SUKABUMI- Sejak kemarin sejumlah nelayan di dua pesisir pantai selatan Sukabumi, beralih profesi menjadi buruh bangunan dan buruh kasar. Para nelayan di Pantai Palampang dan Pantai Ciemas menjual perahu miliknya seiring memasuki musim paceklik.
Sudah tiga bulan terakhir gelombang tinggi sangat menyulitkan nelayan pergi melaut untuk. Para nelayan memilih mencari pekerjaan menjadi buruh kasar di kota besar.
“Kami terpaksa menjual perahu yang biasa dipergunakan menangkap ikan. Gelombang tinggi laut kini sulit diarungi perahu berukuran kecil,” kata salah seorang nelayan di Palampang Ciemas, seperti diberitakan PR Online, Selasa (24/5).
Para nelayan menjual perahu setiap unit dengan harga tertinggi sekira Rp 12.000.000. Perahu congkreng yang biasa dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dijual kepada para tengkulak. “Padahal mereka membeli perahu dengan kisaran bisa menembus Rp 25.000.000 per unitnya,” katanya.
Kepala Dinas Perikanan dan kelautan (DPK) Kabupaten Sukabumi, Abdul Kodir telah mengeluarkan imbauan agar para nelayan untuk sementara tidak melaut. Imbauan merupakan upaya pencegahan terhadap terjadi kecelakaan laut yang berpotensi menelan korban jiwa.
“Kami mengimbau nelayan lebih memilih melaut dalam kondisi normal. Saat ini, gelombang relatif masih sangat tinggi,” katanya





