Malam Duka di Selat Sunda

TSUNAMI - Mobil dan rumah hancur dampak tsunami Selat Sunda, Desember 2018. Foto: Maifil/KBK

Tiada menyangka akan terjadinya tsunami Selat Sunda, yang menelan 437 korban meninggal. Dompet Dhuafa turunkan tim respon untuk membantu penyintas bencana.

Senja berangkat malam, di ufuk barat matahari terbenam seperti biasa. Langit relatif terang dengan sinar membias kekuningan, hanya saja di bagian barat sedikit terlihat sekelompok awan agak mendung bergelantungan di langit Selatan Pulau Jawa. Sementara bulan masih memancarkan sinar purnama malam itu.

Hari itu, Sabtu (22/12/2018), akhir pekan yang bertepatan dengan hari ibu. Semua orang bersuka cita menikmati hari libur, terutama di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa dari Carita sampai ke Sumur. Begitu juga di sepanjang pantai Lampung Selatan, dari Way Muli sampai Pantai Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.

Tiada yang menyangka malam yang cerah di akhir pekan itu akan terjadi petaka bencana dahsyat tsunami Selat Sunda. Awalnya Badan Nasional Penanggulangan Bencana Pusat (BNPB) hanya menduga terjadi ombak pasang karena efek dari gravitasi bulan purnama. Pengumuman itu disampaikan BNPB merespon banyak beredar video di media sosial tentang ombak naik di daerah wisata Carita, Anyar dan sekitarnya.

Malam semakin gelap menyembunyikan informasi bahwa sudah terjadi tsunami besar di Selat Sunda dan menghancurkan rumah-rumah di pinggir pantai Pandeglang di Pulau Jawa dan Lampung Selatan di Pulau Sumatera. Dini hari Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengumumkan sudah terjadi stunami di Selat Sunda. Namun pada malam itu Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati belum mengumumkan penyebabnya. Esok harinya, dia mengutus tim peneliti kenapa terjadi tsunami padahal tidak ada gempa. Dari hasil penelitian tim ahli, diketahuilah penyebab tsunami adalah terjadinya lonsoran Anak Gunung Krakatau yang sejak lama sudah erupsi.

Pagi harinya, semua menjadi buncah ketika Bupati Pandeglang Irna Narulita menyampaikan kabar melalui televisi, tsunami telah menerjang wilayahnya. Ia bersama pimpinan Polres, Danrem bersama seluruh camat dan jajaran satpol PP serta Tagana sudah turun ke lapangan menjenguk para pengungsi dan melakukan evakuasi seperlunya.

Dari sejak kabar itu tersiar, barulah relawan kemanusiaan berbondong-bondong berdatangan ke lokasi tsunami. Lembaga kemanusiaan pun mulai bergerak mengirim relawan, menghimpun donasi untuk disalurkan ke wilayah terdampak.
Bencana Tsunami Selat Sunda, (baik di Pulau Jawa maupun Sumatera), menurut catatan BNPB, 7 Januari 2018, menelan 437 korban jiwa meninggal, 14.059 jiwa Luka-luka, 16 Jiwa hilang, 2.752 Rumah rusak, 78 Hotel Rusak, 60 kios rusak, 1 Dermaga Rusak dan 1 Shelter Rusak.

Pagi itu Dompet Dhuafa pun mulai bergerak, Ahad, 23 Desember 2018, drg. Imam Rulyawan, MARS, Direktur Utama Dompet Dhuafa Filantropi baru saja kembali dari Bandung mengikuti Indonesia Zakat Summit 2018. Ia langsung memimpin rapat kilat dengan jajaran direksi secara online. Melalui Direktorat Dakwah dan Layanan Tanggap Darurat (DLTD) Dompet Dhuafa, yang dipimpin Ustad Son Haji, sesuai dengan keputusan rapat direksi itu, menginstruksikan tim Respon Disaster Managemen Center (DMC) Dompet Dhuafa untuk turun melakukan evakuasi dan juga mengintruksikan pendirian posko di wilayah terdampak.

Dikatakan Ustad Son, untuk memudahkan koordinasi di lapangan masing-masing, Pimpinan Cabang ditunjuk sebagai Koordinator Lapangan (Korlap) dan menjadikan Kantor Cabang sebagai Pos Induk Respon. Untuk Banten, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Banten Abdurrahman Usman ditunjuk menjadi Korlap Respon Tsunami Selat Sunda Wilayah Banten. Dan untuk respon di Lampung Selatan ditunjuk Umarudin Islam, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Lampung sebagai Korlap Respon Tsunami Selat Sunda Lampung Selatan.

“Jadi semua tim respon yang dikirim dari Dompet Dhuafa Pusat dan relawan dari manapun termasuk dari DMC akan berada di bawah koordinasi Korlap respon setempat yang sudah ditunjuk,” jelas Ustad Son Haji kepada Swara Cinta.
Terhitung sejak ditetapkannya situasi darurat oleh masing-masing pemerintah daerah, sejak itu pula Posko Respon Darurat Dompet Dhuafa berkerja. Ketika situasi darurat diperpanjang, maka respon darurat Dompet Dhuafa juga diperpanjang.

Di setiap Posko Induk tim Dompet Dhuafa di bawah masing-masing Korlap membentuk Posko Inti dan Satelit. Posko Inti merupakan perpanjangan dari Posko Induk, posisinya berada di wilayah aman dan dekat dengan lokasi terdampak. Sedangkan Posko Satelit lebih banyak berfungsi sebagai pos penyaluran dan tempat koordinasi petugas lapangan.

Pos Satelit didirikan di wilayah terdampak untuk memudahkan koordinasi petugas respon lapangan, sekaligus tempat istirahat sejenak tim respon melepas lelah di sela-sela respon. Seusai melakukan respon, pada malam hari tim respon akan kembali ke Pos Inti untuk melakukan koordinasi dan evaluasi yang telah dikerjakan. Hasil temuan tim assessment dilaporkan dalam rapat evaluasi ini, yang selanjutnya akan dikoordinasikan ke Pos Induk di Cabang dan Pos Pusat di Jakarta untuk menjadi pertimbangan kebutuhan respon untuk membantu penyintas di wilayah terdampak.

Dari hasil assessment di lapangan, akhirnya pemangku kepentingan di Dompet Dhuafa pusat dalam hal ini dibawah koordinasi Direktroat DLTD menetapkan kebutuhan dana, kampanye, resource dan program serta jenis bantuan yang akan disalurkan ke wilayah terdampak bencana.

Untuk respon bencana tsunami Selat Sunda, drg. Imam Rulyawan menyampaikan, Dompet Dhuafa mengerahkan Sumber Daya sebanyak 265 Personil dan Relawan, 149 Personil SAR, 15 dokter, 10 perawat, 6 bidan, 8 penunjang medis, 116 relawan.

Selain itu Dompet Dhuafa juga mengirimkan 3 ambulans, 2 mobil jenazah, 2 mobil taktis operasional, 1 dapur keliling. “Baik di Banten maupun di Lampung, Tim Medis Dompet Dhuafa melayani 1.876 Pasien, menyalurkan 5.559 paket makanan siap saji. Jika ditotal ada 18.762 penerima manfaat dari aksi Dompet Dhuafa untuk respon tsunami Selat Sunda dari 23 Desember 2018 sampai 7 Januari 2019,” jelas Imam.

Ditambahkannya, Dompet Dhuafa juga menyalurkan paket logistik untuk penyintas tsunami Selat Sunda yang diterima oleh 10.272 jiwa. Selain itu, ada 936 jiwa yang menerima layanan Psikososial dan Religi. Khusus di Banten, Dompet Dhuafa juga memberikan service motor dan telepon selular (Ponsel) gratis untuk penyintas yang hingga 7 Januari 2019, sudah memberikan layanan service untuk 105 motor dan 102 Ponsel milik penyintas tsunami Selat Sunda.
Kini, lanjut Imam, Dompet Dhuafa bersiap diri untuk pemulihan karena masa darurat sudah ditutup. Sembari itu, ia terus mengajak para dermawan untuk mendukung Dompet Dhuafa dalam progam Indonesia Siap Siaga. ( Maifil Eka Putra).

*Tulisan ini telah dimuat di Majalah Swara Cinta Edisi 95, Januari-Februari 2019

Advertisement