Malu Pamer Kekayaan

Barisan mobil mewah milik para anggota DPR yang hedonis.

DALAM seminar bertajuk “Seni memberantas korupsi” Ketua KPK Agus Rahardjo kemarin mengingatkan, orang Indonesia harus meniru Swedia: malu pamer kekayaan! Tapi di sini justru berkebalikan. Artis, pengacara dan politisi Senayan paling gemar tampil hedonis. Padahal kesadarannya pamer harta belum tentu berbanding lurus dengan kesadarannya membayar pajak pada negara.

Pengacara Setya Novanto –waktu itu– Fredrich Yunadi pernah bilang dalam wawancara bersama Najwa Shihab di Detikcom, belanja sampai habis Rp 5 miliar di luar negeri, itu biasa. Begitu juga pengacara Hotman Paris, dia mengakui bahwa tampil kaya itu perlu bagi kalangan advokat. Maksudnya adalah, agar tidak diremehkan klien. Memang tak masuk akal, jika pengacara di “jaman now” masih naik Toyota Kijang 2000, atau pakai sepeda motor Honda 69. Bagaimana calon klien percaya pada pengacara kere seperti ini?

Negara tidak melarang rakyatnya kaya, justru sangat menganjurkan. Tapi ya itu tadi, harus setia bayar pajak. Sebab banyak orang kaya malas membayar pajak pada negara. Haji Lulung anggota DPRD DKI Jakarta, pernah ketahuan punya mobil mewah Lamborghini yang belum bayar pajak. Paling menyedihkan adalah, orang kaya yang memilih “lapan anem” (damai) dengan oknum petugas pajak, agar diringankan pajaknya. Manusia model Gayus inilah yang menyebabkan target pajak negara susah tercapai.

Kalangan selebritis paling demen pamer kekayaan, terutama artisnya (wanita) bukan artosnya (laki-laki). Syahrini misalnya, pakai kacamata saja harganya yang serba wah, dari Rp 8 juta hingga Rp 18 juta karena rata-rata bermerk Gucci. Padahal ketika dipakai olehnya, kadang menggelikan karena ternyata kacamata tersebut banyak yang lebih gede dari orangnya.

Busyro Mukodas saat menjadi Ketua KPK pernah bilang, banyak anggota DPR yang suka tampil hedonis, ke Senayan pakai mobil mewah. Cara-cara ini bisa merangsang anggota DPR lainnya untuk mencari duit tidak halal (korupsi), karena ingin pula memiliki kendaraan yang sama. Terutama ini bagi anggota DPR kelompok STI (Suami Takut Istri), karena di rumah akan diembargo bini gara-gara tak mau beli mobil Lamborghini macam punya Haji Lulung.

Di sinilah kontradiktifnya antara rakyat dan wakilnya. Wakil rakyat bisa kaya raya hingga punya Lamborghini. Padahal rakyat yang diwakilinya, boro-boro punya Lamborghini, paling-paling punya bini bernama Margini, Legini, dan Tugini. Tapi bagaimana bisa punya Lamborghini, wong kehidupannya selama ini ya hanya gini-gini aja.

Benar kata Ketua KPK Agus Rahardjo, orang Indonesia harus meniru orang Swedia. Di sana, orang malu memamerkan kekayaannya. Biar punya mobil mewah, malu membawanya liburan di musim panas. Beda dengan orang kita. Hari panas bedhug ndhrandhang (panas terik) malah pakai jaket, gara-gara terbuat dari kulit dan punya merk terkenal.

Sebelum tahun 1970-an, ketika gigi emas masih dinilai bentuk kemewahan, banyak orang yang pakai gigi emas hanya untuk menunjukkan dirinya orang mampu. Padahal sebetulnya sang gigi juga tidak ompong. Tapi dengan gigi emas, jadi tampak paling beda. Maka jaman itu, orang yang bergigi emas menjadi tampak ceria selalu, prengas-prenges karena sekedar untuk pamer gigi emasnya.

Sebetulnya, buat apa pamer kekayaan? Toh  saat mati juga takkan di bawa itu harta, dan saat ketemu sanak famili dan kerabat, tak mungkin ditanya, “Mobilmu sudah berapa, rumahmu di mana saja?” Yang ditanyakan pasti, “Anakmu sudah berapa, cucumu berapa?” Inti dari semua ini adalah: kesederhanaan. Maka orang Jawa punya filosofi: sugih tanpa nyimpen, menang tanpa ngasorake, nglurug tanpa bala. Tapi jangan pula ditambah: jajan tanpa mbayar.   (Cantrik Metaram)

           

 

 

Advertisement