Mas Patrict dan Penyembelihan Hewan

Ustaz Muhammad Zen Dai Ambassador Dompet Dhuafa di Prancis bersama Patrict warga Prancis beristeri orang Indonesia. Foto: Dok Pri

Pagi- pagi Pukul 8.00 Waktu Paris, saya menerima pesan melalu WA dari Patrict, orang asli Prancis yang istrinya orang Indonesia, asli keturunan Batak namanya, Mba Ita. Saya menyapanya dengan memanggilnya Mas Patrict, meskipun ia orang Prancis, sepertinya beliau orangnya asyik dan familier. Mas Patrict kurang suka kalau dipanggil Mister Patrict.

“Pak Ustaz siap-siap, pagi ini saya jemput Pukul 9.00 di KBRI, dari sana menuju stasiun Gare Lyon diperkirakan sampai Pukul 10.59, dengan tujuan akhir perkiraan sampai Pukul 12.58 di Lyon Part Dieu.

Pas Pukul 09.00 pagi, Mas Patrict menepati janjinya, ia datang ke KBRI dan mengajak saya menuju mobilnya merk Toyota Yaris. Tentunya, Toyota Yaris di Indonesia berbeda dengan yang di Prancis. Kalau di Indonesia posisi driver ada di sebelah kanan tapi di Perancis posisinya di sebelah kiri. Dan saat mengendarai mobil, posisi mobil melaju di jalan raya juga di sebelah kanan.

Mas Partict mangajak saya melihat gereja terbesar di Paris, Norte Dome. Setelah ada di depan bagunan gereja kami berdua turun menuju arah gereja Norte Dome Paris yang masih dijaga ketat oleh pihak polisi. Saat melewati gereja, saya sengaja bertanya tentang agama yang dianut mas Patrict. Mas Patrict menjawab dengan tegas, agama saya Islam dan ibu bapaknya Katolik. Awal masuk Islam keluarga besarnya; bapak, ibu dan saudaranya tidak setuju. Lambat laun keluarga besarnya pun menerimanya sebagai muslim.

Mas Patrict menjelaskan masuk Islam saat berkunjung ke Indonesia dan lama tinggal di daerah Lampung, dia melihat baik akhlaknya dan ramahnya orang Indonesia. Di daerah ini Mas Patrict cukup lama belajar agama Islam dan masuk Islam. Dia menjelaskan masuk Islam karena diri sendiri dan merasakan ketenangan saat menjadi Muslim. Di Indonesia beliau tidak hanya belajar Islam bahkan beliau sempat diamanahi mengajar bahasa Perancis di Universitas Lampung.

Dia meyakini Islam agama yang benar dan universal. Mas Patrict mengisahkan hebatnya ajaran Islam dalam hal poligami. Poligami itu memiliki sisi kemanusiaan dan sisi hukum yang jelas, memiliki kekuatan payung hukum hak dan kewajiban suami istri dan anak. Berbeda dengan mayoritas non muslim di Perancis ada yang memiliki istri satu tapi bebas dalam pergaulan sex gonta ganti pasangan, bahkan ada yang sampai terkena penyakit HIV. Bahkan Mas Patrict juga menjelaskan agama Islam yang rahmatan lil alamin, di antaranya dengan cara penyembelihan terhadap hewan seperti sapi atau kambing.

Umat Islam, diajarkan oleh Nabi Saw, sebelum menyembelih dengan pisau yang tajam, ini sebetulnya saya jamin tidak sakit. Karena saya pernah terkena pisau ditangan saya dengan pisau yang tajam tidak apa-apa. Pernyataan Mas Patrict ini pun mengingatkan saya kepada salah satu artikel yang dimuat oleh penelitian Prof Wilhelm dari Hannover University dan Dr. Hazim menyimpulkan bahwa penyembelihan sesuai dengan syariat Islam lebih baik dan paling tidak menyiksa hewan. Penelitian inilah yang membuktikan indahnya ajaran Islam dan dibuktikan secara empiris oleh dua orang dari staf pertanian Hannover University, sebuah universitas terkemuka di Jerman, yaitu Prof. Wilhelm Schulze dan rekannya Dr Hazim.

“Hewan yang disembelih cara Islam tidak merasakan rasa sakit saat disembelih. Ketika urat nadi yang terletak di bagian depan tenggorokan digorok, hewan akan segera kehilangan kesadaran, sehingga tidak mungkin merasakan sakit. Bahkan dagingnya sangat sesuai prinsip Good Manufacturing Practise (GMP) yang menghasilkan Healthy Food,” pungkas Mas Patrict saat akhirnya mobil Yarisnya sudah sampai di parkiran stasiun Gare Lyon Paris seperti dikisahkan
Muhammad Zen, Dosen UIN Syarief Hidayatullah Jakarta yang menjadi Dai Ambassador Dompet Dhuafa di Prancis.

Advertisement