
PEMERINTAH Negara Bagian Melaka Tengah sedang menyiapkan rencana pembangunan jembatan sepanjang 47,7 KM di atas Selat Malaka yang akan menghubungkan Malaysia dan Indonesia dengan waktu tempuh sekitar 40 menit.
Mengutip World of buzz, Kompas.com (22/12) melaporkan, rancangan proyek tersebut dijadwalkan akan dipresentasikan kepada Dewan Perencanaan Fisik Nasional Malaysia (Majlis Perancangan Fizikal Negara/MPFN) dalam waktu dekat.
Jembatan direncanakan membentang dari Pangkalan Balak di Masjid Tanah menuju wilayah Indonesia. Tidak disebutkan tepatnya lokasi wilayah Indonesianya, namun melihat peta, kemungkinan di Tg Medang, P. Rupat, Prov. Riau yang hanya berjarak puluhan kilometer yang memisahkan kedua negara serumpun itu.
Berdampak signifikan
Ketua Menteri Melaka Ab Rauf Yisoh menyebutkan, Pemerintah Melaka menilai proyek berskala besar ini berpotensi menciptakan dampak ekonomi signifikan bagi negara bagian tersebut, sementara studi kelayakan proyek akan dimulai Januari, 2026.
Studi kelayakan mencakup usulan pembangunan jembatan dari Pengkalan Balak, Masjid Tanah, ke Indonesia dengan panjang total 47,7 kilometer.
Menurut Ab Rauf, hasil studi akan “diperhalus” terlebih
dahulu sebelum diajukan ke MPFN untuk ditinjau dan dievaluasi lebih lanjut.
“Setelah itu, kami akan membawa proposal ini kepada otoritas Indonesia untuk membahas pelaksanaan proyek secara bersama,” ujarnya.
Ab Rauf menyatakan keyakinannya bahwa proyek ini akan memberikan manfaat ekonomi yang besar jika benar-benar terwujud.
“Kami yakin, jika direalisasikan, jembatan ini akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi Melaka,” katanya.
Untuk mendukung pengkajian tersebut, pemerintah negara bagian Melaka mengalokasikan dana sekitar 500.000 ringgit Malaysia (sekitar Rp 2 miliar) untuk jasa konsultan.
Dana tersebut akan digunakan untuk menilai berbagai aspek proyek, mulai dari kelayakan teknis, ekonomi, hingga logistik.
Selain pembangunan jembatan, pemerintah Melaka juga merencanakan pengadaan lahan seluas 5.000 ha di Masjid Tanah untuk dikembangkan sebagai kawasan industri baru guna mendukung pengembangan Pelabuhan Internasional Kuala Linggi (Kuala Linggi International Port/KLIP) serta aktivitas ekonomi biru di Melaka.
Ab Rauf menegaskan, jembatan penghubung Malaysia–Indonesia ini diharapkan menjadi simpul strategis baru kawasan.
“Jembatan ini akan menjadi ‘gerbang dunia’ terakhir yang menghubungkan Malaysia dan Indonesia, sekaligus membuka peluang kerja sama lebih luas antara kedua negara,” ujarnya.
Jika terwujud nanti, jembatan ini selain memicu pertumbuhan di sekitar kawasan kedua negara, lebih pentin lagi, mempetautkan rakyat dan kedua bangsa.




