
SATUAN-satuan pasukan Irak dengan gagah berbaris didukung parade tank-tank, sementara helikopter dan jet-jet tempur melakukan formasi di udara saat digelar peringatan Hari Kemenangan di alun-alun kota Baghdad, Minggu lalu.
Rakyat Irak agaknya pantas merasa lega karena bisa menghirup lagi udara kedamaian setelah terjebak di tengah konflik militer berkepanjangan antara pasukan pemerintah dan milisi Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS).
Puluhan ribu anggota tentara mau pun warga sipil menjadi tumbal, tewas atau cacat selamanya di tengah-tengah pertempuran antara kedua belah pihak yang berseteru sejak proklamasi sepihak kekhilafahan NIIS pada 4 Juli 2014.
Titik balik yang mengawali kekakalahan NIIS sudah tampak ketika kelompok tersebut ditaklukkan di dua kota yang dijadikan simbul perlawanan dan juga ibukota kekhilafahan mereka di Mosul (Irak) dan Raqqa (Suriah) awal Juli lalu.
“Mimpi kini sudah menjadi kenyataan. Seluruh wilayah sudah dibebaskan dan bendera Irak sudah berkibar sampai titik terjauh di perbatasan, “ kata PM Irak Haider al-Abadi dalam amanatnya di Hari Kemenangan pasukan Irak.
Kemenangan pasukan Irak jug disambut gembira oleh pihak AS yang memimpin koalisi dengan pasukan Irak terutama melancarkan serangan udara terhadap basis-basis pasukan NIIS an juga membentuk pasukan elite anti teroris (CTS).
“AS akan terus mendukung pasukan keamanan, pembangunan ekonomi dan menciptakan stabilitas Irak serta memastikan agar ancaman NIIS tidak muncul kembali, “ kata Utusan Khusus Presiden AS dalam Koalisi Anti NIIS, Brett McGurk.
Jubir Kemlu AS Heather Nauert juga mengingatkan, mesti berkali kali dinyatakan takluk, NIIS tetap menjadi ancaman dan perang melawan NIIS atau aksi teroris lainnya belum berakhir
Selama ini, dua seteru dalam perang dingin, AS dan Rusia, seolah-olah berbagi tugas dalam memerangi NIIS. AS membantu pemerintah Irak, sementara Rusia dengan kekuatan udaranya mendukung rezim petahana Suriah pimpinan Presiden Bashar Al-Assad.
NIIS merupakan kelompok teroris yang memiliki sumber keuangan kuat berasal dari perdagangan minyak, sumur-sumur minyak yang mereka kuasai, perdagangan manusia dan uang tebusan para sandera.
Saat ini sekitar 3.000 anggota kombatan NIIS yang masih tersebar di wilayah Irak dan Suriah berusaha menyusup masuk ke desa-desa dan melancarkan serangan sporadis dalam kelompok-kelompok kecil.
Keputusan sepihak Presiden AS Donald Trump mengakui Jerusalem sebagai ibukota Israel dan merencanakan kepindahan kedubesnya dari Tel Aviv ke kota suci tiga agama samawi itu dikhwatirkan juga akan memicu aksi-aksi teror di berbagai belahan dunia.
Aksi teror tidak ada matinya. Tetap waspada!




