Malaikat Maut di Jalan Raya

Truk trailer penebar maut di Bekasi (31/8). Setiap tiga jam tiga orang tewas akibat kecelakaan di jalan raya di Indonesia. Kapan lagi angkutan jalan raya terutama sistem keselamatan penggunanya dibenahi total agar nyawa warga tidak terbuang ia-sia

MALAIKAT maut agaknya betah dan selalu mengintai pengendara atau pelalu lalang di berbagai ruas jalan di negeri ini mengingat tingginya angka kecelakaan yang terjadi sepanjang tahun.

Bayangkan! Di tigkat nasional, tiap tiga jam sekali, ada seorang meregang nyawa akibat kecelakaan lalu lintas (lakalantas) di ruas jalan-jalan raya di Indonesia.

Data dari Korlantas menyebutkan, selama 2021 terjadi 103.646 lakalantas menewaskan 25.266 orang, 10.663 korban mengalami luka-luka berat dan 117.912 orang luka ringan, sedangkan kerugian materi ditaksir Rp246 miliar.

Dua tragedi lakalantas masing-masing merenggut 10 nyawa dan puluhan korban luka-luka terjadi dalam kurun waktu 45 hari di Kota Bekasi.

Lakalantas Maut di Bekasi

Yang teranyar di Jl. Sultan Agung, Bekasi Barat Rabu (31/8) pukul 10.00 pagi saat truk memuat besi beton melaju dari arah Kranji  Kranji menuju Cakung, Jakarta Timur, menabrak Menara BTS di depan  SDN Kota Baru II dan III.

Empat anak didik yang sedang menanti jemputan atau angkota tewas mengenaskan, 18 lainnya luka-luka, belum termasuk lima korban dewasa yang juga meninggal dan lima lainnya luka-luka. Seluruhnya 10 korban tewas dan 33 luka-luka.

Bisa dibayangkan kesedihan tak terperi, orang tua atau keluarga yang menjemput para korban atau menanti kepulangan mereka dari sekolah, saat kenyataan, anak-anak atau saudara terkasih mereka pulang tanpa nyawa.

Begitu juga keluarga korban lainnya yang saat itu mungkin sedang keluar rumah untuk bekerja atau mencari nafkah, juga pulang tinggal jasadnya.

Berita lakalantas, nyaris tak pernah lowong di di media di negeri ini, mungkin jika korban bukan sanak atau kerabat, orang tak memerdulikannya, karena sudah santapan rutin di media.

Namun berbeda dengan mereka yang kehilangan anak, cucu, orang terkasih yang mati sia-sia. Duka mendalam, trauma dan rasa kehilangan bisa tak pernah pupus selama bertahun-tahun bahkan mungkin sampai akhir hayat mereka.

Pada lakalantas sebelumnya di Bekasi, terjadi di perempatan lampu lalu-lintas di perempatan Jalan alternatif Cibubur Transyogi, Kel. Jatirangga, Kec. Jatirangga menewaskan 10 orang .

Truk tanki PT Pertamina Patra yang melaju kencang di jalanan menurun ke arah Cileungsi, Bogor menabrak dua kendaraan roda empat dan 10 sepeda motor yang sedang stop di lampu merah.

Segenap pemangku kepentingan seperti Korlantas, Ditjen Perhubungan Darat, Kemenhub, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), para pakar dan lainnya harus lebih serius mengupayakan keselamatan bagi pengendara atau pengguna jalan raya lainnya.

Begitu pula dengan kompetensi mengemudi, surat kelayakan kendaraan, juga peraturan perlu dievaluasi lagi karena tingginya angka korban seharusnya menjadi warning keras bagi para pemangku kepentingan untuk tidak menganggap lakalantas “business as usual”.

“SIM nembak” tanpa tes atau dipermudah tesnya, surat kir (sertifikasi kelayakan kendaraan) yang dibuat asal-asalan (asal bayar), kongkalingkong dalam pelanggaran lantas dan banyak hal harus diawasi dan dibenahi.

“Ayo bapak-ibu, selamatkan warga kita terutama anak-anak dari korban lakalantas!”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement