MBANGUN PLASA JENAR

Patih Sengkuni dipanggil Pendita Durna untuk klarifikasi beredarnya isyu miring.

PATIH Sengkuni kaget betul, pagi-pagi kedatangan anak muda mengenakan ransel, pakai celana pendek, bersepatu Bata, dan di dada ditempel poster bertuliskan: JALAN KAKI YOGYAKARTA-JAKARTA GANTIKAN NADZAR AMIEN RAIS. Membaca tulisan tahulah sudah Patih Ngastina tersebut akan maksud tulisan itu. Paling-paling minta sumbangan, sebagai uang partisipasi terhadap generasi muda.

Maka Patih Sengkuni segera mengeluarkan uang ratusan merah, diangsurkan pada anak muda, yang dipastikan namanya Lilik Yuliiantoro, asal Blora (Jateng). Sebagai patih negeri yang disorot dunia, Sengkuni memang selalu mengikuti perkembangan dunia lewat situs-situs internet, termasuk juga medsos. Dia juga masuk grup WA Negeri Ngastina. Maka ke mana saja HP androidnya tak pernah lepas dari tangan. Bahkan saat rapat atau salat Jumat.

“Bagus, anak muda harus bersemangat baja. Ini Oom bantu Rp 100.000,- ya…” kata Patih Sengkuni, nampaknya dia tergesa-gesa dibatasi oleh waktu.

“Bukan itu tujuan saya ke sini, Oom. Saya hanya mohon ijin dipinjami, atau sukur-sukur diberi, wayang kulit tokoh Oom sendiri. Yang dari kulit boleh, dari karton juga tak masalah.” Kata Lilik Yuliantoro sambil membetulkan posisi ransel di punggungnya.

Patih Sengkuni kaget, sampai mata terbelak. Ini anak muda kok macam-macam. Namanya patih, pastilah foto besarnya menghiasi setiap perkantoran di Ngastina, bersama raja Prabu Duryudana. Tapi dibentuk dalam wayang, setahunya belum pernah ada dan belum juga pernah melihatnya. Apa maunya anak muda ini. Wayang Sengkuni mau dibuat apa, apa untuk nakut-nakuti tikus? Itu pembunuhan karakter namanya.

Karenanya permintaan Lilik Yuliantoro ditolak mentah-mentah, sambil menggumam: macam-macam saja kamu! Habis itu Patih Sengkuni segera kabur bersama mobil dinasnya Toyota Camry seri terakhir yang pada plat polisinya tertulis: N-2, maksudnya Ngastina 2, atau Patih Ngastina.

“Siapa gerangan dia Pak, kok sepertinya nggak sopan banget.” Ajudan Tumenggung Ciptayuda bertanya.

“Ya itulah anak muda sekarang. Namanya Lilik Yuliantoro, saya pikir anak Lilik Sudjio sutradara film tahun 1970-an teman saya dulu.”

Lilik Yuliantoro hanya bisa memandang dengan mata kecewa. Tapi yha sudahlah, bawa wayang atau tidak tentang tokoh Ngastina ini, dia harus terus berjalan Yogyakarta-Jakarta demi menggantikan posisi Bapak Reformasi Amien Raiis, yang pernah bernadzar di tahun 2014, tapi sampai kini belum sempat ditunaikan. Kala itu beliaunya memang bersumpah, “Jika Jokowi berhasil jadi presiden RI, saya siap jalan kaki Yogyakarta-Jakarta.” Tapi faktanya, sampai Presiden hampir habis masa jabatannnya Amien Rais tak juga membayar nadzar itu. Sudah diganti pakai bayar fidyah menyantuni 10 orang miskin, ngkali.

Kepergian Patih Sengkuni pagi itu nampak tergesa-gesa ternyata karena hendak meninjau finishing proyek Jenar Plaza yang tengah dibangunnya, dengan biaya tak kurang dari Rp 150 miliar. Namanya sesungguhnya adalah Plasa Jenar seperti nama kesatriannya selama ini. Tapi biar nampak kekinian di era globalisasi, sengaja diubah menjadi Jenar Plaza. Huruf S-nya pun diganti dengan Z.

“Kalau sudah jadi untuk apa saja itu bangunan, Pak?” tanya sang ajudan lagi.

“Oo, banyak. Untuk menunjukkan keberpihakan saya pada wong cilik, lantai bawah untuk para pedagang K-5, dengan sewa sangat ringan. Lantai  2 sampai 9 untuk pertokoan, dan lantai 10 perkantoran.

“Lalu dananya dari mana Pak Patih? Dana CSR atau…..” tanya ajudan Tumenggung Ciptayuda lagi.

“Dananya dari……Mbahmu!” potong Patih Sengkuni kesal, mirip Pak Harto dulu saat ditanya wartawan soal pembangunan proyek perumahan.

Dan ajudan Tumenanggung Ciptayuda langsung cep-klakep (terdiam). Kali ini dia memang sudah kelewatan, seperti wartawan saja gayanya. Kalau dipecat baru tahu rasa. Tapi Patih Sengkuni takkan sampai sebegitunyalah. Soalnya di era reformasi ini siapa saja boleh ngomong bebas. Tegasnya, Patih Sengkuni takkan mengkriminalisasi ajudan. Ini resiko pejabat di jaman now.

Tiba di proyek Jenar Plaza Patih Sengkuni disambut oleh Pimpro Raden Durmagati, yang tampangnya seperti buntelan bagong. Postur dia memang gemuk, pendek, perut besar, suka banyak ngomong lagi. Jika bicara depan pers, sering over kapasitas, lupa bahwa hidup dan matinya juga di negeri Ngastina. Apa saja dikritisi, kadang pakai puisi, kadang langsung nyerocos di depan awak media.

“Kok dak sebelah sana belum dicor?” tanya Patih Sengkuni yang sudah pakai helm proyek.

“Masih nunggu besi dari Tiongkok, paman Sengkuni.” Jawab Durmagati bisik-bisik, sebab belakangan kata “besi Tiongkok” jadi demikian sensitip.

“Kenapa nggak pakai bambu eks monumen “Getah-Getih” saja?” jawab Patih Sengkuni kesal, sebab dia ingin proyek Jenar Plaza segera bisa diresmikan oleh Prabu Duryudana.

Belum juga Durmagati memberi jawaban, di luar pagar proyek nampak ratusan pendemo teriak-teriak sambil membawa poster dan spanduk. Isinya nyaris sama, menuntut proyek itu dihentikan, karena sumber dananya tidak jelas. Malah ada spanduk paling menyakitkan, karena berbunyi: Tangkap dan usut Patih Sengkuni! Rupanya sponsor pendemo adalah LSM pimpinan Tumenggung Joglempo pecatan anggota Komnas HAM.

Patih Sengkuni tak menanggapi demo itu. Mendadak suasananya jadi tidak nyaman. Karenanya ketika pers hendak mengejarnya, dia langsung tancap gas pulang ke kepatihan Plasa Jenar. Tapi di meja kerjanya tergeletak undangan dari Pendita Durna dengan kop dinas: Badan Nasional Pemberantasan Korupsi (BNPK). Rupanya lembaga baru dengan nomenklatur menyeramkan itu bentukan Prabu Duryudana, dan Pendita Durna ditunjuk sebagai ketuanya tanpa lewat seleksi Capim BNPK.

“Dhi Cuni, segera datang ke Sokalima, ya. Saya perlu klarifikasi, biar semuanya jelas. Kalau sampai sampeyan masuk penjara, 20 tahun lho, tidak main-main.” Telpon Pendita Durna malah nakut-nakuti.

“Baik, saya segera datang. Penjara apaan, wong saya pejabat clean kok.” Jawab Patih Sengkuni agak ketus.

Pendita Durna sebetulnya seneng-seneng saja bila LSM milik Joglempo ini mengangkat soal proyek Jenar Plaza. Sebab jika proyek ini terbukti hasil korupsi, Patih Sengkuni pasti masuk penjara dan sebagai patih pengganti akan dilobi untuk Aswatama yang selama ini belum jelas pekerjaan dan karier politiknya. Sebetulnya Pendita Durna juga agak curiga, duit dari mana Sengkuni bangun proyek nan megah. Dari gajinya sebagai Patih, sama sekali tidak klop. Pasti itulah hasil korupsi. Cuma sebagai sesama pejabat Ngastina dia tak berani menuduh seperti itu.

“Di Cuni, kali ini saya bukan Pendita Durna lho ya. Saya adalah pejabat negara yang ditugaskan mengusut setiap kebocoran uang negara. Karenanya saya bertanya, dari mana dana itu sehingga sampeyan mampu bangun Jenar Plaza nan megah itu. Maaf beribu maaf lho ini.” kata Pendita Durna hati-hati.

“Asal Wakne Gondel tahu, itu semua dari uang royalti Amien Rais. Setiap orang menyebut Amien Rais-Sengkuni di internet, saya langsung dapat Rp 5.000,- dari Google. Sampai bulan lalu sudah masuk ke angka 30 juta, jadi hitung sendiri hasilnya….” Jawab Patih Sengkuni tegas dan jelas.

Pendita Durna hanya bisa manggut-manggut seperti Pak Harto. Kalau begitu faktanya, kenapa publik tak menyebut saja: Amien Rais-Pendita Durna, kan dia nantinya yang dapat duit banyak, dan tentu jauh lebih banyak. Lumayan kan, untuk membangun kembali kampus Sokalima Beragama miliknya. (Ki Guna Watoncrita)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement