JAKARTA – Sebaiknya kita belajar untuk melupakan amalan-amalan baik yang telah kita lakukan. Pasalnya, terlalu banyak orang terus mengingat amalannya sehingga merasa telah melakukan banyak kebaikan.
Namun, pada kenyataannya, amalan yang dianggap banyak tersebut mungkin hanya seperti buih, tidak memiliki nilai. Bahkan, tidak bermanfaat karena terlalu sering diingat-ingat dan dihitung.
Mengatakan, “Saya sudah melakukan begitu banyak amalan baik, pasti pintu surga akan terbuka untuk saya,” sebenarnya memiliki efek yang buruk.
Kita seharusnya belajar untuk melupakan amalan-amalan tersebut agar selalu merasa cemas dan gelisah ketika beramal, karena merasa belum melakukan kebaikan apa pun.
Dilansir dari tabungwakaf.com, berikut ini cara melupakan amalan baik yang pernah kita lakukan:
- Meniru Ikhlasnya Seseorang Setelah Keluar Toilet
Tidak ada orang yang tidak rela makanan lezat yang sudah dimakannya keluar kembali dari lubang pembuangan akhir.
Bahkan, mengungkit-ungkit, “Tadi saya makan steak seharga lima ratus ribu, sayang sekali kalau harus dikeluarkan lagi setelah dicerna,” adalah hal yang jarang dilakukan.
Biasanya orang akan segera melupakan apa yang baru saja dikeluarkan di WC, merasa lega, dan tidak memikirkannya lagi.
Oleh karena itu, lakukanlah amalan dengan cara yang sama. Tidak perlu mengingat-ingat atau mengungkit-ungkit apa yang sudah terjadi.
- Tak Menganggap Amalan Kita Memenuhi Standar
Langkah selanjutnya dalam melupakan amalan adalah dengan menganggap bahwa amalan yang kita lakukan belum mencapai standar yang memadai, sehingga kita tidak akan mengingatnya.
Contohnya, seseorang mungkin berwakaf seratus juta, namun dia merasa itu mungkin saja dianggap kecil oleh Allah karena harganya tidak sebanding dengan mobil atau rumahnya. Dia berharap Allah memberinya kemampuan untuk berwakaf lebih banyak lagi.
Atau, seseorang yang sudah mulai rutin melakukan Tahajud, tetapi merasa bahwa Allah mungkin tidak menerima salatnya karena selalu dilakukan sambil mengantuk. Dia merasa perlu belajar agar bisa lebih khusyuk dalam Tahajud.
Orang yang merasa amalannya sudah memenuhi standar kebaikan dan yakin diterima oleh Allah, bisa jatuh ke dalam sikap membanggakan diri. Akibatnya, amalan sebesar apapun bisa menjadi tak bernilai di mata Allah.
- Memperbanyak Beramal
Orang yang memiliki sedikit amalan cenderung mengingat-ingat amalannya tersebut. Oleh karena itu, mari kita banyak beramal agar kita lupa dengan amalan-amalan yang pernah kita lakukan.





