliau sendiri yang menentukan titik makamnya, dan pemerintah Belanda melaksanakan setelah konsultasi dengan raja setempat kala itu. Di tempat ini pula banyak trah Diponegaran dimakamkan.
Bagi generasi Z sekarang ini, mungkin tahunya Pangeran Diponegoro hanyalah nama Jalan di depan RS Cipto Mangunkusuma Jakarta, atau nama universitas negeri di Semarang. Dalam bentuk patung bisa dilihat di taman Silang Monas, tugu perbatasan Jateng-Jabar di Kabupaten Cilacap. Dalam bentuk uang pernah diterbitkan Bank Indonesia pada tahun emisi 1975 untuk pecahan Rp 1.000,-
Pangeran Diponegoro adalah Pahlawan Nasional yang ditetapkan pemerintahan era Orde Baru 6 Nopember 1973. Beliau pejuang kemerdekaan Indonesia di abad 18, tepatnya memimpin perang melawan Belanda selama 5 tahun (1825-1830). Kas pemerintah Belanda nyaris tanpa saldo gara-gara Perang Diponegoro, sehingga oleh Jendral De Cock Pangeran Diponegoro dijebak dan dilucuti dalam perundingan di kantor residen Magelang, tepatnya 25 Maret 1830. Selanjutnya Pangeran Diponegoro dan keluarganya diasingkan ke Makasar selama 25 tahun hingga akhir hayatnya.
Pangeran Diponegoro putra Sultan Hamengkubuwono III, nama kecilnya BRM Mustahar, sering juga disebut BRM Ontowiryo. Peperangan dipicu oleh kesemena-menaan Belanda menggusur makam keluarga Diponegoro di Tegalrejo. Tidak kurang dari 200.000 nyawa melayang selama Perang Diponegoro berlangsung. Tokoh penting yang membantu Pangeran Diponegoro adalah Kiyai Mojo dan Sentot Alibasah Prawirodirjo. Sebagai loyalis Pangeran Diponegoro, Kiyai Mojo dibuang ke Tondano Minahasa (Sulut), dan Sentot ke Bengkulu.
Penulis sendiri kenal sosok Pangeran Diponegoro bukan saja setelah duduk di bangku SR, tapi sejak usia 5-6 tahunan. Sebab Siwo Sikus pakde penulis sering menghiburku dengan menggambar Pangeran Diponegoro, ketika penulis nangis. Menggambarnya pakai pensil, dengan sorban di kepalanya yang khas. Bahkan kakakku perempuan sejak SR sering menyanyikan lagu Pangeran Diponegoro sembari mandi. “Pangeran Diponegoro pahlawan yang sejati, seorang pendekar satria, satria yang lurus hati..….” (Cantrik Metaram)





