JAKARTA – Virus Echovirus menyebabkan wabah pada puluhan bayi di beberapa negara di Eropa. Virus ini telah menyebar luas di negara-negara seperti Perancis, Italia, Kroasia, Spanyol, Swedia, dan Britania Raya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengeluarkan peringatan karena banyak bayi yang terinfeksi virus ini telah meninggal dunia.
Pada akhir Juni, dilaporkan terdapat 25 kasus infeksi Echovirus pada bayi yang baru lahir. Dari jumlah tersebut, 8 bayi meninggal dunia, sementara sisanya mengalami kegagalan fungsi organ dan sepsis. Keadaan ini menjadi perhatian dan perlu diwaspadai oleh dunia.
Echovirus adalah salah satu jenis dari keluarga Enterovirus yang umumnya berdiam di saluran pencernaan. Singkatan “Echo” sendiri berasal dari “enteric cytopathic human orphan”. Ada 29 jenis Echovirus yang diketahui dapat menginfeksi manusia.
Banyak kasus infeksi Echovirus tidak menimbulkan gejala yang serius. Namun, Echovirus jenis 11 dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius bahkan kematian pada bayi dan anak-anak.
Penyebaran Echovirus biasanya terjadi melalui partikel feses. Pada bayi, penularan virus ini dapat terjadi saat melalui proses persalinan dari ibu yang terinfeksi.
Bayi dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah juga berisiko tinggi terinfeksi virus ini. Oleh karena itu, pencegahan dan langkah-langkah kebersihan menjadi sangat penting dalam mengatasi wabah ini.
Berikut gejala yang mungkin muncul pada infeksi echovirus:
• Demam
• Diare
• Ruam
• Penyakit kuning
• Hidup tersumbat
• Batuk
• Sakit kepala
Echovirus-11 juga bisa memicu berbagai penyakit lain yang dapat mengancam nyawa pengidapnya, terutama bayi dan anak-anak, seperti:
• Sepsis. Infeksi parah yang menyerang seluruh tubuh.
• Meningoencephalitis. Pembengkakan selaput otak.
• Myocarditis. Pembengkakan otot jantung.
• Hepatitis. Pembengkakan hati.
• Ensefalitis. Pembengkakan otak.
Gejala yang muncul bisa bertahap atau malah lebih cepat pada orang yang berbeda. Namun, gejala ini cenderung muncul lebih cepat pada bayi.
Komplikasi Echovirus -11Â
Pada jenis Echovirus yang lain, hingga saat ini belum ada bukti yang menunjukkan bahwa infeksi Echovirus yang dialami oleh ibu selama hamil dan persalinan akan menyebabkan gangguan kesehatan serius pada janin.
Namun, perlu diingat bahwa bayi yang terinfeksi dengan Echovirus-11 memiliki risiko mengalami berbagai komplikasi serius, seperti kerusakan permanen pada organ vital hingga kelumpuhan.
Pengobatan Echovirus-11
Hingga saat ini, belum ada vaksin yang dapat mencegah atau mengurangi risiko infeksi Echovirus. Echovirus dapat berada dalam tubuh setiap orang, tetapi tidak selalu menimbulkan gejala. Beberapa orang mungkin mengalami gejala ringan yang akan sembuh dengan sendirinya.
Cara terbaik untuk mencegah infeksi dan mengurangi penyebaran Echovirus adalah dengan rajin mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir. Selain itu, perlu membersihkan benda-benda di rumah yang sering disentuh atau digunakan.
Sebagai langkah pengobatan, dokter biasanya akan berfokus pada usaha untuk meredakan gejala yang muncul, seperti:
- Memberikan Alat Bantu Napas
Memberikan selang oksigen atau alat bantu pernapasan lain seperti ventilator agar pasien mendapatkan oksigen yang cukup.
- Memberikan Obat
Pilihan obat yang diberikan bertujuan untuk mengurangi peradangan atau penumpukan cairan pada bagian organ tertentu. Hal ini diperlukan untuk membantu menurunkan tekanan pada jantung dan ginjal saat terlalu banyak cairan yang menumpuk di sekitarnya.
- Menurunkan Demam
Demam merupakan salah satu gejala yang mungkin setelah terinfeksi. Langkah perawatan yang bisa dilakukan adalah memberikan obat penurun demam kepada pasien.
- Transplantasi Organ
Untuk kasus organ rusak atau mulai mengalami kegagalan, dokter bisa menyarankan untuk melakukan transplantasi organ.
Bukan tidak mungkin penyebaran echovirus bisa makin meluas. Untuk itu, selalu jaga kebersihan untuk menurunkan risiko bayi terkena berbagai penyakit.
Belum Ditemukan di Indonesia dan Negara ASEAN
Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Mohammad Syahril, menyatakan bahwa Enterovirus-11 (Echovirus-11) belum ditemukan di Indonesia maupun negara-negara ASEAN. Menurutnya, berdasarkan penelusuran di platform Bluedot, Enterovirus belum terdeteksi di wilayah tersebut.
“Sejauh ini, yang terdeteksi di Laboratorium Nasional Sri Oemijati adalah jenis Enterovirus 71 (EV-71) karena termasuk dalam program surveilans penyakit tangan, kaki, dan mulut (Hand, Foot, and Mouth Disease/HFMD),” katanya dilansir dari Antara.
Namun, terkait Enterovirus-11 yang menyebabkan infeksi pada beberapa bayi baru lahir di Eropa, pemeriksaan belum dilakukan di Indonesia.
Syahril menjelaskan bahwa ada tiga laboratorium di Indonesia yang dapat mengidentifikasi Enterovirus-11, yaitu Laboratorium Sri Oemijati Jakarta, Laboratorium Biofarma Bandung, dan Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya.
“Alat diagnosis Enterovirus di laboratorium dengan identifikasi kultur dan PCR untuk Enterovirus 71 dan polio virus. Untuk Enterovirus 11 dapat diidentifikasi melalui real time PCR dan sekuensing,” katanya.
Syahril menambahkan, upaya pencegahan Enterovirus secara umum adalah dengan menjaga kebersihan pribadi dan lingkungan dengan baik sebagai metode utama pencegahan.





