JAKARTA, KBKNews.id – Keinginan mayoritas warga Indonesia untuk memiliki keluarga besar tampaknya masih terhalang oleh berbagai persoalan. Meski sebanyak 70 persen masyarakat Tanah Air ingin memiliki dua anak atau lebih, realitasnya banyak dari mereka kesulitan mewujudkan harapan tersebut.
Hambatan ekonomi, keterbatasan tempat tinggal, dan ketidakpastian pekerjaan menjadi alasan utama.
Laporan terbaru dari United Nations Population Fund (UNFPA) dalam Situasi Kependudukan Dunia (SWP) 2025 mengungkap fakta ini. Survei dilakukan di 14 negara, termasuk Indonesia, dan menunjukkan bahwa 74% perempuan serta 77% laki-laki Indonesia bermimpi memiliki dua anak atau lebih. Namun, impian itu kerap terbentur pada kenyataan hidup yang tidak mendukung.
Perwakilan UNFPA Indonesia, Hassan Mohtashami, menegaskan bahwa krisis fertilitas saat ini bukan karena masyarakat tidak ingin memiliki anak, melainkan karena tidak mampu secara ekonomi. “Lebih dari 70% warga Indonesia ingin punya dua anak atau lebih, tapi banyak yang terpaksa menahan keinginan itu,” kata Hassan seperti dilansir dari Antara, Kamis (3/7/2025).
Dari sisi global, tren ini serupa: 62% perempuan dan 61% laki-laki di berbagai negara juga berharap membentuk keluarga dengan dua anak atau lebih.
Namun, sekitar 20% orang di bawah usia 50 tahun mengaku pesimistis bisa mewujudkan jumlah anak yang mereka inginkan. Di Indonesia, 17% merasa akan memiliki lebih sedikit anak daripada keinginan mereka, dan hanya 6% yang merasa akan memiliki lebih banyak.
Keterbatasan finansial menjadi faktor dominan. Di Indonesia, alasan utama yang menghambat keinginan berkeluarga adalah kondisi ekonomi (39%), disusul oleh masalah tempat tinggal (22%) dan ketidakamanan pekerjaan atau pengangguran (20%). Selain itu, kekhawatiran terhadap situasi politik, sosial, hingga perubahan iklim juga berkontribusi terhadap keraguan masyarakat untuk memiliki anak.
Deputi Pengendalian Kependudukan BKKBN, Bonivasius Prasetya Ichtiarto, menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan strategi jangka panjang dalam bentuk Desain Besar Pembangunan Kependudukan (DBPK) beserta Peta Jalannya. Fokus utamanya adalah membangun keluarga yang berkualitas serta mendukung manusia dalam pengambilan keputusan fertilitasnya.
UNFPA menyarankan agar solusi diarahkan pada pemenuhan kebutuhan individu—mulai dari pemberian cuti melahirkan, layanan fertilitas yang terjangkau, hingga penciptaan lingkungan yang ramah keluarga. “Kita perlu menciptakan lingkungan yang memungkinkan orang untuk menjalani hidup sesuai pilihan mereka,” ujar Hassan.
Meskipun Indonesia memiliki angka kehamilan tak direncanakan terendah di antara 14 negara survei, tantangan lainnya tetap signifikan. Sebanyak 1 dari 4 responden di Indonesia pernah merasa tidak mampu memiliki anak saat mereka menginginkannya. Ini menunjukkan bahwa tantangan membangun keluarga bukan hanya soal niat, tetapi juga soal kemampuan dan akses terhadap layanan yang mendukung.





