Membenci Produk LN

Kecintaan pada suatu produk akan muncul sendiri jika memenuhi preferensi pembeli, harga dan mutu bersaing serta memenuhi selera pembeli.

SERUAN Presiden Joko Widodo agar masyarakat kembali menggaungkan cinta produk anak bangsa untuk mendorong industri dalam negeri menuai kontroversi karena ia juga meminta masyarakat membenci produk asing.

“Tidak hanya cinta pada produk dalam negeri yang harus dikumandangkan, tetapi juga benci pada produk luar negeri, “ tandas Jokowi dalam pidatonya pada pembukaan Rapat Kemendag ’21 di Jakarta, 5 Maret lalu.

Ketua Apindo Hariadi Sukamdani menyebutkan, preferensi pengguna suatu produk di mana saja, umumnya tergantung dari faktor harga, kualitas produk dan juga selera konsumen.

Yang ia maksudkan, orang yang memiliki uang pas-pasan akan menentukan pilihannya pada produk yang lebih murah harganya, sebaliknya calon pembeli berduit akan memilih produk berkualitas walau harganya lebih mahal.

Selain itu, selera konsumen juga ikut menentukan, misalnya preferensi terhadap warna, tampilan, ergonomi dan faktor keamanan atau kenyamanan saat suatu produk digunakan.

Sementara Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Dani Amrul Ichdan mengemukakan, seruan untuk “Membenci Produk Asing” hanyalah soal  pemilihan diksi yang tujuannya sebagai penyemangat pada masyarakat untuk mencintai produk dalam negeri.

Namun di tengah rendahnya literasi masyarakat, agaknya ucapan semacam itu tidak perlu disampaikan di forum-forum terbuka, karena bisa menimbulkan misleading, juga jadi santapan yang segera disambar para hoakers atau lawan-lawan politik presiden Jokowi.

Seruan untuk “membenci produk asing” seharusnya disampaikan dalam acara-acara tertutup, karena di tengah globalisasi yang ditandai kerjasa dan kemitraan hal itu bisa menuai reaksi pihak lain.

Bayangkan saja, kalau tiap negara meminta rakyatnya untuk mengkampanyekan anti produk negara atau bangsa lain. Hal ini tentu akan mendistorsi praktek perdagangan internasional.

Boikot-memboikot semacam itu biasanya hanya dilakukan dalam keadaan perang atau bersifat politis.

Dibanjiri Produk Luar Negeri

Dalam prakteknya, produk-produk negara maju seperti dari China, Jepang,  AS atau negara-negara Uni Eropa membanjiri negara-negara berkembang termasuk Indonesia, apalagi negara-negara miskin.

Penyebabnya, karena mereka  mampu membuat produk yang berkualitas, yang murah atau disuaikan dengan selera dan daya beli calon konsumen. Semua bisa diatur berkat keunggulan teknologi, inovasi dan kreasi  yang mereka miliki.

Tanpa seruan untuk mencintai produk dalam negeri dan membenci produk luar negeri, konsumen dan produsen di negara-negara maju sudah sama-sama paham apa yang harus dibeli dan yan diproduksi.

Mendorong produk dalam negeri tidak ada salahnya, tetapi kecintaan akan tercipta sendiri jika memang produk yang dihasilkan memiliki daya saing dan memenuhi apa yang dimaui calon pembeli.

Jadi yang perlu didorong, adalah kegiatan riset untuk menciptakan kreasi dan inovasi baru, memiliki daya saing tinggi, baik biaya produksi mau pun mutu, juga tak kalah pentingnya, peran pemerintah di bidang regulasi dan penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan.

Dan yang tidak kalah pentingnya, walau sulit dilakuan di negeri ini, memangkas ekonomi biaya tinggi, khususnya praktek pungutan liar dan pungli.

Jika semua teratasi, kecintaan terhadap produk Indonesia akan tercipta sendiri, tidak hanya hanya dari dalam negeri, tetapi dicari para konsumen dari luar negeri.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement