DAMPAK dari ekonomi global ternyata berimbas ke makanan global. Anak-anak produk tahun 1990-an ke atas, kini lebih akrab dengan hamburger dan Pizza Hut. Sedangkan makanan kampung atau tradisional seperti gemblong (juadah), wajik, sengkulun (semacam wingko Babat), rengginang; mulai dilupakan. Tahun 2050 nanti, Indonesia mungkin sudah berwajah Eropa sampai ke lidah-lidahnya.
Tahun 2000-an seorang bapak asal daerah DI Yogyakarta, sepulang dari kampung bawa oleh-oleh geblek Wates (Kulon Progo), yang bahannya dari pathi singkong digoreng membentuk angka 8 dan digabung-gabung. Saat melewati pintu detector di Bandara Adicipto, petugas minta bungkusan itu dibuka, karena dilayar nampak mencurigakan. Begitu isinya geblek dari Wates, petugas tersenyum. Padahal sesampainya di Jakarta, sang anak sama sekali tak mau menyentuhnya.
Lain waktu dibawakan pula kue satu (dari ketan) khas Purworejo (Jateng). Anak-anak juga tidak doyan. Ibunya merebus singkong, dilirik juga tidak. Padahal jika dibawakan oleh-oleh yang belinya di Holland Backery, berebut mereka menikmatinya. Pengaruh era gombalisasi, selera lidah anak-anak sekarang berubah drastis. Mereka lebih akrab dengan makanan produk Barat, ketimbang milik bangsa sendiri.
Anak-anak perempuan ABG sekarang, suka mencoba bikin sendiri makanan Barat sebagaimana Kimchi (Korea), Sushi (Jepang), dan Kimbab (Korea). Tapi hanya mereka nikmati sendiri. Sebab orangtuanya, bapak dan ibu berikut sang nenek dan kakek, tidak doyan karena tak bisa menikmati. Katanya, makanan Eropa justru bikin mules dan berdampak ke diare.
Lidah manusia produk 1950-1980-an ke belakang, memang beda dengan bocah produk 1990-an ke atas. Selera anak sekarang kekinian, selera para orangtua cenderung konservatif. Bocah sekarang diberi lanting (makanan khas Kebumen) makannya minggrang-minggring, sebaliknya orangtua dikasih hamburger juga gaber-gaber.
Pizza Hut yang jadi fitsa hats versi Novel Bamukmin, bagi anak sekarang, nikmatnya luar biasa. Padahal bagi orangtua yang made in Jawa Tengah misalnya, rasanya kok kayak kemplang tapi ada pedes-pedesnya. Ayam goreng tepung Kentucky dalam bentuk duplikat, akan dipertanyakan lidah tua orang Jawa. “Kok banyakan tepungnya ketimbang dagingnya? Ini jualan tepung atau daging ayam?”
Berkat pengaruh internet dan medsos, kini terjadi revolusi lidah orang Indonesia. Banyak yang melupakan makanan dan menu tradisional, beralih ke menu Barat yang terkesan modern. Di Yogyakarta saja, bakso yang khas kota itu sudah punah, berganti seperti laiknya bakso Jakarta, yang aslinya dari Wonogiri. Diakui atau tidak, bakso Wonogiri memang sudah mendominasi. Tapi kata orang Yogya, dengan menu asli seperti dulu, harga bakso bisa menjadi lebih mahal.
Makanan tradisionil kini lambat laun mulai terlupakan. Kue ganjel ril (dari tepung gaplek) sudah punah, kue moho (semacam bolu kukus), sudah jarang yang bikin. Bolu klumbeng, meski masih diproduksi, rasanya sudah tak selezat dulu. Meski dulu banyak dihidangkan di tempat pelayatan, masih terasa sedap, kemut-kemut macam karet busa, meski sambil makan harus banyak minum.
Kue bolumprit yang warnanya merah dan putih, juga sudah punah. Begitu juga kue amandel (kue berisi kacang), juga sudah lama wasalam. Martabak manis pun, yang tahun 1970-an hanya rasa kacang, kini dibuat model-model dengan rasa coklat, keju, strawbery. Bahkan bakso Pathok dari Yogya, isinya tak melulu kacang ijo, tapi juga rasa keju dan rasa coklat. Enak buat anak-anak sekarang, tapi matur nuwun buat kalangan orangtua.
Dikhawatirkan tahun 2050 nanti, makanan tradisional hilang, berganti dengan serba menu Barat. Presiden Jokowi mencoba mengajak bangsa Indonesia ke jatidirinya lewat Trisakti Bung Karno. Bisakah berhasil? (Cantrik Metaram).





