Megananda Lena

Wibisama murka dan dibunuhlah Megananda pakai senjata Dipasanyata, hingga kembali jadi mega.

SEDARI dulu urusan perempuan selalu bikin negara kacau. Dalam kitab Pararaton disebutkan, gara-gara selangkangan Ken Dedes, keris Empu Gandring pesanan Ken Arok makan korban tujuh nyawa. Demikian pula dalam kisah Ramayana; hanya masalah berebut Dewi Sinta, monyet Pancawati banyak yang tewas, sementara negara Ngalengka juga rusak akibat keangkara-murkaan Prabu Rahwana yang telah menjadi penjahat kelamin!

Prabu Dasamuka sendiri sebenarnya juga pusing tujuh keliling. Dia sudah demikian banyak berkorban harta dan nyawa prajurit Ngalengka, tapi satu menit pun belum pernah berhasil nggrayang (menyentuh) tubuh mulus Dewi Sinta. Bahkan dalam sidang kabinet tadi pagi, Patih Prahastho melaporkan bahwa korban serangan pasukan kera dari Pancawati terus berjatuhan.  Korban terakhir tercatat: Mintragna, Pragongsa, Bajramusthi, Anipraba, Wirupaksa dan Ditya Jambumangli.

“Nasib Jambu Klutuk bagaimana Jid, Indrajid…?” Prabu Rahwana mendonder putra tercinta.

“Bersama Ditya Jambu Air, telah mati dibuat campuran sop buah pengantar  buka puasa nanti sore, kanjeng rama,” jawab Indrajid takzim.

Kaco nih urusan! Di kala urusan negara demikian genting, kok masih juga bicara clometan macam pelawak saja. Bahkan  Patih DHP (Denmas Haryo Prahastho), yang seharusnya bisa memberikan solusi, sejak kemarin telat melulu ke Istana. Ternyata, nggak wayang nggak orang, hari-hari awal puasa selalu nelat ke kantor. Padahal sebenarnyua sih, nggak ada ceritanya Patih DHP berpuasa. Buktinya, bila sudah pukul 12.00, dia pasti “ngilang”, lalu makan soto mie di warung bertutup bekas spanduk.

Untuk mencegah jatuh korban semakin banyak,  Prabu Rahwana memerintahkan Indrajit mencari senjata pamunah satru (membasmi lawan) yang termasuk jenis alutsista (alat utama sistem senjata). Bila perlu impor helikopter dari Inggris, lumayan kan bisa di mark up sampai ratusan miliar.

Tapi Indrajid memberitahukan bahwa senjata Alusista belum ada, kecuali Alugora milik Baladewa raja Mandura, atau gada Rujakpolo milik Werkudara. Itupun tak pernah ma dijual karena secara ekonomi mereka cukup mapan.

“Tolol kamu! Anak ratu, kok nggak ngerti pakem sih. Baladewa dan Werkudara  nggak ada dalam cerita Ramayana. Ngawur saja…” Prabu Rahwana gebrak meja, brakkkk!

“Oo, begitu? Tapi buat wayang abal-abal, ya sah-sah saja.” Indrajid terus ngeyel.

Keluar dari Istana Indrajid bingung. Ditunjuk sebagai pimpro pengadaan senjata alusista, merupakan tugas lumayan berat. Ke mana harus mencari? Padahal, manakala Indrajit ini punya sedikit  “otak DPR”, sesungguhnya hal ini merupakan peluang untuk mencari kekayaan tak halal. Dengan alasan kebutuhan vital dan strategis, pasti tak ada alasan bagi Prabu Dasamuka untuk membintangi anggaran senjata itu.

Indrajit segera bersuci, naik ke sanggar palanggatan (tempat ritual). Dalam dunia awang-awung dia segera ketemu Sanghyang Nagapratala, yang sanggup memberikan sanjata Nagapasa. Selain sakti tiada tara, senjata satu ini sangat hemat perawatan. Bila senjata lain setiap Selasa Kliwon – Jemuwah Kliwon harus dimandikan dan diberi sesaji, panah Kyai Nagapasa tak memerlukan apa-apa.

Sesuai dengan namanya, pusaka satu ini memang berpuasa untuk selamanya. Siang maupun malam tak pernah sekalipun makan sesaji. Ini sagat berbeda dengan wayang-wayang ngarcapada, diperintahkan berpuasa sebulan saja susah banget.  Makanya di bulan Ramadan bibir nampak kelimis terus.

“Sudahlah, dengan  pusaka ini, Lesmana dan Rama pasti wasalam. Tapi Rama ini kan bukan pemilik toko pakaian Ramayana, kan? ” Hyang Nagapratala bicara pelan sekali.

“O, bukan. Ini Ramawijaya dari Pancawati, kok!”

Panah Nagapasa segera dibawa pulang, dimasukkan ke dalam ransel. Maklum, panah sekarang sudah model CKD (Complete Knock Down), sehingga  bisa dicopot-disambung macam kursi Ligna. Ternyata betul. Saat diuji coba, panah Nagapasa langsung membuat daerah Maliawan, gelap gulita laksana terkena pemadaman PLN. Beribu ular naga   membelit dan menggigit segenap pasukan kera.  Para petinggi Pancawati, baik yang memiliki rekening gendut maupun tidak,  tak bisa bergerak dibelit ribuan naga yang bersumber dari panah Nagapasa. Bahkan Prabu Rama, Patih Sugriwa, Lesmana, Anoman, Anggodo; semua dalam kondisi kritis.

Indrajid tertawa ngakak. Ternyata hanya segitu kekuatan prajurit Pancawati. Dalam kondisi seperti itu, begitu mudah dibinasakannya.  Tapi karena masih harus menunggu petunjuk Bapak Rahwana, Indrajit tak berani langsung mengeksekusi  para musuh. Dia segera lapor pada Prabu Dasamuka bahwa senjata Nagapasa memang luar biasa.  Prabu Ramawijaya beserta para hulubalang sudah tak berkutik lagi.

“Wah, elok benar kamu, Jid! Lalu hitungannya bagaimana ini, aku harus bayar berapa? Tahun depan saja ya? Anggaran tahun ini sudah dikonsentrasikan untuk bikin jalan tol, Jid…..!” Prabu Dasamuka tertawa ngakak.

“Ini semua gratis kok Pak. Sanghyang Nagapratala hanya minta, dalam pengusutan kasus auditor BPK jangan bawa-bawa nama Nagapratala. Hancurkan semua dokumen yang menyebut dirinya.”

Syahdan, di  Taman Argasoka, Dewi Sinta yang tengah nonton chanel Ngalengka TV, menangis meraung-raung demi melihat Prabu Rama beserta hulu balang tak berkutik dalam belitan ular naga. Dewi Trijatha pun kerepotan bagaimana harus menghibur. Lantaran kehabisan akal, dia bertekad menemui sang ayah, Gunawan Wibisono. Setelah menyemir rambutnya menjadi kemerah-merahan ala artis, dia segera terbang ke udara. Sengaja dia pakai celana panjang. Karena terbang dengan pakai rok, bisa bikin batal para makhluk yang tengah berpuasa di ngercapada.

Gunawan Wibisono yang tengah makan sahur, terkaget-kaget demi menerima laporan putrinya. Dia segera berangkat ke arena pertempuran, memeriksa fakta di lapangan. Dari cara kerja itu senjata, langsung bisa diketahui siapa pemiliknya.  Sanghyang Nagapratala pun diteleponnnya.

“Oo, itu bukan lagi tanggungjawab kami. Pusaka itu sudah kami hibahkan ke Indrajid, dengan ongkos angkut tanggungan dia.” Jawab Nagapratala singkat.

“Oke. Dalam persoalan Ngalengka – Pancawati, saya minta sampeyan jangan jadi becking lho. Bisa panjang ini urusan.” Ancam Gunawan Wibisono.

Gunawan Wibisono segera mencari Indrajid alias Megananda, keponakan sendiri.

Indrajid diperintahkan menarik kembali panah Nagapasa. Ternyata dianya keras kepala, bahkan menghujat sang paman sebagai politisi oportunis bin kutu loncat. Dulu menjadi pengurus DPP Partai Ngalengka Bergerak, sekarag menjadi Ketua Umum Pancawati Merdeka.

“Sampeyan macam politisi Senayan saja, gonta-ganti partai asalkan bisa jadi  anggota DPR. Komprador asli…,”  ujar  Indrajid kasar dan to the point.

“Jangan asal  nyangkem kamu, Indrajid. Kamu tarik kembali tidak itu pusaka Nagapasa?” Wibisono memberi ultimatum.

Ternyata Indrajid hanya menggelengkan kepala. Gunawan Wibisono habislah sudah stok kesabarannya. Pusaka andalan Dipasanyata segera dikeluarkan dan diamang-amangkan ke wajah sang ponakan. Mendadak tubuh  Indrajid mrotholi, hangus bak kena ledakan bom panci Kampung Melayu. Tubuh berubah menjadi asap,  kembali jadi awan sebagaimana bentuk aslinya dulu. Dia naik ke atas, bergabung ke mega-mega umum, memperkuat Megawati jadi Ketum PDIP seumur hidup.

Sekali lagi pusaka Dipasanyata diarahkan ke segenap naga-naga yang membelit prajurit Pancawati beserta Prabu Rama – Lesmana Cs. Serta merta mereka kembali sehat wal afiat.

“Kangmas prabu Ramawijaya, silakan makan sahur dulu, sudah hampir  imsyak, nih…!” ajar Gunawan Wibisono mempersilakan sang boss. (Ki Guna Watoncarita)

 

 

 

Advertisement