DI 101 wilayah Indonesia yang mengikuti pilkada serentak 2017, Minggu sampai Selasa pekan depan (12 – 14 Februari) memasuki masa tenang, bebas dari hiruk-pikuk kampanye politik menjelang hari pemungutan suara, Rabu, 15 Februari 2017.
Petugas Satpol PP mulai membersihkan berbagai spanduk dan selebaran berisi gambar pasangan calon (paslon) yang diusung, baik gubernur dan wakilnya, bupati dan wakilnya atau walikota dan wakilnya yang dipasang atau ditempel di berbagai bangunan, pagar, bahkan di tiang listrik atau batang pohon di jalan-jalan protokol.
Media massa, cetak, elektronik maupun online, menggelar liputan, program debat publik, orasi dan aktivitas paslon atau tim suksesnya, menampilkan pengamat dan pakar politik, mengangkat hasil survei, bahkan gaduh, carut-marut atau pernak-pernik isu lain terkait Pilkada.
Di strata kekerabatan dan keluarga, kerenggangan hubungan dan ketersingungan banyak terjadi, akibat postingan hoax berisi fitnah, adu domba dan provokasi khususnya terkait pro-kontra terhadap paslon tertentu dalam Pilkada DKI Jakarta.
Pemihakan tidak terjadi lagi pada tataran nalar dan logika yang bisa diargumentasikan, tetapi kerap kali akibat sikap partisan, hasutan fanatisme agama dan primordialisme.
Imbauan agar seluruh pihak ikut menjaga keamanan dan kesejukan di masa tenang hingga hari pemungutan suara dilayangkan oleh Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian.
Tito juga berjanji akan meningkatkan keamanan di kawasan-kawasan rawan pelanggaran Pilkada dan patroli siber guna mencegah penyebaran berita bohong atau hoax .
Yang memprihatinkan, adab, etika dan kesantunan, apalagi rasa persatuan dan kesatuan, agaknya telah ditanggalkan oleh sebagian netizen di media sosial (medsos). Mungkin dianggap bebas atau minim risiko, mereka menebar hoax, ujaran kebencian, fitnah, provokasi dan penistaan pada lawan interaksi di medsos atau terhadap paslon yang tidak dikehendaki.
Dendam, luka dan trauma akibat postingan medsos itu tentu saja tidak bisa disembuhkan seketika, kecuali mereka yang bersikap arif dan berlapang dada, membukakan pintu maaf. Bukankah, setiap insan tak luput dari alpa dan khilaf? Semoga semakin banyak sosok pemaaf di kalangan bangsa ini.
Di masa tenang ini, semoga kita kembali ke khittah semula sebagai bangsa yang dirajut dari kebinekaan dan keanerekaragaman, bersatu dan menyatu kembali di tengah perbedaan sekalipun.
Kampanye terselubung
Kepolisian, seperti yang disampaikan oleh Kabagpenum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul, akan bekerjasama dengan Kementarian Komunikasi dan Informatika untuk memblokir situs di medsos yang melakukan kampanye terselubung di masa tenang atau memosting berita bohong atau hoax.
Selain memberi maaf, di masa tenang ini, bagi yang memiliki hak pilih diharapkan untuk melakukan perenungan atau kontemplasi atau bagi umat Islam, melakukan istiqhoroh dalam menentukan pilihan terhadap paslon pemimpin di daerah masing-masing.
Kepemimpinan paslon terpilih selama lima tahun ke depan, tentunya akan menentukan nasib rakyat, sehingga pilihan harus dijatuhkan pada paslon yang bakal amanah, jujur, mumpuni, adil dan berkomitmen tinggi untuk memajukan dan menyejahterakan daerahnya.
Jangan pilih calon yang cuma elok dipandang atau hanya piawai mengukir kata-kata. Jika yang dipilih calon petahana, pastikan rekam jejak kinerjanya. Jika calon baru, yakinkan diri anda, kinerjanya bakal lebih baik atau minimal sama dibandingkan petahana.
Hindari serangan fajar atau berbagai bentuk operasi terselubung politik uang (money politics), karena jika dilakukan, berarti warga atau calon pemilih ikut memberikan andil melahirkan pemimpin tidak jujur. Bagaimana mungkin, jika awalnya saja sudah tidak jujur, bisa amanah jika terpilih nanti.
Selamat mencoblos di pilkada yang aman, damai, fair dan bermartabat!





