Maut di Barak Taruna Akpol

Brigadir Dua Taruna Akpol Mohammad Adam yang tewas, diduga dianiaya sejumlah seniornya di asrama Akpol, Semarang (18/05) (infounik)

MOHAMMAD Adam (20), taruna Akademi Kepolisian, Semarang tewas dengan luka memar di bagian dada, Kamis dinihari (18/5), diduga akibat penganiayaan  oleh sejumlah taruna seniornya.

Belum diketahui apa kesalahan Adam sehingga ia harus meregang nyawa di tangan para senior yang seharusnya menjadi pembina dan pengayom para  taruna junior, dan juga kegiatan yang dilakukan para taruna tersebut hingga dini hari. Sejauh ini polisi masih memeriksa dan menginterogasi 21 senior korban yang berada di barak dan menyaksikan peristiwa itu.

Aksi kekerasan berujung maut di lingkungan pendidikan dengan pola militer dan kesatuan bukan yang pertama kali, dan sebagian diantaranya dipublikasikan di media secara luas, walau pun kemungkinan ada yang tidak terkuak karena  cukup diselesaikan secara internal.

Masih segar dalam ingatan, baru pekan lalu, Praka Yudha Prihartono dari kesatuan Yon 464 Paskhas TNI AU di Lanuma Abdulrachman Saleh, Malang tewas akibat luka sayatan di leher (11/5), diduga pelakunya tiga perwira pertama di kesatuan sama.

Di lingkungan Akademi Ilmu Pelayaran (IIP) Jakarta, Amirullah Adityas Putra gagal jadi pelaut dan harus pulang ke alam baka akibat “pembinaan” yang dilakukan lima seniornya (11/1). Hal serupa dialami oleh alm. Agung Bastion Gultom, alm. Dimas Handoko dan alm. Daniel Tampubolon.

Bahkan lebih miris lagi, di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, Jawa Barat yang lulusannya diharapkan menjadi pamong praja, pelayanan dan abdi  masyarakat, tercatat 35 tarunanya tewas secara tidak wajar (kemungkinan mengalami penganiayaan) selama kurun waktu antara 1993 sampai 2007.

Aksi kekerasan membawa maut juga tidak luput di sekolah unggulan calon pemimpin bangsa, SMA Taruna Nusantara dengan tewasnya Kresna Wahyu Nurachmad (18), siswa kelas X, diduga akibat tusukan rekan seasrama bermotif dendam pribadi (31/3).

Sudah menjadi rahasia umum, kehidupan di barak atau asrama, baik kesatuan militer maupun program pendidikan dengan pola militer yang  biasanya sangat tertutup, ekslusif dan sulit dijangkau hukum.

Jika tidak dilakukan pengaturan untuk mencegahnya, tidak mustahil, korban-korban berikutnya akan berjatuhan. Di lingkungan hirarki militer yang pola hubungan mengikuti garis komando – vertikal dari atas ke bawah – jika tidak diatur dan diawasi secara ketat dan berjenjang, tentu akan muncul ekses-ekses atau anomali.

Selain hubungan atasan dan bawahan, latihan serta penggojlokan secara fisik dan mental demi meningkatkan kesamaptaan dan kesiapan menghadapi musuh di lingkungan militer, jika tidak diarahkan dan diawasi, bisa menjadi monster  menakutkan yang merenggut korban, bawahan atau sesama rekan sekesatuan.

Sebelum jatuh korban baru, perlu dilakukan penataan, pembinaan dan sistem pengawasan termasuk pencegahan dini terhadap kemungkinan aksi-aksi kekerasan dan praktek menyimpang lainnya dalam kehidupan di seluruh barak atau asrama, baik di kesatuan militer maupun institusi pendidikan yang menerapkan pola militer.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement