Masjid Luar Batang; Oase di Tengah Teriknya Utara Jakarta

Kumandang adzan terdengar lantang dari Masjid Keramat Luar Batang. Seruan shalat tersebut merambat di udara Kampung Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara. Suaranya bahkan menyelinap di sela puing-puing rumah bekas penggusuran 11 April 2016 lalu. Menyadarkan para manusia perahu bahwa ada sang Maha Adil di balik rasa ketidak adilan yang mereka alami akibat rumahnya digusur.

Orang-orang pun mulai memasuki masjid yang dibangun sejak tahun1730 ini. Nampak sebuah gapura tua namun kokoh menyambut kedatangan kaum muslimin untuk menunaikan shalat berjamaah. Muhammad Dasir, Pengurus Masjid Jami Luar Batang menyebutkan gapura tersebut tidak pernah dibongkar sejak masjid ini berdiri. Hanya pernah mengalami satu kali renovasi pada tahun 1950.

Sejak pembangunan pertama kali, seluruh bangunan masjid mendapatkan renovasi total, kecuali tiang pancang yang ada di aula utama masjid. Uniknya, tiang pancang ini tidak memiliki penyangga di atasnya, namun tetap berdiri tegak. Jumlah tiang ada 12 buah. Konon, luas awal masjid sebelum dibangun, sama dengan luas antar tiang tersebut.

Rakaat demi rakaat khusyu dilakoni oleh ratusan jamaah. Selepas salam, doa dan dzikir pun dilantunkan. Satu per satu jamah pergi meninggalkan masjid. Namun, nampak beberapa kelompok orang berhenti di muka pintu masuk masjid. Mereka duduk bersila menghadap sebuah bilik, sambil merapalkan bacaan Alquran, serta doa. Konon, bilik tersebut merupakan kamar tidur Al Habib Husein bin Abubakar Alaydrus yang saat ini dijadikan makam habib besar tersebut. Banyak penziarah dari luar kota yang sengaja datang ke Masjid Luar Batang untuk berziarah ke makan Habib Husein.

Menurut sejarah, Habib Husein merupakan salah satu ulama dari Yaman yang menyebarkan agama Islam di Indonesia. Masjid Luar Batang dulunya merupakan surau milik Habib Husein. Bangunan masjid yang juga merupakan salah satu cagar budaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini, menghadap ke Pelabuhan Sunda Kelapa.

Masjid ini memiliki 2 aula besar, aula dalam, dan aula luar. Masing-masing aula tersebut memiliki 12 tiang pancang, yang dijumlahkan menjadi 24. Jumlah ini menandakan jumlah jam dalam satu hari, 12 jam siang dan 12 jam malam. Selain itu tepat di samping makam Habib Husein terdapat pula makam muridnya yaitu Haji Abdul Kadir.

Dasir menjelaskan, setiap hari masjid tersebut tidak pernah sepi pengunjung. Selalu ada orang yang datang untuk ziarah ataupun sekedar ingin tahu bentuk bangunan masjid dan makam di dalamnya. Selain orang dewasa yang berziarah, bangunan masjid kerap dijadikan obyek wisata sejarah anak-anak sekolah.

“Terutama malam jumat dan ahad. Malam Jumat biasanya orang-orang dari Jakarta yang datang sengaja menginap untuk ziarah. Sedangkan hari minggu biasanya dari luar kota. Jumlahnya bisa ribuan,” jelasnya.

Dikatakan Dasir, wisatawan ataupun peziarah luar kota biasanya berasal dari Bandung, Bogor, Semarang, Banjarmasin. Adapun dari mancanegara biasanya berasal dari Malaysia, Singapura, serta Brunei Darussalam. Untuk pengunjung tidak dikenakan biaya. Sama seperti masjid-masjid lainnya, pengurus masjid hanya menyediakan kotak amal di depan pintu masjid. Untuk peziarah yang menginap, pihak masjid tidak menyediakan tempat tidur. “Biasanya kalau dari luar kota dan mereka menginap, mereka cari hotel di sekitar sini. Ada juga yang tidur di dalam masjid,” jelas Dasir.

Pada bulan Ramadhan, pengunjung yang datang tidak terlalu ramai seperti bulan-bulan lain, seperti bulan Rajab dan Muharram. Masjid akan ramai pada saat malam ke-17, banyak masyarakat datang untuk mengaji dan memperingati malam Nudzulul Quran.

Setiap hari di bulan Ramadhan, masjid menyediakan takjil bagi pengunjung yang ingin berbuka puasa, termasuk para jamaah lokal, musafir (orang yang sedang berada dalam perjalanan), dan pengunjung yang datang dari berbagai daerah.

Iwan Sumantri, peziarah asal bogor menuturkan dirinya sengaja datang dan menginap di Masjid karena panggilan jiwa dan sebagai wujud rasa berterimakasih kepada Habib Husein sebagai tokoh yang menyebarkan agama Islam di Indonesia. Di tengah ramainya orang-orang memilih berwisata ke tempat-tempat yang justru mendekatkan diri kepada maksiat dan kenikmatan sesaat, Iwan justru berpikir wisata yang benar adalah mendekatkan diri kepad Allah SWT.

“Pada hari kerja, waktu ibadah kita terbagi untuk urusan dunia. Janganlah saat libur dunia juga yang dikejar,” pungkasnya.

 

Advertisement