Gorbachev, Dipuja Dunia, Dicerca Bangsanya

Presiden Uni Soviet terakhir, perancang glastnost dan perestroika (keterbukaan dan restrukturisasi) Soviet yang juga penyandang Hadiah Nobel Perdamaian wafat karena sakit di Moskow 29 Agustus lalu dalam usia 91 tahun..

MIKHAIL Gorbachev, pemimpin tertinggi Uni Soviet terakhir, wafat karena sakit setelah dirawat di sebuah RS di Moskwa, Rusia, Selasa lalu (30/8) dalam usia 91 tahun.

Bagi masyarakat dunia, Gorbachev yang dikenal dengan konsepnya: glastnost (keterbukaan), perestroika (restrukturisasi) dan demokratiatsiya (demokratisasi) berperan besar mengubah era Perang Dingin antara Timur dan Barat.

Glastnost diharapkan akan mengubah dunia dari era konflik ke era kemitraan, perestroika meningkatkan efisiensi dan daya saing Uni Soviet, begitu pula demokrtatizatsia yang diharapkan meningkatkan kebebasan dari belenggu ketertutupan Soviet dari rezim otoriter komunis sebelumnya.

Lahir di Privolnoye, Rusia, pada 2 Maret 1931, ia tampil sebagai loyalis Partai Komunis Uni Soviet (PKUS) sangat dihormati oleh pihak Barat  termasuk seteru bebuyutannya, Amerika Serikat yang bahkan menganggapnya sebagai pahlawan.

Ketegangan yang terjadi antara negara-negara Barat yang menerapkan paham liberalisme berideologi demokrasi dan negara-negara Timur yang berpaham komunisme , saat Uni Soviet di bawah kepemimpinan Gorbachev, mereda.

Perlombaan senjata pemusnah massal (nuklir) antara pihak Barat dipimpin AS bersama negara-negara aliansi pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Soviet bersama Pakta Warsawa, mereda.

Dengan peran yang dimainkanya dalam perubahan radikal terkait hubungan Timur – Barat, Gorbachev mendapat anugerah Hadiah Nobel Perdamaian pada 1990.

Kontribusi Gorbachev menciptakan perdamaian antara lain menandatangani traktat kesepakatan nuklir dengan Presiden AS Ronald Reagan, membiarkan runtuhnya Tembok Berlin pada 1989 dan menarik pasukan Soviet dari Afghanistan.

Bahkan saat melawat ke Berlin beberaa saat sebelum tembok berlin runtuh, ia menyindir Presiden Jertim Erich Honecker yang  tidak sejalan dengannya, Gorbachev menyindir: “Opozdavshiye budut nakazany samoy zhinzn’yu“ (Siapa yang tidak berubah, akan digilas perubahan).

Dianggap Penghianat

Ironisnya, Gorbachev dianggap penghianat oleh bangsanya sendiri karena di tangannya, “imperium” raksasa Uni Soviet runtuh pada 25 Des. ’91  menjadi 16 sempalan negara yang berdiri sendiri.

Tidak hanya itu, bahkan sebagian negara sempalan Soviet malah “membelot” menjadi anggota NATO seperti Latvia, Lithuania dan Estonia. Rusia bahkan berang, saat tetangganya, Ukraina ingin bergabung ke NATO.

Sejumlah negara eks Pakta Warsawa pimpinan Soviet seperti Albania, Bulgaria, polandia, hongaria, ceko, juga sempalan Yugoslavia,  seperti Montenegro, Kroasia dan Makedonia Utara juga membelot ke NATO.

Kematian Gorbachev, seperti diberitakan oleh sejumlah kantor berita trasnasional, ditanggapi dengan dingin, bahkan Presiden Vladimir Putin baru mengumumkan kematiannya 15 jam kemudian.

Dalam rilis pernyataan belasungkawa, Presiden Putin menyebutkan, mendiang Gorbachev adalah politisi dan negarawan yang berkontribusi besar menentukan arah sejarah dunia.

Sebaliknya banyak warga Rusia yang menilai negatif kiprah Gorbacev bagi negaranya (Uni Soviet yang tinggal kenangan) dan bahkan menyebut ia sebagai penghianat yang membuat runtuh Soviet.

“Bagi saya, ia seorang penghianat, “ tutur seorang pensiunan, Vladimir Zavkov (70) kepada AFP yang menyatakan  pendapatnya mewakili banyak kaum lansia yang hidup pada era Gorbachev yang juga menilai negatif kepemimpinannya.

Bahkan, sebagian anak muda yang diwawancarai mengaku tidak mengenal sosok Gorbachev dan banyak diantara warga yang enggan berkomentar atas kematiannya.

“Sungguh ironis, sosok yang meninggalkan legacy, berkontribusi besar  mengubah dunia (positif, mendorong perdamaian), tapi tak diakui di kampung halamannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement